PASCA MELAHIRKAN
19 Maret 2020

Masa Nifas, Apa yang Akan Terjadi pada Tubuh?

Moms akan mengalami beberapa perubahan pada tubuh
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Intan Aprilia

Setelah melahirkan, Moms biasanya akan mengalami masa-masa seperti mengalami ketidaknyamanan, pendarahan, atau kelelahan. Masa-masa ini umumnya dikenal sebagai masa nifas.

Masa nifas umumnya merupakan masa enam minggu pertama setelah Moms melahirkan.

Ini adalah waktu yang sangat penting bagi Moms dan bayi untuk menyesuaikan diri satu sama lain dan keluarga besar kita.

Namun berdasarkan Journal of Prenatal Medicine, masa nifas terbagi menjadi beberapa fase, yang bisa bertahan hingga 6 bulan.

Beberapa perubahan jauh lebih lama pemulihannya, dan beberapa akan sepenuhnya kembali ke masa sebelum hamil.

Baca Juga: Jaga Tubuh Tetap Fit Saat Merawat Si Kecil, Ini 6 Makanan yang Baik di Masa Nifas

Dalam beberapa jam dan hari pertama setelah melahirkan, Moms akan mengalami banyak perubahan, baik secara fisik maupun emosional.

Perubahan Selama Masa Nifas

masa nifas

Foto: Orami Photo Stock

Perubahan dalam masa nifas terjadi terkait dengan pemulihan organ yang berperan selama masa kehamilan, seperti rahim, serviks, dan vagina.
Apa saja perubahan-perubahan yang akan terjadi pada Moms selama masa nifas? Simak di bawah ini.

1. Penurunan Berat Badan

Berarti penurunan berat badan setelah melahirkan bayi, karena pengurangan cairan ketuban, dan plasenta, kira-kira sebanyak 6 kg.

Penurunan berat badan dalam masa nifas juga bisa disebabkan karena keluarnya lochia dan involusi uterus, yakni sekitar 2–7 kg.

2. Perubahan Serviks

Serviks juga mulai berubah kembali dengan cepat ke keadaan tidak hamil, tetapi tidak akan pernah kembali ke keadaan sebelum seorang wanita hamil.

3. Vagina

Vagina, yang melebar untuk mengakomodasi bayi, akan berkurang ukurannya seperti tidak hamil, tetapi tidak sepenuhnya kembali ke ukuran sebelum hamil.

Kondisi ini akan pulihkan dalam minggu ke-6 sampai 10, namun, akan tertunda pada ibu yang menyusui karena kadar estrogen terus menurun.

Baca Juga: Vagina Berdarah Saat Berhubungan Intim, Wajar Atau Malah Berbahaya?

4. Dinding Perut

Selama masa nifas, dinding perut akan tetap lunak dan tidak terasa kencang selama berminggu-minggu. Kembalinya ke keadaan sebelum hamil sangat tergantung pada bagaimana rutinnya kita berolahraga.

Masalah Selama Masa Nifas

masa nifas

Foto: Orami Photo Stock

Selain mengalami beberapa perubahan selama masa nifas, ada beberapa masalah kesehatan yang juga mungkin mengganggu Moms, seperti berikut ini.

1. Menggigil

Dalam jurnal Postpartum Chills Phenomenon, menggigil pada masa nifas terjadi pada 25 hingga 50 persen wanita.

Menggigil biasanya mulai 1 hingga 30 menit setelah proses melahirkan dan berlangsung selama 2 hingga 60 menit.

Namun penyebabnya tidak diketahui; mungkin merupakan respons terhadap penurunan suhu tubuh setelah persalinan, perdarahan janin-ibu, emboli mikro-amniotik, pemisahan plasenta, anestesi, bakteremia, atau pemberian obat-obatan tertentu.

Perawatan bisa dilakukan dengan perawatan yang bersifat suportif seperti memberikan selimut hangat dan/atau udara hangat.

Baca Juga: Demam dan Menggigil Selama Kehamilan, Kenapa?

