COVID-19
15 Juni 2020

Kontroversi Kumur Pakai Betadine (Providone-Iodine) Bisa Membunuh 99,99% Virus

Kabar terbaru datang dari para ilmuwan dan peneliti di Duke-National University of Singapore.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Lolita
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Hingga kini beragam upaya masih terus dilakukan untuk membasmi penyebaran Covid-19. Mulai dari menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, jaga jarak, hingga berdiam diri di rumah. Upaya untuk menciptakan vaksin Covid-19 pun terus mengalami perkembangan yang baik, meskipun hingga kini belum dipastikan kapan vaksin tersebut selesai dibuat dan diedarkan.

Kini, kabar terbaru datang dari para ilmuwan dan peneliti di Duke-National University of Singapore yakni Povidone-iodine demonstrates rapid in-vitro virucidal activity against SARS-CoV-2, the virus causing COVID-19 disease. Hasil penelitian membuktikan bahwa berkumur selama 30 detik menggunakan Povidone-Iodine (PVP-I) mampu membunuh virus SARS Cov-2, penyebab Covid-19, hingga 99,99%.

Baca Juga:4 Alasan Vaksin COVID-19 Belum Ditemukan

Pengertian Povidone-iodine (PVP-I)

perbedaan kegunaan antiseptik luka berbentuk larutan, spray, dan salep hero

Foto: Orami Photo Stocks

Povidone-iodine (PVP-I) adalah produk antiseptik yang kerap digunakan dalam praktik kedokteran sebagai scrub bedah yakni sebagai pembersih kulit sebelum dan sesudah operasi.

Selain itu, produk ini juga umumnya digunakan untuk mencegah infeksi pada luka bakar. Dalam hal ini, Betadine menjadi merek paling yang paling banyak digunakan oleh masyarakat maupun tenaga medis untuk merawat dan membersihkan luka.

Baca Juga: Jangan Panik, Mayoritas Kasus Virus Corona COVID-19 Ringan dan Bisa Disembuhkan

Kontroversi Povidone-iodine (PVP-I) dalam Membasmi Covid-19

antiseptik yang membuat luka perih hero

Foto: Orami Photo Stocks

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Duke-National University of Singapore tersebut tentu menjadi angin segar untuk ilmuwan dan tenaga medis di seluruh dunia. Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Tri Hesty Widyastoeti, mengungkapkan keterbukaannya pada penemuan baru yang berdampak baik bagi kesehatan masyarakat di tengah penyebaran wabah Covid-19 dan tak menolak jika PVP-I Betadine digunakan sebagai alternatif dalam menangani Covid-19.

Bahkan kini, Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) telah mengusulkan penggunaan PVIP-I dan Nasal Spray untuk masuk dalam prosedur tetap di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet, untuk mencegah infeksi silang pada tenaga medis yang sedang bertugas.

Lebih lanjut, Director of Medical Affairs Mundipharma Healthcare Asia Pacific, Latin America, and Middle East Africa, Harsha Arumugam, menyatakan ada empat produk Betadine yang mengandung PVP-I yakni Betadine Antiseptic Solution (konsentrasi PVP-I 10%), Betadine Antiseptic Skin Cleanser (konsentrasi PVP-I 7,5%), Betadine Mouthwash dan Betadine Gargle (konsentrasi PVP-I 1%) yang mampu membunuh virus SARS CoV-2 hingga 99,99%.

Baca Juga: Betadine Soccer Camp, Belajar Sepak Bola Langsung dari Pelatih Manchester City

Pernyataan pendukung juga tertera pada penelitian yang dipublikasikan oleh Infectious Diseases and Therapy berjudul In Vitro Bactericidal and Virucidal Efficacy of Povidone-Iodine Gargle/Mouthwash Against Respiratory and Oral Tract Pathogens, dijelaskan bahwa obat kumur yang mengandung PVT-1 kemudian diencerkan dengan perbandingan 1:30 atau setara dengan konsentrasi PVP-1 0,23% menunjukan adanya aktivitas bakterisidal terhadap Klebsiella pneumoniae dan Streptococcus pneumoniae yang bisa dengan cepat membunuh virus SARS-CoV, MERS-CoV dan virus influenza A (H1n1) setelah 15 detik terpapar oleh obat kumur tersebut.

Selain menjaga kesehatan mulut, PVP-1 ini juga berfungsi untuk mengurangi risiko penyebaran Covid-19 melalui hidung dengan membersihkan orofaring pelindung dan mengurangi risiko tinggi terpapar patogen pada pernapasan.

Tentunya, penemuan ini diharapkan bisa memberikan perlindungan ekstra kepada masyarakat dan tenaga medis sekaligus sebagai upaya agar terhindar dari risiko penularan Covid-19.

Artikel Terkait