KEHAMILAN
31 Juli 2020

Makrosomia dalam Kehamilan, Ini Hal yang Perlu Moms Ketahui

Tak sedikit kehamilan dengan berat badan bayi yang besar atau makrosomia
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Phanie Fauziah
Disunting oleh Dina Vionetta

Janin dalam kandungan dalam beberapa kasus berpotensi mengalami kelebihan bobot.

Makrosomia merupakan istilah yang menggambarkan bayi yang lahir jauh lebih besar dibandingkan dengan rata-rata usia kehamilan.

Bagi wanita hamil sangat perlu untuk mengetahui lebih jauh mengenai makrosomia.

Berikut ini penyebab, gejala, dan risiko makrosomia dalam kehamilan.

Penyebab dan Faktor Risiko Makrosomia dalam Kehamilan

Makrosomia Dalam Kehamilan 2.jpg

Foto: healthline.com

Menurut Winchester Hospital, makrosomia dapat disebabkan oleh faktor genetik serta kondisi ibu, seperti obesitas atau diabetes.

Pemicu makrosomia bisa disebabkan memiliki gula darah yang cukup tinggi.

Bisanya kondisi ini berasal dari wanita hamil yang tidak dapat mengontrol makanan manis atau karbohidrat.

Selanjutnya wanita yang sebelum hamil sudah mengalami obesitas akan menjadi salah satu pemicu makrosomia.

Bagi ibu hamil yang tidak dapat menjaga berat badan perlu diwaspadai.

Biasanya ibu hamil yang mengalami makrosomia melalui masa kehamilan lebih lama dari waktu yang sudah ditentukan.

Yuk, simak faktor risiko makrosomia di bawah ini dikutip dari buku Fetal Macrosomia:

Baca Juga: Bayi Lahir Besar, Apa Penyebab dan Risikonya?

1. Diabetes pada Ibu

Makrosomia janin lebih mungkin terjadi jika Moms menderita diabetes sebelum kehamilan (diabetes pra-kehamilan) atau jika Anda menderita diabetes selama kehamilan (diabetes gestasional).

Jika diabetes Anda tidak terkontrol dengan baik, bayi Anda cenderung memiliki bahu yang lebih besar dan jumlah lemak tubuh yang lebih besar daripada bayi yang ibunya tidak menderita diabetes.

Baca Juga: 3 Makanan untuk Ibu Hamil dengan Diabetes Gestasional

2. Pernah Menderita Makrosomia Janin Sebelumnya

Jika sebelumnya Moms pernah melahirkan bayi yang besar, Moms berisiko lebih tinggi untuk makrosomia saat hamil lagi. Juga, jika Anda memiliki berat lebih dari 8 pound, 13 ons saat lahir, Moms cenderung memiliki bayi besar.

3. Obesitas pada Ibu.

Makrosomia janin lebih mungkin terjadi jika Moms mengalami obesitas.

4. Kehamilan Sebelumnya

Risiko makrosomia janin meningkat setiap kehamilan. Hingga kehamilan kelima, berat lahir rata-rata untuk setiap kehamilan berturut-turut biasanya meningkat hingga sekitar 4 ons (113 gram).

Baca Juga: Secondary Infertility: Kenapa Kehamilan Kedua Lebih Susah?

5. Memiliki Anak Laki-laki

Bayi laki-laki biasanya memiliki berat sedikit lebih banyak dari bayi perempuan.

Sebagian besar bayi yang beratnya lebih dari 9 pon, 15 ons (4.500 gram) adalah laki-laki.

6. Kelahiran Tertunda

Jika kehamilan Moms berlanjut lebih dari dua minggu setelah hari perkiraan lahir, bayi Moms berisiko lebih tinggi mengalami makrosomia janin.

7. Usia Ibu

Wanita yang berusia lebih dari 35 tahun lebih cenderung memiliki bayi yang didiagnosis dengan makrosomia janin.

Baca Juga: Bisa Sebabkan Obesitas, Ini Bahaya MPASI Dini Pada Bayi

Gejala Makrosomia Dalam Kehamilan

Makrosomia Dalam Kehamilan.jpg

Foto: babycentre.co.uk

Makrosomia dalam kehamilan menjadi salah satu masalah kesehatan yang sulit dideteksi dan didiagnosis selama kehamilan.

Maka dari itu, ibu hamil perlu mengetahui tanda dan gejala apa yang biasa terjadi.

Selama kunjungan prenatal, dokter akan mengukur tinggi fundus atau jarak dari bagian atas rahim ke tulang kemaluan.

Ketinggian fundus yang lebih besar, dapat menjadi salah satu pertanda bahwa bayi yang sedang dikandung mengalami tanda makrosomia janin.

Selain tinggi fundus, terlalu banyak ketuban atau cairan yang mengelilingi dan melindungi bayi selama kehamilan.

Baca Juga: Ini yang Harus Kita Lakukan Saat Berat Badan Janin Berlebihan

Risiko Makrosomia dalam Kehamilan

Makrosomia Dalam Kehamilan 3.jpg

Foto: bowlfordiabetes.ca

Dilansir dari American College of Obstetricians and Gynecologists, risiko yang biasa terjadi saat mengalami makrosomia dalam kehamilan, ibu akan mengalami persalinan yang sulit.

Bayi juga berpotensi cedera saat lahir, yang paling sering dialami adalah distosia bahu.

Makrosomia dapat menyebabkan bayi terjepit selama proses persalinan, mengalami cacat lahir, atau memerlukan penggunaan forsep atau alat vakum selama persalinan.

Makrosomia dalam kehamilan dapat menyebabkan bayi melukai jalan lahir atau merobek jaringan vagina dan otot-otot antara vagina dan anus. Sehingga, terkadang diperlukan prosedur operasi caesar.

Baca Juga: Operasi Caesar Membuat Tubuh Ibu Lemah, Mitos atau Fakta?

Pendarahan setelah melahirkan juga dapat terjadi, karena makrosomia meningkatkan risiko otot-otot rahim hingga tidak berkontraksi dengan benar setelah persalinan.

Sementara yang terjadi pada bayi yang lahir adalah bayi akan lahir dengan kadar gula darah yang lebih rendah, obesitas anak, dan sindrom metabolik selama masa kanak-kanak.

Kelompok kondisi sindrom metabolik ini termasuk tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kelebihan lemak di sekitar pinggang, dan kadar kolesterol abnormal.

Seiring bertambahnya usia anak, sindrom ini dapat meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung.

Jika bayi Moms didiagnosis menderita makrosomia janin, ia berisiko mengalami sindrom metabolik selama masa kanak-kanak.

Untuk mencegah kondisi seperti ini ibu hamil harus bisa mengontrol berat badan, kelola diabetes, dan melakukan aktivitas yang rutin, setidaknya melakukan olahraga kecil dengan rutin.

Ada baiknya pula jika ibu hamil banyak berkonsultasi dengan dokter, apalagi jika sudah mengalami tanda-tanda dari makrosomia.

Baca Juga: 4 Dampak Obesitas Pada Ibu Hamil Bagi Perkembangan Janin

Nah, itulah penjelasan mengenai makrosomia pada janin. Jadi, Moms perlu menjaga kehamilan sebaik-baiknya sehingga menurunkan risiko bayi mengalami kondisi ini, ya.

Artikel Terkait