KESEHATAN
19 Juli 2019

Kontroversi Tidur dengan Mulut Diplester ala Andien, Ini Pendapat Ahli!

Praktisi Buteyko bahkan tidak menyarankan untuk dilakukan pada anak di bawah 5 tahun

Sumber: Instagram.com/teamkawa

Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Penyanyi Andien Aisyah kembali menjadi pembicaraan publik, setelah dirinya mengunggah cerita di Instagram Story tentang bernapas, dan menunjukkan foto dirinya, Ippe, dan Kawa menutup mulut mereka dengan selotip.

Andien menjelaskan tentang teknik bernapas Buteyko, yang merupakan cara bernapas lewat hidung, salah satunya dengan menutup mulut saat tidur.

Menurut Andien, teknik Buteyko ini telah membantunya tidur lebih nyenyak, tidak lagi memiliki tenggorokan kering, dan menghilangkan bau mulut.

Apa yang dilakukan Andien ini mencuri perhatian warganet, termasuk bagi beberapa pakar, yang turut mengomentari teknik Buteyko ini. Seperti apa pendapat para ahli ini? Yuk simak ulasannya di bawah ini Moms!

Apa Itu Teknik Buteyko?

buteyko-4.jpg

Mengutip dari BBC, teknik Buteyko pertama kali dikembangkan pada 1950-an oleh dokter Soviet dengan nama yang sama, Konstantin Pavlovich Buteyko.

Buteyko percaya bahwa kondisi pernapasan, khususnya asma, dapat dikaitkan dengan cara orang bernapas. Selain itu, dia juga memahami bahwa jika pasien diajarkan untuk bernapas dengan benar, melalui hidung mereka, masalah paru-paru akan hilang.

Meminjam teknik yoga, ia mengembangkan metode pernapasan terkontrol Buteyko, yang dilakukan oleh orang-orang lain di seluruh dunia.

Hampir tujuh dekade kemudian, terapi alternatif ini tetap populer. Para praktisi Buteyko di seluruh dunia sekarang memuji manfaat latihan pernapasan dan menutup mulut untuk tidur.

Baca Juga: Begini 4 Cara Andien Melatih Motorik Kawa, Bisa Dicoba!

Apakah Buteyko Berbahaya?

buteyko-3.jpg

Terlepas dari efek baik yang dirasakan oleh Andien dan anggota keluarganya, penting untuk memahami jika teknik ini memiliki dampak yang berisiko, terutama untuk anak-anak.

Dr. Kathleen Yaremchuk, ahli bedah dan spesialis tidur THT senior di Detroit mengatakan, "Saya mengerti mengapa lebih baik bernapas melalui hidung, tetapi kebanyakan orang tidak membuka mulut kecuali mereka kesulitan bernafas melalui hidung," mengutip BBC.

Dokter Gigi Anak Brawijaya Child and Women Clinic, Bandung, drg Rizka Aulia Zaim, Sp.KGA, menjelaskan bahwa ada abnormalitas bila seseorang bernapas dengan mulut dan perlu dicari tahu penyebabnya.

"Bernapas sudah otomatis dilakukan dari hidung, tetapi tetap ada yang bernapas dari mulut, itu karena ada abnormalitas. Kita harus cari tahu dahulu apa penyebabnya," jelas dokter Rizka.

Lebih lanjut, ia menjelaskan beberapa kemungkinan orang-orang termasuk anak bernapas lewat mulut.

"Kemungkinan besar bisa ada anomali anatomi saluran pernapasan, atau ada penyakit lain, seperti terkena flu. Sebagai respon tubuh agar bertahan hidup, otomatis dengan bernapas lewat mulut. Kenapa orang bisa mengorok? Karena ada sesuatu yang mengganggu saluran pernapasannya," tambahnya lagi.

Menurut drg Rizka, kelainan bernapas lewat mulut juga dapat diketahui pertama kali oleh dokter gigi. Seseorang yang bernapas lewat mulut akan punya struktur rahang yang berbeda sebagai dampak dari udara yang masuk lewat mulut.

"Karena ini juga, penting untuk mengajak anak ke dokter gigi sedini mungkin. Jika terdiagnosis sejak dini, penanganan pun bisa segera dilakukan sebelum menimbulkan dampak yang lebih besar," terangnya.

Jika seseorang memang sudah dicurigai bernapas lewat mulut, sebaiknya langsung temui dokter gigi dan dokter spesialis THT bersamaan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

"Ketika diperiksakan itu akan dicari penyebabnya. Jika memang diagnosisnya benapas lewat mulut, akan ada terapi juga yang perlu dilakukan. Bukan dengan cara menutup mulut pakai plester saat tidur," ungkap dia.

Baca Juga: Terapi Kesehatan untuk Pernapasan Si Kecil

Bahaya Buteyko untuk Anak

buteyko-2-1.jpg

Foto: instagram.com/teamkawa

Dokter Spesialis Anak RSPI Bintaro Jaya, dr Caessar Pronocitro M.Sc Sp.A, menjelaskan bagaimana dengan penerapan teknik Buteyko dari sisi medis, pada unggahan di Instagram-nya.

"Kebiasaan bernapas lewat mulut (yang umumnya disertai mengorok atau mengiler) memang dapat disebabkan rhinitis alergi, pembesaran kelenjar amandel, atau kelainan sekat hidung. Maka, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari penyebabnya," tulisnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, "Tapi, bukan berarti anak yang sehat harus menjalani metode-metode tertentu untuk mencegahnya, apalagi bila belum terbukti secara medis, karena justru berpotensi bahaya, misalnya menghalangi saluran nafas saat hidung sedang tersumbat ataupun saat muntah."

Bahkan, Patrick McKeown, pendiri International Buteyko Clinic mengatakan bahwa ia sama sekali tidak merekomendasikan bila Buteyko dilakukan pada anak-anak.

"Untuk anak-anak kecil, paling awal dilakukan (Buteyko) itu mungkin berusia lima tahun, tetapi kita tidak menempelkan selotip itu langsung di atas bibir," jelas Patrick.

Profesor Nirmal Kumar, otolaryngologist dan presiden organisasi medis Inggris ENT UK menambahkan bahwa anak-anak juga dapat mengalami kesulitan bernapas yang lebih besar jika dilakukan melalui hidung mereka.

"Dalam keadaan darurat, kebanyakan orang dewasa bisa bangun dan merobek selotip itu, tetapi anak-anak tidak bisa," jelasnya.

"Ada masalah pada saluran hidung anak-anak yang dapat menyebabkan penyumbatan, seperti gondok atau hidung tersumbat biasa. Dalam kasus ini, mereka harus bernapas melalui mulut, atau mereka akan meninggal," tambah Prof. Kumar.

Tidak jauh beda, drg Rizka mengatakan teknik Buteyko ini tidak tepat bila dilakukan sembarangan, ia menyarankan untuk berkonsultasi dan memeriksakan diri terlebih dahulu ke dokter spesialis THT.

"Memplester mulut saat tidur tidak bisa dilakukan oleh masyarakat awam sembarangan tanpa pemeriksaan ke dokter THT sebelumnya, karena bisa berisiko kematian," terangnya.

Baca Juga: Begini Tips Andien Saat Membawa Anak ke Tempat Kerja

Karenanya, bila Moms atau Si Kecil mendengkur atau mengalami masalah pernapasan lainnya, disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli medis agar menerima perawatan yang tepat.

Artikel Terkait