TRIMESTER 3
26 Mei 2019

Melahirkan dengan Induksi Persalinan, Adakah Dampaknya Bagi Janin?

Yuk, simak pro kontranya.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Dina

Induksi persalinan adalah stimulasi kontraksi uterus sebelum persalinan agar Moms dapat melahirkan secara normal.

Memang ada risiko tersendiri dari induksi, tapi manfaatnya lebih besar daripada risikonya.

Jika Moms sedang hamil, penting memahami mengapa dan bagaimana induksi persalinan dilakukan sehingga Moms dapat mempersiapkan diri.

Penyebab Induksi Harus Dilakukan

Melahirkan Dibantu Induksi Persalinan, Adakah Dampaknya Bagi Janin 01.jpg

Untuk menentukan apakah induksi persalinan diperlukan, tenaga medis akan mengevaluasi beberapa faktor.

Di antaranya adalah kesehatan Moms, kesehatan bayi, usia kehamilan bayi, berat dan ukuran bayi, posisi bayi di dalam rahim, dan kondisi serviks.

Ketuban pecah dini menjadi salah satu penyebab umum dari induksi. Oligohidramnion atau kondisi air ketuban yang kurang juga sering menjadi penyebab induksi harus dilakukan.

Baca Juga: Mengenal Gentle Birth Sebagai Alternatif Metode Melahirkan

Selain itu, induksi juga biasanya dilakukan saat Moms mengalami chorioamnionitis, yakni infeksi pada cairan ketuban.

Masalah selanjutnya adalah berat badan janin yang kurang 10 persen atau lebih dari yang diperkirakan wajar untuk usia kehamilan tersebut.

Gangguan tekanan darah tinggi kehamilan juga menjadi pertimbangan.

Moms yang memiliki komplikasi kehamilan biasanya ditandai dengan tekanan darah tinggi dan tanda-tanda kerusakan pada sistem organ lain atau preeklamsia.

Kondisi ini merupakan tekanan darah tinggi yang terjadi sebelum kehamilan atau yang terjadi sebelum 20 minggu kehamilan (tekanan darah tinggi kronis) atau tekanan darah tinggi yang berkembang setelah 20 minggu kehamilan (hipertensi gestasional).

Induksi juga mungkin terjadi akibat solusio plasenta yakni kondisi ketika plasenta terlepas dari dinding bagian dalam rahim sebelum melahirkan - baik sebagian atau seluruhnya.

Penyebab induksi juga bisa disebabkan oleh Moms yang memiliki kondisi medis tertentu seperti penyakit ginjal atau obesitas.

Risiko Induksi yang Mungkin Terjadi

Melahirkan Dibantu Induksi Persalinan, Adakah Dampaknya Bagi Janin 02.jpg

Moms juga perlu mengetahui ada beberapa risiko jika menjalani intervensi medis ini.

Menurut Tracy Davis, MD, seorang dokter obgyn, induksi ini bisa jadi salah satu jalan untuk mempercepat persalinan asalkan sesuai dengan kebutuhan.

Sebab, ada beberapa risiko induksi yang wajib Moms ketahui.

Baca Juga: Bisa Dipakai Setelah Melahirkan, 1 dari 5 Tips Cerdas Membeli Baju Hamil

“Sekitar 75 persen ibu pertama yang diinduksi akan mengalami persalinan normal yang berhasil. Berarti sekitar 25 persennya, mengalami masalah serviks sehingga tetap memerlukan operasi Caesar,” ujarnya.

Artinya bisa jadi kondisi rahim yang memang tak memungkinkan Moms untuk menjalani persalinan secara normal.

Masalah berikutnya adalah detak jantung rendah.

Obat-obatan yang digunakan untuk menginduksi persalinan - oksitosin atau prostaglandin - dapat menyebabkan kontraksi yang abnormal atau berlebihan.

Kontraksi ini dapat mengurangi pasokan oksigen bayi Moms dan menurunkan denyut jantung janin dalam kandungan.

Beberapa metode induksi persalinan dapat meningkatkan risiko infeksi bagi ibu dan juga janin dalam kandungan.

Pecahnya membran ketuban dalam waktu lama juga meningkatkan risiko infeksi. Maka, Moms harus berhati-hati dalam hal ini.

Moms juga bisa mengalami risiko pendarahan setelah melahirkan. Induksi persalinan meningkatkan risiko otot rahim tidak berkontraksi dengan normal selama Moms melahirkan.

Baca Juga: Berapa Usia yang Tepat untuk Hamil dan Melahirkan?

Hal ini dapat menyebabkan perdarahan serius setelah melahirkan.

Meski banyak risiko, induksi saat persalinan memang bisa jadi jalan untuk melancarkan proses persalinan.

Maka, Moms harus berkonsultasi pada tenaga medis ya sebelum melakukannya.

Apakah Moms pernah sukses melewati induksi saat persalinan?

(GSA)

Artikel Terkait