2. Pendarahan Hebat dan Lokia

Pada masa nifas ini, Moms akan mengalami pendarahan hebat. Tapi tenang Moms, pendarahan ini justru harus terjadi, karena pada masa nifas, darah yang disebut lochia atau lokia keluar dari vagina.

Di awal masa nifas, lokia akan keluar cukup banyak, seperti saat sedang menstruasi hebat. Warna darahnya pun pekat dan gelap.

Namun tenang Moms, karena seiring dengan berjalannya waktu, warna darah akan semakin memudar dan lebih encer. Persis seperti proses menstruasi, tapi dalam durasi yang lebih lama.

Mom mungkin bertanya dari mana darah tersebut berasal? Darah ini asalnya dari pembuluh darah yang terbuka ketika plasenta terlepas dari dinding rahim.

Setelah proses melahirkan, rahim kembali menyusut dan pembuluh darah yang terbuka pun akan menutup.

Jika Moms mengalami robekan saat proses persalinan, kemungkinan besar, darah yang keluar juga berasal dari luka tersebut.

3. Infeksi Rahim

Biasanya, plasenta terpisah dari dinding rahim selama persalinan dan dikeluarkan dari vagina dalam waktu 20 menit setelah melahirkan.

Jika potongan-potongan plasenta tetap berada di dalam rahim (disebut retained placenta), maka dapat menyebabkan infeksi.

Infeksi kantung ketuban (kantung air di sekitar bayi) selama persalinan dapat menyebabkan infeksi rahim pascapersalinan.

Gejalanya mirip flu disertai demam tinggi; denyut jantung yang cepat, jumlah sel darah putih abnormal tinggi, bengkak, rahim lunak; dan keluarnya cairan yang berbau busuk biasanya mengindikasikan infeksi rahim.

Ketika jaringan di sekitar rahim juga terinfeksi, rasa sakit dan demam bisa lebih parah.

Infeksi rahim biasanya dapat diobati dengan antibiotik intravena, yang digunakan untuk mencegah komplikasi yang berpotensi berbahaya seperti syok toksik.

Baca Juga: Ini Masalah Nifas yang Perlu Diwaspadai, Jangan Anggap Remeh!

4. Infeksi Sayatan Pasca Operasi Caesar

Jika Moms melahirkan dengan proses caesar, selama masa nifas Moms perlu ikuti instruksi penyedia layanan kesehatan tentang merawat sayatan operasi caesar kita.

Konsultasikan dengan dokter jika Moms melihat tanda-tanda infeksi, seperti merah, kulit bengkak atau bernanah. Tahan keinginan untuk menggaruk. Coba aplikasikan lotion untuk mengurangi rasa gatal.

5. Nyeri Perineum

Bagi wanita yang melahirkan melalui vagina, rasa sakit di perineum (daerah antara rektum dan vagina) selama masa nifas merupakan hal yang cukup umum.

Jaringan lunak ini mungkin telah meregang atau robek selama persalinan, menyebabkannya terasa bengkak, memar dan sakit.

Ketidaknyamanan ini juga dapat diperparah dengan episiotomi, sayatan terkadang dibuat di perineum selama persalinan untuk menjaga agar vagina tidak robek.

6. Payudara bengkak

Selama masa nifas, jika Moms mengalami apa yang disebut payudara bengkak, ini merupakan hal yang umum.

Ketika ASI keluar (sekitar dua hingga empat hari setelah melahirkan), payudara bisa menjadi sangat besar, tarasa keras, dan sakit.

Pembengkakan ini akan mereda setelah Moms membentuk pola menyusui atau, jika tidak menyusui, begitu tubuh berhenti memproduksi susu (biasanya kurang dari tiga hari jika bayi tidak menyusu).

Moms dapat meredakan rasa pembengkakan yang tidak nyaman pada payudara selama masa nifas dengan mengenakan bra yang pas dan mengaplikasikan krim pada payudara.

