PARENTING
3 September 2019

Kunci Keberhasilan Toilet Training: Sabar, Konsisten, dan Kerja Sama

Orang tua sempat mengganti jenis popok sekali pakai yang membuat iritasi kulit Abang
Artikel ditulis oleh Amelia
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Maretha (27 th), Ibu dari Aslan El Saki (2 th, 11 bln), Momin WAG Orami Toddler 1-6

Di zaman sekarang ini, sudah banyak orang tua memakaikan popok sekali pakai kepada bayi mereka yang baru lahir. Berbeda dengan orang tua dahulu yang masih menggunakan popok kain sebagai alas pakaian dalam buah hatinya.

Meskipun saat ini masih tersedia popok kain di toko khusus peralatan bayi, tetapi pemilihan popok sekali pakai tidak elak menjadi pilihan utama Moms.

Alih-alih kulit dapat iritasi, Moms bisa menggunakan obat krim untuk menjaga kulit bayi tetap aman tanpa mengalami iritasi.

Kembali ke Kantor Usai Cuti Hamil, Popok Kain Harus Tergantikan

Mudahnya mengajarkan Toilet Training-2.jpg

Foto: Orami/Maretha

Tidak semua orang tua generasi kakek dan nenek akan merekomendasikan penggunaan popok kain untuk cucunya. Ada saja yang menyarankan untuk menggunakan popok sekali pakai, dan hal ini terjadi pada kelahiran anak pertama saya saat itu.

Saat masih hamil, saya sudah menyiapkan popok kain. Tak tanggung-tanggung, 3 lusin sudah saya persiapkan karena saya berpikir tidak ingin anak memiliki iritasi kulit akibat penggunaan popok sekali pakai.

Ketika masih cuti melahirkan, saya merawat anak sendiri dan bisa menerapkan penggunaan popok kain. Meskipun harus rajin mencuci karena jika disimpan akan sulit untuk menghilangkan noda di popok kain tersebut.

Waktu terus berlalu dan tak terasa masa cuti melahirkan saya sudah hampir habis. Artinya, rutinitas pekerjaan akan mulai kembali saya jalani.

Sedih rasanya ketika harus meninggalkan anak yang masih bayi di rumah bersama orang lain, meskipun ia diasuh bersama kakek dan neneknya.

Kembali bekerja, berarti saya juga harus menyiapkan beberapa perlengkapan di rumah orang tua, agar anak tetap nyaman saat dititipkan.

Stok ASIP sudah mencukupi, peralatan bayi, mainan bayi, semua hal yang bersangkutan dengan anak sudah saya siapkan. Tapi, ada satu hal permintaan orang tua, yaitu mengganti penggunaan popok kain menjadi popok sekali pakai.

Mereka beralasan karena akan repot jika harus sering menggantikan popok kain. Akhirnya, saya mengalah dan menyiapkan popok sekali pakai.

Baca Juga: Tips Pintar jadi Orang Tua Baru Zaman Now

Popok Sekali Pakai Praktis, Tapi Tetap Berisiko Bagi Si Kecil

Mudahnya mengajarkan Toilet Training-1.jpg

Foto: Orami/Maretha

Praktis dan efektif, itulah pemikiran saya setelah anak sudah terbiasa menggunakan popok sekali pakai.

Namun, kala itu anak juga mengalami iritasi kulit. Seluruh kulit bagian testisnya seperti melepuh dan bentol-bentol. Rupanya, ada kesalahan saat memakaikan jenis popoknya.

Biasanya Abang-begitulah kami memanggil putra pertama kami, menggunakan popok perekat ‘Gold’, tapi kali ini dipakaikan popok celana ‘biasa’.

Ketika ditanya mengapa jenisnya diganti, mereka mengatakan karena ribet menggunakan perekat dan memutuskan untuk membeli popok celana tanpa sepengetahuan saya.

Dari pemberian salep yang dapat dibeli di apotek hingga harus ke dokter kulit, saya dan suami berusaha menyembuhkan iritasi kulit yang kondisinya semakin parah dari hari ke hari.

