PARENTING
14 September 2019

Melahirkan dengan Kondisi Pre-eklampsia dan Cacar Air, Saya Harus Berpisah Lama dengan Si Kecil

Dokter mengatakan tidak memungkinkan untuk melahirkan normal karena kondisi pre-eklampsia dan cacar air yang saya alami
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Hana Pertiwi Ciptasari (33 th), Ibu dari Hafira Nayla Kirani (3 bln), Member WAG Orami Working Moms (4) dan Newborn (8).

Sebelum menikah, saya bekerja di industri farmasi yang berlokasi di Tambun, Bekasi, sementara rumah saya di Tangerang. Sepanjang hari kerja, saya tinggal di kamar indekos, dan pulang ke Tangerang setiap Jumat atau tanggal merah.

Usia sudah memasuki angka 30, kedua orang tua saya gelisah karena kala itu saya masih belum menikah. Saya berdoa meminta jodoh, dan tentunya juga berusaha dengan menerima kenalan dari teman-teman, juga aktif di komunitas dan organisasi.

Akhirnya, saya menikah di usia 31 tahun pada November 2017 lalu. Saya tidak menunda momongan, dan tetap bekerja meskipun bertemu dengan suami hanya setiap pulang ke Tangerang.

Suami saya percaya dan mendukung aktivitas saya. Selama kurang lebih delapan bulan, akhirnya saya positif hamil. Tentu saja merasa sangat senang karena kami ingin mempunyai anak.

Baca Juga: Perjuangan Menyusui Bayi BBLR, Dimulai dengan Dot hingga Akhirnya Bisa Direct Breastfeeding

Hamil dengan Kondisi Pre-Eklampsia

Pengalaman Hamil dan melahirkan dengan Pre-Eklampsia-1.jpg

Foto: Orami/Hana Pertiwi

Dalam kondisi hamil, saya tetap bekerja dan bepergian sampai ke luar kota. Beruntung, saya tidak merasakan mual dan muntah.

Saya rutin kontrol kehamilan di Rumah Sakit Bella Bekasi dan melihat perkembangan janin di dalam perut melalui skrining USG. Saat itu, kondisi kehamilan baik-baik saja, tekanan darah normal.

Sampai akhirnya di usia kehamilan 8 bulan, saya periksa ke dokter spesialis kandungan dr. Donny Gunawan, Sp.OG di Siloam Hospital Lippo Karawaci.

Saya pun diberi tahu kalau saya mengalami pre-eklampsia, yaitu kondisi kehamilan yang disertai dengan tekanan darah tinggi.

Padahal, saya tidak merasakan keluhan sama sekali, saya sangat menikmati kehamilan selama beraktivitas. Dokter pun melarang untuk bekerja lagi, dan menyarankan mengambil cuti panjang untuk beristirahat total di rumah.

Ibu saya juga melarang keras kepada saya untuk beraktivitas dan berhenti memikirkan pekerjaan.

Esoknya, saya baru merasakan sakit kepala berat, dan periksa lagi ke dokter. Ternyata saya harus dirawat di rumah sakit karena tekanan darah yang mencapai 160/101 mmHg.

Selama perawatan, tekanan darah saya dipantau secara intensif sampai benar-benar turun normal dan stabil. Suami pun setia menjaga dan mengikuti perkembangan kondisi saya.

Pulang dari rumah sakit, saya istirahat total, dan ibu pun turut membantu mengatur pola makan saya agar tekanan darah tidak tinggi.

Seminggu kemudian, suami terkena cacar air, dan tentunya suami dilarang keras untuk berada dekat dengan saya karena masih dalam kondisi hamil. Kami berpisah sementara waktu sampai suami sembuh total.

Beberapa hari kemudian, suami merasa sembuh dan membawakan makanan buat saya. Sayangnya, kali ini saya yang merasakan gejala cacar air. Terasa demam dan gatal-gatal di tubuh saya. Esoknya, cacar air menyebar banyak di tubuh saya.