Jika Moms tidak menyusui, maka hindari mandi air panas dan memerah ASI. Ini hanya akan membuat tubuh bingung untuk menghasilkan lebih banyak susu untuk mengimbanginya.

Baca Juga: Penanganan Mastitis, Payudara Bengkak pada Ibu Menyusui

Pemulihan Masa Nifas

masa nifas

Foto: todaysparent.com

Proses pemulihan selama masa nifas, terutama untuk bagian organ reproduksi, bisa dibantu dengan menyusui dan melakukan pemijatan di area rahim.

Pemijatan dan menyusui bisa membantu tubuh mengeluarkan hormon oksitosin yang membantu rahim cepat pulih kembali.

Oleh karena itu, saat Moms menyusui, mungkin akan merasa kram atau nyeri di bagian rahim. K

etika menyusui, hormon oksitosin akan dilepas tubuh dan membuat rahim mengalami kontraksi. Kontraksi inilah yang membuat rahim cepat kembali ke ukuran normal.

Baca Juga: Bagaimana Cara Deteksi Dini Rahim Terbalik?

Dalam kasus tertentu, rahim tidak berkontraksi dengan baik setelah proses persalinan. Hal ini bisa berdampak buruk karena akan membuat darah terus keluar yang disebut pendarahan pasca melahirkan.

Kebutuhan Selama Masa Nifas

masa nifas

Foto: parenting.firstcry.com

Meski masa nifas terkesan sepele, namun sebenarnya membutuhkan beberapa persiapan dan kebutuhan juga.

Saat memasuki masa nifas, Moms membutuhkan pembalut khusus masa nifas. Pembalut khusus ini memiliki ukuran yang lebih tebal daripada pembalut biasanya.

Sesuai dengan namanya, pembalut ini memang dirancang khusus untuk menampung darah dalam jumlah banyak selama masa nifas. Setelah darah yang keluar semakin sedikit, Moms bisa menggantinya ke pembalut biasa.

Selama masa nifas, Moms juga disarankan untuk sering buang air kecil. Setelah melahirkan, Moms akan lebih tidak sensitif ketimbang sebelumnya untuk urusan buang air kecil. Moms bisa saja merasa tidak kebelet padahal kandung kemih sudah hampir penuh.

Nah, Moms harus rajin-rajin ke toilet untuk buang air kecil. Jika kandung kemih terus dibiarkan penuh, bukan tidak mungkin Moms malah akan mengalami penyakit infeksi lainnya.

Baca Juga: 7 Cara Mengatasi Infeksi Saluran Kemih

Bukan hanya itu saja, jika kandung kemih penuh akan membuat rahim sulit berkontraksi. Itu artinya, pendarahan yang keluar akan lebih banyak dan proses pemulihan juga jadi terhambat.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah beristirahat. Jika merasa lelah, Moms bisa mengalami masa nifas yang lebih lama.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Selama masa nifas, Moms perlu terus memperhatikan setiap perubahan yang tidak biasa pada tubuh di hari dan minggu awal setelah melahirkan. Hubungi dokter segera jika Moms mengalami salah satu dari gejala berikut ini, karena dapat mengindikasikan komplikasi selama masa nifas yang serius.

  • Pendarahan vagina yang lebih berat dari periode menstruasi normal kita.
  • Nyeri yang meningkat atau menetap di area vagina atau perineum.
  • Mengalami demam tinggi.
  • Payudara yang terasa sakit saat disentuh.
  • Nyeri, bengkak, atau nyeri di kaki.
  • Batuk atau nyeri dada.
  • Nyeri atau terbakar saat buang air kecil, atau keinginan terus-menerus untuk buang air kecil.
  • Mual dan/atau muntah.
  • Moms merasa tertekan, kurang tertarik pada bayi, atau memiliki pikiran atau halusinasi tentang kekerasan

Nah, itu dia beberapa hal penting yang perlu Moms ketahui terkait masa nifas setelah persalinan. Semoga membantu!

Artikel Terkait