KESEHATAN
11 Oktober 2019

Manfaat Vaksin DPT dalam Mencegah Tetanus

Vaksin DPT diberikan saat imunisasi dasar dan lanjutan
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Moms pasti pernah mendengar bahwa tetanus terjadi akibat menginjak paku berkarat. Faktanya, bakteri di tanah, debu, dan pupuk kandang bisa membawa bakteri tetanus.

Tetanus masuk ke aliran darah melalui luka pada tubuh. Karena itu, anak-anak yang sering bermain aktif di tanah rentan terkena penyakit tersebut.

Gejala Tetanus

Gejala Tetanus (1).jpg

Foto: images.ctfassets.net

Ketika bakteri tetanus masuk ke tubuh, bakteri tersebut mengeluarkan racun yang menyebabkan kontraksi otot yang menyakitkan. Muncullah gejala yang disebut lockjaw (rahang terkunci).

Gejala awalnya berupa nyeri otot di leher dan perut yang bisa menyebabkan otot terkunci, sehingga membuat sulit bergerak dan menelan. Selain itu, penderita tetanus juga merasakan nyeri otot di sekujur tubuh, demam, berkeringat, sulit bernapas, epilepsi, dan kejang otot hebat.

Penyembuhan tetanus bisa memakan waktu berbulan-bulan dan penderitanya biasanya harus dirawat di rumah sakit. Penyakit ini bisa berakibat fatal jika tidak diatasi. Menurut situs webmd.com, diperkirakan satu dari 10 orang yang terkena tetanus meninggal dunia.

Namun, tidak perlu terlalu khawatir, Moms. Tetanus tidak menular dari manusia ke manusia, melainkan dari kontak langsung dengan sumber bakteri tetanus. Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi.

Baca Juga: Vaksin MMR Kembali Hadir di Indonesia, Kenali Manfaatnya untuk Bayi

Vaksin DPT untuk Mencegah Tetanus

Vaksin DPT untuk Mencegah Tetanus.jpg

Foto: iStock

Vaksin yang sangat efektif mencegah tetanus pada balita dikenal dengan sebutan vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus). Difteri, pertusis, dan tetanus adalah tiga penyakit mematikan yang disebabkan bakteri. Di Indonesia, vaksin DPT diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan sebagai imunisasi dasar.

Tahun lalu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengubah konsep imunisasi dasar lengkap menjadi imunisasi rutin lengkap yang terdiri dari imunisasi dasar dan lanjutan. Imunisasi dasar saja dianggap tidak cukup. Diperlukan imunisasi lanjutan untuk mempertahankan tingkat kekebalan optimal.

Jadi, vaksin DPT diberikan lagi kepada balita usia 18 bulan sebagai bagian dari imunisasi lanjutan (booster). Selain itu, karena imunitas terhadap tetanus berkurang seiring bertambahnya umur, anak kelas 1 SD memerlukan vaksin DT (tanpa pertusis), sedangkan anak kelas 2 dan 5 SD mendapatkan vaksin Td (vaksin untuk difteri dikurangi).

Baca Juga: 4 Mitos dan Fakta Seputar Vaksin MR/MMR

Vaksin DPT mengandung racun yang dihasilkan bakteri penyebab difteri, pertusis, dan tetanus dalam bentuk tidak aktif. Racun tersebut tidak lagi memproduksi penyakit, tapi memicu tubuh menciptakan antibodi yang memberikan imunitas terhadap racun tadi.

Seperti obat, vaksin memiliki efek samping. Masalah yang paling serius adalah reaksi alergi. Namun, risikonya sangat kecil, yakni 1:1 juta. Selain itu ada masalah ringan yang terjadi 1-3 hari setelah vaksin, di antaranya:

  • Demam
  • Kemerahan, bengkak, atau nyeri di tempat bekas suntikan
  • Rewel
  • Lelah
  • Muntah

Periksakan ke dokter jika anak mengalami reaksi berikut setelah mendapat vaksin DPT:

  • Kejang atau kolaps
  • Menangis nonstop selama tiga jam atau lebih
  • Demam lebih dari 400C

Baca Juga: Si Kecil Mau Disuntik Vaksin? Cek Dulu 5 Tips Berikut Ini!

Bagaimanapun, tanpa vaksin, risiko anak terkena difteri, pertusis, dan tetanus sangat tinggi. Imunisasi menjadi penting karena tak hanya melindungi anak-anak yang mendapat vaksin, tapi juga seluruh masyarakat.

Jadi, jangan lupa selalu cek jadwal imunisasi anak, ya, Moms, agar bisa mencegah tetanus.

Artikel Terkait