Hal ini memperparah kondisi saya, ada rasa nyeri ulu hati, semakin sesak napas, merasa demam dan gatal-gatal, dan hal ini membuat saya sangat tidak nyaman.

Baca Juga: Butuh Perjuangan untuk Berdamai dengan Preeklampsia

Usai Melahirkan, Anak Dirawat di Ruang NICU

Pengalaman Hamil dan melahirkan dengan Pre-Eklampsia-3.jpg

Foto: Orami/Hana Pertiwi

Beberapa minggu kemudian, usia kehamilan sudah memasuki 39 minggu lebih, saya melihat ada bercak darah pada pakaian dalam.

Akhirnya, ibu dan suami ikut menemani saya ke rumah sakit untuk menemui dokter kandungan. Dokter melakukan pemeriksaan USG dan hasilnya sudah ada pembukaan 2, dan posisi bayi sudah mau ke jalan lahir.

Tetapi, dokter menyatakan bahwa kemungkinan saya tidak bisa melahirkan normal karena tekanan darah yang sangat tinggi, ditambah kondisi saya yang masih belum sembuh dari cacar air.

Akhirnya diputuskan tindakan operasi caesar, dan pada tanggal 21 Maret 2019, saya melahirkan anak perempuan dengan berat 2,5 gram dan panjang 49 cm.

Anak saya langsung dibawa ke ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit) karena khawatir tertular cacar air. Sementara kala itu saya dibawa ke ruang isolasi.

Saya mendapatkan perawatan intensif agar cepat pulih pascamelahirkan. Setelah 4 hari, saya diperbolehkan pulang tetapi anak saya masih belum boleh pulang dan masih diobservasi di ruang NICU.

Ibu dan suami kembali menjenguk anak saya, dan suami memotret momen tersebut dan dibagikan ke saya melalui pesan WhatsApp. Saya menangis karena belum bisa bertemu dengannya.

Satu minggu kemudian, akhirnya anak saya sudah boleh pulang. Namun, saya masih belum boleh menyusui karena masih dalam pengobatan cacar air.

Di momen ini, saya harus rela menjaga jarak agar Si Kecil nanti tidak tertular penyakit saya.

Setelah akhirnya sembuh dari cacar air, dan tekanan darah kembali normal, saya langsung mendekatinya, menggendongnya, dan memberinya ASI. Perasaan saya penuh haru, dan saya merasa kalau ia anak yang kuat.

Saya memberi nama Hafira Nayla Kirani, yang artinya "anak yang kuat, pemberani dan bercahaya."

Baca Juga: Sempat Panik saat Mati Listrik, Ini Pengalaman dan Tips Menjaga ASIP Agar Tetap Sip

Bahagianya Menjadi Seorang Ibu

Pengalaman Hamil dan melahirkan dengan Pre-Eklampsia-2.jpg

Foto: Orami/Hana Pertiwi

Saya memantau perkembangan anak dari hari ke hari. Dia tumbuh sehat dan normal. Kini, dia sudah berusia 3 bulan dan sedang senang diajak jalan-jalan serta pandai mengoceh dan tertawa riang.

Perjuangan seorang ibu itu memang luar biasa. Bagaimana merasakan sakitnya selama kehamilan dan melahirkan, berjuang saat pertama kali menyusu anak, merawat dengan penuh kasih sayang, sabar menghadapi anak yang menangis, juga sabar mengikuti jam tidur anak yang tidak teratur.

Meski saya baru memiliki satu anak, tetapi saya sudah merasakan rasa salut kepada ibu-ibu yang sampai mengasuh lebih dari satu anak.

Itulah nikmatnya memiliki anak, suami semakin menyayangi dan bahagia, kedua orang tua merasa bahagia karena punya cucu, terasa lengkap dan sempurna dalam kehidupan keluarga kami.

Melihat senyum Hafira membuat saya lupa dengan rasa sakit yang dirasakan sebelumnya, dan saya benar-benar bahagia menjadi seorang ibu.

Artikel Terkait