TRIMESTER 1
22 September 2020

Kram Saat Hamil, Kapan Harus Waspada?

Waspada jika kram berlangsung lama dan disertai bercak darah
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Amelia Puteri

Kram perut bisa terjadi pada setiap trimester kehamilan. Bagi Moms yang baru mengandung anak pertama, kram kerap kali menimbulkan rasa cemas.

Moms mungkin bertanya-tanya apakah kram saat hamil itu hanya peregangan dan pertumbuhan rahim yang normal atau justru ada masalah pada kehamilan sebagai tanda keguguran?

Direktur Medis Sentara Lee Hospital Group for Women in Norfolk, Virginia, Holly Puritz, M.D., menjelaskan bahwa sebagian besar kram saat hamil tidak berbahaya, sebab kram merupakan rasa rahim memberikan respons.

Artinya, setiap saat rahim mendapatkan stimulasi seperti kandung kemih penuh, olahraga yang terlalu semangat maka respons alaminya adalah kontraksi.

"Rahim adalah otot dan satu-satunya hal yang diketahui otot adalah kontraksi. Kontraksi terasa seperti kram," jelasnya.

Meski dalam kebanyakan kasus kram saat hamil adalah hal yang normal, Moms juga perlu mencari tahu kapan kram saat hamil merupakan tanda adanya masalah.

Baca Juga: Kenapa Kram Perut pada Masa Hamil? Simak Penjelasannya di Sini

Kram Saat Hamil yang Normal

kram saat hamil

Foto: americanpregnancy.org

Menurut American Pregnancy Association, selama trimester pertama, kram saat hamil pada perut sering kali diakibatkan oleh perubahan normal yang terjadi selama perkembangan bayi.

Sensasi kram ini, umumnya dapat digambarkan sebagai sensasi menarik di satu atau kedua sisi perut. Dalam kebanyakan kasus, kram saat hamil adalah hal yang normal.

Kram biasanya terjadi saat rahim mengembang, menyebabkan ligamen dan otot yang mendukungnya meregang. Ini mungkin lebih terasa saat bersin, batuk, atau mengubah posisi.

Selama trimester kedua, penyebab umum kram saat hamil adalah nyeri ligamen bundar. Ligamen bundar adalah otot yang menopang rahim, dan saat meregang, Moms mungkin merasakan nyeri yang menusuk tajam, atau nyeri tumpul di perut bagian bawah.

Kram saat hamil yang relatif kecil dan terjadi sesekali mungkin tidak perlu dikhawatirkan.

Selain itu, jika Moms dan Dads usai berhubungan seksual kemudian terjadi kram, maka itu adalah sesuatu yang normal. Hal tersebut disebabkan karena air mani mengandung prostaglandin yang merangsang rahim.

"Hubungan seksual adalah salah satu penyebab paling umum dari kram. Tidak apa-apa untuk melakukan hubungan seks, tetapi kadang-kadang ibu akan merasakan kontraksi yang cukup kuat," kata Dr Puritz.

Pada trimester pertama, tubuh sedang mempersiapkan bayi yang sedang tumbuh. Perubahan tersebut juga dapat menyebabkan kram yang dianggap normal. Biasanya ringan dan sementara.

Bagi sebagian wanita, kram adalah tanda pertama bahwa mereka hamil, hal itu terjadi ketika telur yang sudah dibuahi masuk ke dinding rahim. Kondisi tersebut disebut kram implantasi dan bisa terasa seperti nyeri haid.

Chad Klauser, M.D., asisten klinis profesor kebidanan dan kandungan Mount Sinai School of Medicine, New York City menambahkan, pertumbuhan rahim yang cepat dalam dua trimester pertama kehamilan juga dapat menyebabkan kram. Perubahan kadar hormon dapat menyebabkan peningkatan gas, kembung, dan sembelit.

"Mayoritas kehamilan akan mengalami sedikit kram ringan selama 16 minggu pertama," kata Dr. Klauser.

Lalu, gejala kram saat hamil seperti apa yang sebaiknya perlu diwaspadai?

Baca Juga: Kram saat Hamil, Berbahayakah?

Kram Saat Hamil yang Perlu Diwaspadai

kram saat hamil

Foto: parents.com

Jika Moms mengalami kram saat hamil dengan enam atau lebih kontraksi dalam satu jam, maka perlu waspada. Hal tersebut yang bisa menjadi tanda persalinan prematur.

