KEHAMILAN
5 April 2020

Makrosomia Dalam Kehamilan, Ini Hal yang Perlu Moms Ketahui

Tak sedikit kehamilan dengan berat badan bayi yang besar atau makrosomia, lalu apa penyebab dan gejala makrosomia yang harus Moms ketahui?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Phanie Fauziah
Disunting oleh Dina Vionetta

Janin dalam kandungan dalam beberapa kasus berpotensi mengalami kelebihan bobot.

Makrosomia merupakan istilah yang menggambarkan bayi yang lahir jauh lebih besar dibandingkan dengan rata-rata usia kehamilan.

Bagi wanita hamil sangat perlu untuk mengetahui lebih jauh mengenai makrosomia.

Berikut ini penyebab, gejala, dan risiko makrosomia dalam kehamilan.

Penyebab Makrosomia Dalam Kehamilan

Makrosomia Dalam Kehamilan 2.jpg

Foto: healthline.com

Menurut Winchester Hospital, makrosomia dapat disebabkan oleh faktor genetik serta kondisi ibu, seperti obesitas atau diabetes.

Pemicu makrosomia bisa disebabkan memiliki gula darah yang cukup tinggi.

Bisanya kondisi ini berasal dari wanita hamil yang tidak dapat mengontrol makanan manis atau karbohidrat.

Selanjutnya wanita yang sebelum hamil sudah mengalami obesitas akan menjadi salah satu pemicu makrosomia.

Bagi ibu hamil yang tidak dapat menjaga berat badan perlu diwaspadai.

Biasanya ibu hamil yang mengalami makrosomia melalui masa kehamilan lebih lama dari waktu yang sudah ditentukan.

Baca Juga: Bisa Sebabkan Obesitas, Ini Bahaya MPASI Dini Pada Bayi

Gejala Makrosomia Dalam Kehamilan

Makrosomia Dalam Kehamilan.jpg

Foto: babycentre.co.uk

Makrosomia dalam kehamilan menjadi salah satu masalah kesehatan yang sulit dideteksi dan didiagnosis selama kehamilan.

Maka dari itu, ibu hamil perlu mengetahui tanda dan gejala apa yang biasa terjadi.

Selama kunjungan prenatal, dokter akan mengukur tinggi fundus atau jarak dari bagian atas rahim ke tulang kemaluan.

Ketinggian fundus yang lebih besar, dapat menjadi salah satu pertanda bahwa bayi yang sedang dikandung mengalami tanda makrosomia janin.

Selain tinggi fundus, terlalu banyak ketuban atau cairan yang mengelilingi dan melindungi bayi selama kehamilan.

Baca Juga: Ini yang Harus Kita Lakukan Saat Berat Badan Janin Berlebihan

Risiko Makrosomia dalam Kehamilan

Makrosomia Dalam Kehamilan 3.jpg

Foto: bowlfordiabetes.ca

Dilansir dari American College of Obstetricians and Gynecologists, risiko yang biasa terjadi saat mengalami makrosomia dalam kehamilan, ibu akan mengalami persalinan yang sulit.

Bayi juga berpotensi cedera saat lahir, yang paling sering dialami adalah distosia bahu.

Makrosomia dapat menyebabkan bayi terjepit selama proses persalinan, mengalami cacat lahir, atau memerlukan penggunaan forsep atau alat vakum selama persalinan.

Makrosomia dalam kehamilan dapat menyebabkan bayi melukai jalan lahir atau merobek jaringan vagina dan otot-otot antara vagina dan anus.

Pendarahan setelah melahirkan juga dapat terjadi, karena makrosomia meningkatkan risiko otot-otot rahim hingga tidak berkontraksi dengan benar setelah persalinan.

Sementara yang terjadi pada bayi yang lahir adalah bayi akan lahir dengan kadar gula darah yang lebih rendah, obesitas anak, dan sindrom metabolik selama masa kanak-kanak.

Kelompok kondisi sindrom metabolik ini termasuk tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kelebihan lemak di sekitar pinggang, dan kadar kolesterol abnormal.

Seiring bertambahnya usia anak, sindrom ini dapat meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung.

Saat dewasa nanti, akan akan berisiko mengalami tekanan darah tinggi dan obesitas.

Untuk mencegah kondisi seperti ini ibu hamil harus bisa mengontrol berat badan, kelola diabetes, dan melakukan aktivitas yang rutin, setidaknya melakukan pergerakan kecil secara rutin.

Ada baiknya pula jika ibu hamil banyak berkonsultasi dengan dokter, apalagi jika sudah mengalami tanda-tanda dari makrosomia.

Baca Juga: 4 Dampak Obesitas Pada Ibu Hamil Bagi Perkembangan Janin

Artikel Terkait