DI ATAS 5 TAHUN
12 Februari 2019

Marak Kasus Murid Lawan Guru, Kenapa Bisa Terjadi?

Dengan menjadi sosok yang menyenangkan bagi anak-anak, akan lebih mudah bagi mereka untuk menerima dan menghagai kehadiran seorang guru
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh mentari.delita
Disunting oleh mentari.delita

Kasus murid yang melawan guru kini semakin marak terjadi. Baru-baru saja terjadi peristiwa siswa SMP asal Gresik yang menantang gurunya di depan kelas. 

Kini peristiwa-peristiwa tersebut sudah banyak menjadi viral di media sosial. 

Agar hal ini tidak terus terjadi, sebagai orang tua kita pun harus memerhatikan apa yang menjadi penyebab anak sering melawan guru. Mari simak ulasan berikut:

1. Tidak Adanya Metode Pembelajaran yang Menyenangkan

lawan3

foto: frocknshirt.com

Proses pembelajaran di sekolah banyak membuat anak-anak merasa jenuh dan bosan.

Banyaknya metode pembelajaran bahkan adalah komunikasi satu arah, yakni saat guru hanya memberikan pelajaran tanpa membuat ruang untuk anak-anak menjadi lebih aktif.

Hal-hal yang membosankan seperti  inilah kemudian membuat anak merasa perlu melakukan sesuatu yang berbeda, salah satunya adalah dengan melawan guru.

Betsy Weigle, pemilik Classroom Caboodle dan penulis buku Achieving Classroom Confidence berpendapat bahwa komunikasi dua arah dari guru dan murid penting untuk membuat anak merasa dihargai. 

"Ketika setiap siswa mendapat giliran untuk berbicara, anak-anak lain dapat mulai berlatih mendengarkan masukan dan ide orang lain dari awal hingga selesai. Hal tersebut lebih dari sekadar menumbuhkan suasana kelas yang penuh hormat tetapi juga memperkuat hubungan antar siswa dan guru," jelasnya. 

2. Guru Tidak Menjadi Teman

lawan2

foto: theteachersdigest.com

Seorang guru bukan hanya bertugas untuk memberikan pendidikan pada anak-anak, tetapi juga harus menjadi teman.

Dengan menjadi sosok yang menyenangkan bagi anak-anak, akan lebih mudah bagi mereka untuk menerima dan menghagai kehadiran seorang guru.

Ketika sosok guru dibentuk sebagai sesuatu yang menakutkan, mereka malah akan mencoba untuk melawan.

Baca Juga: 10 Hal yang Harus Dipertimbangkan Saat Mencari Sekolah untuk Anak

3. Faktor Lingkungan di Rumah

lawan4

foto: momjunction.com

Bagaimana orang tua memperlakukan anak di rumah juga menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk kepribadian anak.

Tidak semata-mata karena anak telah disekolahkan, maka tugas orang tua dalam mengajarkan tata krama menjadi hilang.

Moms harus benar-benar memberitahu anak-anak, bahwa selain orang tua, guru adalah sosok yang harus mereka hormati dan hargai.

Biasakan juga sikap sopan dan santun di rumah agar mereka menjadikannya sesuatu yang wajib untuk selalu dilakukan.

4. Menerima Perlakuan Tidak Adil

lawan1

foto: understood.org

Tak jarang seorang guru memperlakukan muridnya dengan tidak adil. Hanya karena ada anak yang kurang pintar, guru kerap kali memperlakukan mereka berbeda.

Belum lagi ketika anak-anak merasa dipermalukan karena dibandingkan dengan murid lain.

Tidak semua anak akan merasa termotivasi dengan hal tersebut, sebagian malah akan membangun diri dengan persepsi yang salah.

Mereka akan terus tumbuh menjadi anak yang malas dan melawan.

Baca Juga: Anak Mogok Sekolah, Apa yang Harus Moms Lakukan?

5. Melihat Contoh yang Salah

lawan5

foto: scarymommy.com

Pada usia tertentu anak, seringkali apa yang mereka dapatkan diluar pengetahuan orang tua.

Seperti halnya saat mereka menonton film tanpa pengawasan, dapat membuat mereka meniru karena tak tahu bahwa hal tersebut adalah hal yang salah.

Memang tidak mudah untuk selalu mengawasi semua hal yang dilakukan anak-anak.

Namun, bukan berarti sebagai orang tua tidak bisa membatasi akses yang mereka miliki.

Sejak dini Moms sebaiknya selalu menyajikan segala sesuatu yang sesuai dengan usia anak.

Hindari hal tersebut terjadi pada anak dengan cara mendekatkan mereka pada pemahaman yang benar. Selain itu, cobalah juga untuk selalu membangun komunikasi yang baik antara orang tua dan guru.

(MDP)

Artikel Terkait