Kram parah yang diiringi dengan sakit kepala ringan atau pendarahan (terutama jika belum memastikan kehamilan dengan USG), bisa menjadi tanda kehamilan ektopik.

Dalam jurnal American Academy of Family Physicians (AAFP), kehamilan ektopik hanya terjadi pada kurang dari 2 persen ibu hamil. Pendarahan juga bisa merupakan gejala keguguran atau plasenta previa, suatu kondisi di mana plasenta menutupi serviks.

Kram saat hamil yang parah dan disertai dengan keluarnya bercak darah warna pink juga merupakan tanda serius persalinan prematur atau keguguran, karena itu bisa berarti panjang serviks berubah.

Selain itu, preeklamsia yang ditandai dengan tekanan darah tinggi bersama dengan protein dalam urin dapat menyebabkan nyeri hebat di perut bagian atas.

Baca Juga: Catat, Begini Cara Membedakan Kram Perut Menstruasi dengan Tanda Awal Kehamilan

Jenis Kram Saat Hamil yang Perlu Diwaspadai

jenis kram saat hamil yang diwaspadai

Foto: Orami Photo Stock

Sakit perut (perut) atau kram saat hamil sering terjadi. Biasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tetapi terkadang bisa menjadi tanda sesuatu yang lebih serius yang perlu diperiksa.

Mengutip National Health Service (NHS), kondisi yang bisa menyebabkan sakit perut dan perlu segera diperiksa antara lain:

1. Kehamilan Ektopik

Jenis kram saat hamil yang perlu diwaspadai adalah kehamilan ektopik. Kehamilan ektopik adalah saat sel telur yang telah dibuahi ditanamkan di luar rahim, misalnya di tuba falopi. Kehamilan tidak bisa bertahan dan perlu diangkat dengan obat atau operasi.

Gejala biasanya muncul antara 4 dan 12 minggu kehamilan dan dapat meliputi sakit perut dan pendarahan, nyeri di ujung bahu, ketidaknyamanan saat buang air kecil atau kencing.

2. Keguguran

Nyeri kram saat hamil dan pendarahan sebelum 24 minggu kehamilan terkadang bisa menjadi tanda keguguran atau terancam keguguran (saat mengeluarkan darah tetapi kehamilan biasanya berlanjut).

3. Preeklamsia

Nyeri tepat di bawah tulang rusuk biasa terjadi pada kehamilan selanjutnya karena bayi yang sedang tumbuh dan rahim mendorong ke bawah tulang rusuk.

Tetapi jika nyeri kram saat hamil ini parah atau terus menerus, terutama di sisi kanan, itu bisa menjadi tanda preeklamsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan) yang menyerang beberapa ibu hamil. Biasanya dimulai setelah 20 minggu atau tepat setelah bayi lahir.

Gejala preeklamsia lainnya meliputi sakit kepala parah, masalah penglihatan, kaki, tangan dan wajah bengkak, dan Moms harus dipantau di rumah sakit.

4. Persalinan Prematur

Jika Moms hamil kurang dari 37 minggu dan mengalami kram saat hamil pada perut atau sesak, hubungi dokter atau bidan segera. Ini bisa menjadi tanda persalinan prematur, dan Moms harus dipantau di rumah sakit.

5. Solusio Plasenta

Kram saat hamil bisa menjadi pertanda kondisi solusio plasenta. Ini terjadi ketika plasenta mulai keluar dari dinding rahim, biasanya menyebabkan perdarahan dan nyeri hebat terus-menerus yang tidak datang dan pergi seperti nyeri kontraksi.

Terkadang keadaan darurat karena itu berarti plasenta mungkin tidak dapat menopang bayi dengan baik. Sehingga, sang ibu harus pergi ke rumah sakit agar dirinya dan bayi dapat diperiksa.

6. Infeksi Saluran Kemih

Infeksi Saluran Kemih atau ISK sering terjadi pada wanita hamil dan biasanya dapat diobati dengan mudah. Mereka dapat menyebabkan sakit perut dan terkadang, tetapi tidak selalu, sakit saat buang air kecil.

Nah, itulah informasi penting mengenai kram saat hamil. Jika rasa sakit tidak membaik atau meski Moms mengubah posisi duduk/berbaring tidak juga kunjung reda maka sebaiknya mendatangi pusat kesehatan terdekat. Semoga bermanfaat.

Artikel Terkait