KESEHATAN
23 Mei 2018

Mata Kering, Cari Tahu Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Air mata buatan juga bisa membantu mengatasi mata kering lho
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Carla Octama
Disunting oleh Carla Octama

Tanya : 

Dulu kata dokter saya terkena iritasi mata ringan, tapi sampai sekarang mata saya sering terasa perih. kKadang sering keluar air mata, kadang mata saya juga sering memerah dan terkadang pandangan sering buram.

Jika dibiarkan terus apa akan menjadi berbahaya? dan apa bahaya yang akan terjadi?

Jawab : 

Mata kering sangat mengganggu kenyamanan. Mata kering adalah kondisi ketika mata tidak mampu memberi kelembapan yang cukup untuk menjaga mata tetap terlindungi.

Hal ini lantaran produksi air mata yang tidak mencukupi untuk melumasi mata karena penguapan yang berlebihan. Mata kering dapat mengakibatkan iritasi dan kerusakan pada permukaan mata, terutama kornea, konjugtiva dan kelopak mata.

Mata ditutupi oleh lapisan cairan. Lapisan terluar terdiri dari asam lemak yang berfungsi menghaluskan permukaan air mata. Dan memperlambat penguapan dari lapisan tengah yang sebagian besar adalah air.

Lendir membentuk lapisan terdalam yang memungkinkan air mata tersebar merata di permukaan mata. Nah, mata kering terjadi ketika ketiga hal tersebut tidak seimbang.

Produksi air mata biasanya menurun seiring dengan bertambahnya usia, karena peningkatan tekanan inflamasi dan oksidatif mengubah kelenjar dari sistem lakrimal. Karena itu, risiko mata kering meningkat seiring usia.

Namun, selain usia, sekarang ini gaya hidup juga bisa jadi penyebab mata kering, di antaranya adalah pendingin ruangan atau pengaruh iklim dan lingkungan misalnya terlalu lama menatap layar komputer dan gadget. Atau bisa juga karena gangguan pada struktur kelopak mata yang menyebabkan mata tidak dapat menutup dengan sempurna.

Selain menimbulkan rasa perih, penderita mata kering juga menjadi lebih sering mengucek mata dan akhirnya penglihatan pun menjadi buram.

Untuk mengatasi kondisi mata kering, Anda bisa mengobati dengan ini.

1. Suplementasi air mata buatan

Obat ini banyak tersedia bebas apotek. Memang, obat ini bisa dibeli tanpa resep dokter, namun tidak semua jenis suplementasi air mata buatan ini cocok untuk semua mata kering.

Karena itulah sebelum menggunakannya, harus terlebih dulu memeriksakan mata ke dokter untuk menentukan suplemen air mata buatan jenis yang mana yang sebaiknya dipakai. Air mata buatan dalam bentuk gel dapat digunakan sebelum waktu tidur guna memberikan waktu pelembapan mata yang cukup lama.

2. Temporary punctal occlusion

Atau tindakan menutup lubang saluran pembuangan air mata dengan memasang penyumbat berbahan kolagen yang akan larut perlahan-lahan, sehingga bersifat sementara.

Bila cara ini belum berhasil, biasanya dokter akan mempertimbangkan untuk penutupan lubang saluran pembuangan air mata dengan sumbatan yang tidak dapat larut, atau penutupan lubang saluran pembuangan air mata secara permanen.

3. Penggunaan kauter atau non-dissolving punctal plug

Penyumbat ini dapat dengan mudah dilepaskan sesuai kondisi klinis penggunanya, sementara kauterisasi bersifat permanen. Pengobatan mata kering dengan penggunaan sumbatan jenis ini akan dapat mengurangi penggunaan air mata buatan.

4. Lipiflow

Adalah alat medis yang menggunakan energi panas dan tekanan pada kelopak mata untuk membuka kelenjar yang tersumbat. Lewat cara ini, diharapkan akan terjadi produksi lapisan lemak yang berperan untuk mencegah penguapan air mata karena paparan udara.

5. Restasis

Adalah obat tetes mata resep dokter yang ditujukan bagi penderita mata kering kronis. Dengan cara ini diharapkan dapat membantu produksi air mata.

6. Obat-obatan lain dan nutrisi

Seperti obat tetes mata steroid yang dapat dipakai untuk jangka pendek sebagai tambahan dari pengobatan jangka panjang lainnya serta nutrisi dari minyak ikan dan omega-3.

Apabila ingin mengenakan lensa kontak, pastikan untuk memilih lensa kontak yang berbahan dasar Silicon Hydrogel atau Hydrogel yang memiliki teknologi yang dapat mempertahankan kelembapan mata.

Dijawab oleh : dr. Nina Amelia Gunawan

Sumber : meetdoctor.com

Artikel Terkait