PASCA MELAHIRKAN
31 Juli 2020

6 Masalah Menyusui pada Ibu Baru dan Solusinya

Moms harus siap dengan beberapa masalah yang mungkin muncul
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Intan Aprilia

Meski terdengar cukup sederhana, menyusui bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan, terutama bagi para ibu baru atau new Moms.

Baik itu Moms berencana untuk, mencoba, atau menyusui bayi secara langsung sehabis melahirkan, Moms pasti setuju akan satu hal, yaitu menyusui secara eksklusif selama enam bulan, sangat berharga bagi kesehatan Moms dan Si Kecil, namun tidak mudah melakukannya.

Berdasarkan data statistik dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dari tahun 2016, sekitar 81 persen ibu baru setuju dan mulai menyusui bayi mereka. Tapi, dengan waktu selama enam bulan, hanya 52 persen yang masih menyusui secara eksklusif.

Baca Juga: Benarkah Menyusui Bayi Prematur Harus Lebih Sering?

Mengapa tidak semua Moms berhasil menyusui bayinya secara eksklusif?

Menurut sebuah penelitian, ada ketidaksesuaian antara harapan ibu baru dan realitas menyusui bayi di kehidupan sehari-hari.

Ketika rasa letih, tidak nyaman, dan kegelisahan seorang ibu meningkat, kebahagiaannya saat memberikan ASI eksklusif akan terganggu.

Ada banyak masalah menyusui yang mungkin muncul seiring dengan berjalannya proses ini. Apa saja masalah-masalah yang mungkin terjadi?

Masalah saat Menyusui Bayi

Berbagai masalah di bawah ini bisa Muncul saat Moms menyusui Si Kecil selama enak bulan pertama kehidupannya.

Tapi jangan khawatir Moms, di bawah ini juga tersedia beberapa solusi yang bisa Moms lakukan. Yuk, kita tengok.

1. Payudara Bocor

masalah menyusui bayi

Foto: Orami Photo Stock

Payudara yang bocor, menetes, dan menyemburkan ASI adalah hal yang masalah menyusui ASI umum yang bisa terjadi pada semua Moms, terutama dalam beberapa minggu pertama setelah persalinan saat siklus persediaan dan permintaan ASI Moms mulai meningkat.

Hal ini kemungkinan besar akan terjadi saat Moms terlalu memikirkan tentang Si Kecil, yang membuat kita merasa cemas dan gelisah.

Cara mencegahnya dengan memberikan bayi jumlah ASI sesuai dengan yang dibutuhkan, dan tidak menunda-nunda.

Namun jika sudah terjadi, Moms bisa mengatasinya dengan menggunakan bantalan payudara di cangkir bra untuk menyerap ASI dan mencegah susu bocor dan terlihat pada baju kita.

Hindari bantalan dengan lapisan plastik yang dapat memerangkap kelembapan di kulit dan menyebabkan puting terasa sakit.

Jika Moms merasa ASI merembes keluar, bisa dengan lembut tekan payudara ke arah dada untuk menghentikan bocor.

Baca Juga: Tanda Kehamilan Bisa Dideteksi Lewat Payudara?

2. Payudara Bengkak

payudara bengkak akibat menyusui

Foto: Orami Photo Stock

Merupakan hal yang normal jika payudara Moms terasa penuh dan sedikit berat selama beberapa minggu pertama menyusui Si Kecil.

Tetapi jika Moms merasa tidak nyaman setelahnya, misalnya payudara Moms terasa keras dan tidak nyaman, maka mungkin Moms sedang mengalami pembengkakan payudara. Penyebabnya biasanya karena pembuangan susu tidak banyak.

Misalnya, bayi Moms tidak sering menyusu atau cukup lama dan payudara kita menjadi terlalu penuh dengan produksi ASI.

Untuk menghindarinya, Moms harus sering menyusui bayi, sekitar delapan hingga 12 kali sehari dengan kedua payudara, namun dengan porsi yang tidak terlalu banyak agar Si Kecil tidak kekenyangan.

Jangan lewati waktu untuk menyusui, dan terus susui anak di malam hari maupun siang hari.

Pastikan bayi dalam posisi yang benar dan terkunci dengan baik sehingga payudara bisa mengosongkan ASI.

Selain itu, Moms juga bisa mengatasi payudara bengkak dengan cara memerah ASI di antara waktu menyusui, baik secara manual atau dengan pompa ASI.

Mandilah dengan air hangat atau kompres hangat payudara kita untuk mendorong aliran ASI.

Beberapa dokter merekomendasikan penggunaan kompres hangat saat menyusui dan melanjutkannya dengan kompres dingin di antara waktu menyusui.

Jika payudara masih besar, rasa hangat yang diterima dapat memperburuk situasi (dengan meningkatkan aliran darah ke daerah tersebut), jadi pertimbangkan untuk mencoba kompres dingin saat Moms sudah mengeluarkan ASI ya.

