BALITA DAN ANAK
1 Agustus 2020

Marshmallow Test Balita Bisa Prediksi Kesuksesan Si Kecil?

Benarkah anak yang lebih tahan godaan lebih sukses di masa depan?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fitria Rahmadianti
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Masih ingat candy challenge yang sempat diramaikan oleh Kylie Jenner dan anaknya? Ternyata eksperimen sederhana ini terinspirasi dari sebuah penelitian yang disebut Marshmallow Test balita.

Apa Itu Marshmallow Test?

Marshmallow Test dilakukan oleh psikolog Walter Mischel dan timnya dari Stanford University pada 165 orang balita di akhir 1960-an dan awal 1970-an. Tujuannya adalah meneliti konsep kontrol diri pada balita usia 3-5 tahun dengan menerapkan teori delay of gratification (penundaan gratifikasi).

Setiap anak ditinggalkan di sebuah ruangan dengan dua piring berisi marshmallow dan camilan lain. Isi piring pertama lebih sedikit dari piring kedua. Sebelum meninggalkan ruangan, peneliti mengatakan bahwa Si Kecil boleh memakan isi piring pertama kapan saja. Namun, kalau ia sabar menunggu peneliti kembali, ia boleh menikmati isi piring kedua yang lebih banyak.

Peneliti lalu memperhatikan tingkah Si Kecil lewat cermin dua arah dan mencatat seberapa lama Si Kecil bisa tahan sebelum akhirnya memakan camilan tersebut.

Hasilnya, hampir 30% anak memakan camilan dalam 30 detik setelah peneliti keluar ruangan. Lebih dari 30% anak berhasil menunggu selama 10 menit. Namun, kebanyakan anak akhirnya menikmati camilan dalam waktu enam menit.

Baca Juga: Mengetes Kesabaran Balita Lewat Candy Challenge Anak

Mischel mempelajari bahwa anak yang paling sabar seringkali menggunakan strategi kreatif untuk menghindari godaan. Misalnya, menganggap bahwa marshmallow di hadapannya tidak ada.

Penelitian lanjutan yang dilakukan Mischel pada akhir 1980-an dan awal 1990-an menemukan bahwa anak yang lebih sabar menunggu demi hadiah yang lebih besar menunjukkan performa lebih baik di sekolah. Mereka juga memiliki SAT score (nilai untuk masuk perguruan tinggi) lebih tinggi.

Selain itu, anak-anak tersebut mempunyai kepercayaan diri lebih tinggi dan keterampilan emosi lebih baik. Bahkan, penelitian menyebutkan bahwa mereka cenderung terhindar dari penyalahgunaan obat-obatan.

Bagaimana dengan anak yang tidak tahan godaan? Beberapa penelitian menyebutkan bahwa mereka lebih berisiko gemuk atau obesitas 30 tahun kemudian dan memiliki kesehatan umum yang lebih buruk saat dewasa.

Baca Juga: Mengenal 4 Tipe Pola Asuh Anak dan Pengaruhnya pada Balita

Kritik Terhadap Marshmallow Test pada Balita

Kritik terhadap Marshmallow Test Balita.jpg

Foto: Leah Kelley from Pexels

Meski terkenal, Marshmallow Test balita mendapat banyak kritik hingga bertahun-tahun kemudian. Salah satu kritik terbesar adalah delayed gratification hanya bisa diterapkan untuk anak dari kalangan menengah dan atas. Apakah masuk akal jika anak-anak yang hidup dalam kemiskinan menunda gratifikasi di saat mereka terbiasa dengan ketidakstabilan?

Sebuah studi oleh peneliti New York University berjudul “Revisiting the Marshmallow Test” pada 2018 juga meragukan bahwa kesuksesan dan karakter seseorang bisa diprediksi dengan sikapnya ketika ditinggalkan bersama permen saat berumur empat tahun. Lagi pula, bisa jadi anak-anak tadi tidak terlalu suka marshmallow dan camilan lain yang disuguhkan.

Meski demikian, Mischel menerima kritik-kritik tersebut. “Gagasan bahwa Si Kecil akan sial jika ia tidak sabar memakan marshmallow adalah misinterpretasi yang serius,” kata Mischel.

Mischel dan rekan-rekan penelitinya mengakui kemungkinan bahwa dengan ukuran sampel yang lebih besar, korelasinya bisa berkurang. Mereka juga menyebut bahwa stabilitas lingkungan rumah bisa jadi memainkan peranan yang lebih penting daripada Marshmallow Test.

Baca Juga: Ternyata Ini 4 Manfaat Luar Biasa Dari Bermain Peran Bagi Anak

Delayed Gratification

Delayed gratification adalah hasil dari banyak faktor dalam hidup seorang anak. Mengajarkan Si Kecil untuk menunda gratifikasi pun belum tentu membuat Si Kecil sukses di masa depan.

Menurut artikel di jurnal Frontiers in Psychology, penundaan gratifikasi bukanlah kemampuan yang dibawa dari lahir, melainkan diperoleh melalui perkembangan. Kemampuan ini meningkat seiring usia.

Di umur empat tahun, anak-anak memiliki kemampuan untuk menghadapi situasi berorientasi masa depan. Selanjutnya, di tahun kelima, anak-anak menunjukkan strategi kognitif yang diperlukan untuk menunda gratifikasi. Karena itu, di usia lima tahun, anak-anak sudah bisa menahan keinginannya demi mendapatkan ganjaran yang lebih besar.

“Jadi, bisa menunggu dua menit, lima menit, atau batas maksimum tujuh menit tidak memberikan kelebihan apapun dibanding hanya bisa menunggu 20 detik,” ujar Tyler Watts, profesor psikologi NYU yang mereplikasi penelitian Mischel dan tim.

Jadi, sepertinya kurang tepat menyebut bahwa seseorang bisa mengontrol diri karena memiliki tekad dalam dirinya (karena berusaha keras menahan diri). Faktanya, orang-orang seperti ini seringkali berada di lingkungan yang minim godaan.

Baca Juga: Balita Mengantuk Terus? Ini Ciri Narkolepsi pada Anak

Ternyata, candy challenge lebih asyik dibahas sebagai aksi seru-seruan TikTok saja, ya, Moms, dibanding teori sains sosial seperti Marshmallow Test balita!

Artikel Terkait