Setelah menjalani pengobatan rutin di rumah selama hampir 2 bulan, testis Abang kembali normal. Kami sangat bersyukur dengan kondisinya yang sudah kembali pulih.

Semenjak kejadian tersebut, saya dan suami lebih berhati-hati saat memilih popok, dan kami selalu mengingatkan saudara yang lain untuk tidak sembarang memakaikan popok kepada abang.

Baca Juga: Mengalah Bukan untuk Menyerah, Bayi Saya Minum Susu Formula

Saatnya Toilet Training dengan Abang!

Mudahnya mengajarkan Toilet Training-4.jpg

Foto: Orami/Maretha

Penggunaan popok sekali pakai terus digunakan hingga usia anak saya 2 tahun. Hingga saya berpikir, sampai kapan ia harus terus memakai popok. Apalagi, nanti juga ada kehadiran seorang adik, dan tentu saja akan menambah anggaran popok dua kali lipat.

Kemudian, terbesit niat di hati untuk mengajarkan Abang lepas dari penggunaan popok.

Sebagai permulaan, setiap hari saya ajarkan untuk bicara jika ia hendak buang air besar atau buang air kecil, hingga pengucapannya dilakukan dengan lancar. Saya pun yakin untuk memulai toilet training pada anak.

Pagi hari setelah mandi, seperti biasa ia dibaluri minyak telon dan bedak ditubuhnya kemudian dipakaikan baju. Hingga ia mulai mengenakan celana dalam ketimbang popok.

Saya bertanya kepadanya, "Sekarang abang kalo pipis di mana?", dan dengan tegas dia menjawab, "Di kamar mandi".

Pada satu jam pertama, ia bisa mengutarakan keinginannya untuk buang air kecil. Saya pun merasa berhasil dan girang akan hal ini.

Namun, kegirangan hanya berjalan sementara, siang hari dia lupa, dan langsung pipis di lantai. Dengan sabar, saya mengatakan kembali kepadanya jika hendak buang air kecil, ia perlu melakukan kamar mandi.

Sejak kejadian pipis di lantai, setiap 2 jam sekali atau usai minum, saya langsung mengajak Abang ke kamar mandi. Hari pertama percobaan masih belum berhasil sepenuhnya. Tetapi, hal ini tidak membuat saya merasa menyerah.

Hingga saya berpikir, sepertinya harus ada hal menarik yang membuat dia agar ingat buang air kecil di kamar mandi.

Saya mulai mencari tentang cerita-cerita pengalaman Moms lain mengenai toilet training. Hasil dari membaca ini, saya menemukan Pee Trainer berbentuk pot kecil untuk mengajari anak toilet training.

Saya pun segera mencari Pee Trainer yang diinginkan, dan membelinya sebagai proses latihan toilet training Abang.

Baca Juga: Barang Preloved untuk Si Kecil? Enggak Masalah!

Kunci Berhasilnya Toilet Training: Sabar, Konsisten, dan Kerjasama

Mudahnya mengajarkan Toilet Training-3.jpg

Foto: Orami/Maretha

Segera setelah mendapatkan Pee Trainer, saya tunjukkan kepada Abang, dan dia tertarik melihat bentuknya. Suami juga turut mengajarkan bagaimana cara menggunakan Pee Trainer dan dipraktekkan langsung oleh Abang.

Benar saja, setiap hendak buang air kecil, ia teringat Pee Trainer tersebut dan minta pipis ke kamar mandi. Semua berjalan begitu cepat dan tanpa kesulitan yang memberatkan.

Kini, anak kami tidak lagi menggunakan popok. Abang sudah bisa buang air kecil dan besar di kamar mandi.

Saya merasa, kunci utama dalam mengajarkan toilet training kepada anak adalah kesabaran dan konsisten untuk memberi tahu setiap hari sebelum memulai, dan sabar saat anak tidak berhasil buang air di kamar mandi.

Bagi saya, perlengkapan hanyalah properti agar anak lebih semangat dalam melakukan pembelajaran. Kerjasama antara Moms dan Dads saat mengajarkan anak toilet training juga sangat diperlukan, lho!

Artikel Terkait