3. Bingung Puting

bingung puting merupakan salah satu masalah menyusui

Foto: Orami Photo Stock

Bayi yang diberi dot atau botol susu pada minggu-minggu awal menyusui dapat menjadi bingung ketika berhadapan dengan payudara Moms saat menyusui langsung.

Pada akhirnya, bayi mungkin tidak dapat menyusu dengan benar atau mungkin menolak payudara sepenuhnya.

Ini berarti bahwa ia mungkin tidak mendapatkan cukup ASI dan payudara kita bisa membesar karena tidak berhasil dikosongkan.

Baca Juga: Cegah Bingung Puting, Berikan ASIP dengan 3 Media ini

Untuk mencegahnya, Moms disarankan untuk tidak memberikan dot atau botol pada bayi sampai rutinitas menyusui sudah benar, atau biasanya setidaknya tiga hingga empat minggu setelah melahirkan.

Namun jika Si Kecil mengalami bingung puting, Moms mungkin bisa menghubungi konsultan laktasi untuk meminta nasihat lebih detail.

4. Puting Pecah-pecah atau Sakit

puting bisa sakit saat menyusui

Foto: Orami Photo Stock

Posisi bayi yang tidak tepat saat menyusui adalah penyebab paling umum puting pecah-pecah atau sakit.

Ketika bayi diposisikan dengan benar, puting susu akan berada di belakang mulutnya, aman dari tekanan gusi dan lidah bayi.

Jadi selama menyusui, pastikan bayi memiliki teknik latch-on yang tepat. Jika Moms merasa sakit, lepaskan bayi dengan lembut dari payudara dan biarkan ia menyusu lagi.

Selain itu, posisikan bayi dekat dengan tubuh kita dengan mulut dan hidungnya menghadap puting untuk membuatnya lebih mudah menyusui dengan benar.

Saat menyusui, mulailah dengan sisi yang tidak terlalu menyakitkan karena bayi kemungkinan besar akan menyusu paling cepat di awal menyusu. Di akhir menyusui, oleskan ASI segar ke puting untuk menenangkannya.

ASI manusia memiliki sifat antibakteri sehingga dapat mengurangi kemungkinan infeksi, kata para ahli menyusui di La Leche League. Jika masih kesakitan, bicarakan dengan dokter tentang penggunaan krim atau vitamin E pada puting susu.

5. Produksi Susu Tidak Cukup

pompa ASI bisa membantu produksi ASI Moms lebih banyak

Foto: Orami Photo Stock

Dalam sebuah studi Pediatri, ini merupakan alasan nomor satu setiap wanita berhenti menyusui atau memberikan makanan sebelum bayi mereka mencapai usia 6 bulan.

“Namun sebenarnya tingkat para ibu yang tidak dapat menghasilkan susu yang cukup untuk mencapai kenaikan berat badan bayi mereka hanya sekitar 5 persen," kata Ruowei Li, peneliti menyusui di Divisi Nutrisi, Aktivitas Fisik dan Obesitas di CDC di Atlanta.

Dengan kata lain, 95 persen ibu menyusui dapat menghasilkan cukup ASI, tetapi mereka yang berhenti menyusui, menambah atau memperkenalkan makanan padat untuk bayi lebih awal dari yang dianjurkan.

Untuk mengetahui apakah produksi ASI Moms cukup atau tidak, timbang bayi sebelum dan sesudah menyusui.

Jika berat badan bayi bertambah dan Si Kecil banyak buang air besar maka bisa disimpulkan Moms menghasilkan cukup ASI.

Baca Juga: Strategi Efektif Meningkatkan Produksi ASI: Power Pumping

Namun ada baiknya jika Moms bicara dengan dokter anak tentang nutrisi bayi.

ASI saja tidak cukup memuaskan bayi adalah satu dari tiga alasan utama mengapa wanita berhenti dan/atau memperkenalkan makanan padat sebelum direkomendasikan.

"Pengenalan awal makanan padat menjadi perhatian karena secara perkembangan, bayi yang masih kecil dan belum mencapai usia, tidak siap untuk mencoba makanan padat," kata dr. Li.

6. Puting Datar atau Terbalik

puting datar

Foto: Orami Photo Stock

Sebagian besar puting tentunya akan menonjol ke luar, karena ini merupakan bentuk ideal untuk dicapai mulut bayi.

Namun beberapa puting wanita datar atau menarik ke dalam - membuatnya lebih susah untuk dicapai bayi.

Memiliki puting susu yang datar atau terbalik tidak mempengaruhi kemampuan Moms untuk memasok ASI, dan seringkali bayi dapat menyusu tanpa hambatan. Jika bayi mengalami kesulitan mengunci, kompres areola Moms saat menyusui.

Itu dia Moms beberapa masalah menyusui yang mungkin Moms alami beserta dengan cara mencegah dan mengatasinya. Moms tidak perlu panik, dan hadapi dengan tenang ya Moms.

Artikel Terkait