DI ATAS 5 TAHUN
20 Maret 2019

Jangan Melulu Pentingkan Ranking Anak di Sekolah

Anak tak pernah jadi juara kelas? Mungkin dia punya bakat lain
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh fitria.rahmadianti
Disunting oleh fitria.rahmadianti

Setiap orang tua tentu ingin memiliki anak yang cerdas dan diimbangi dengan sikap baik. Tapi, Moms mungkin seringkali terlalu menekankan soal pintar dengan menuntut anak untuk mendapat ranking atau peringkat tinggi di sekolah. Padahal, itu bisa membuat anak tertekan, lho.

Pertanyaan seputar ranking bisa menyakiti perasaan anak, Moms. Memang sulit menahan untuk tidak bertanya soal peringkat. Apalagi di momen pengambilan rapor. Rasa kompetitif pasti hadir dalam diri Moms.

Baca juga: Pujian yang Tepat Pengaruhi Prestasi Anak di Sekolah

Ada hal yang harus disadari oleh Moms bahwa ranking anak di sekolah hanya berdasarkan sisi akademis. Padahal, setiap anak tercipta dengan keunikan masing-masing. Daripada Moms sibuk memikirkan soal ranking, lebih baik Moms mengamati minat dan bakat Si Kecil. Tapi jangan paksakan, biarkan tumbuh secara alami.

Robert Kiyosaki, seorang pebisnis dan motivator, pernah mengungkapkan bahwa siswa yang hebat di kelas akan berhasil bila bermain di zona nyaman. Tapi saat memasuki dunia yang sangat kompetitif, mereka tidak terlalu berarti.

Sekolah yang menggunakan sistem 'tanpa ranking' di dalam rapor dianggap sebagai sekolah ideal. Ini karena model sekolah tersebut memahami psikologi anak. Sekolah ini paham bahwa setiap anak tercipta unik dengan segala keterampilan, kelebihan, dan talenta masing-masing.

Ada banyak hal yang perlu menjadi perhatian dalam menilai anak, yaitu dilihat dari aspek spiritual, emosional, sosial, minat, dan bakat. Dalam hal ini, peran orang tua menjadi penentu.

Moms perlu belajar tentang psikologi anak. Memahami perkembangan Si Kecil dari berbagai aspek membuat Moms semakin mengerti seperti apa kepribadian yang dimilikinya. Misalnya, saat anak merasa tertekan dengan tuntutan akademis yang dibuat Moms dan Papa, Moms bisa mengganti pola asuh menjadi tidak memberatkan.

Selain itu, aspek keterampilan dalam mengelola emosi dan bersosialisasi juga tidak kalah pentingnya. Bagian ini sering diabaikan oleh orang tua karena dianggap tidak begitu berpengaruh. Keterampilan mengelola emosi dan bersosialisasi ini memang tidak diajarkan secara formal di sekolah, tetapi bisa ditanamkan dari rumah lalu diaplikasikan di sekolah, saat anak bertemu dengan teman-temannya.

(ICA)

Artikel Terkait