DI ATAS 5 TAHUN
27 Februari 2019

Memahami Gejala dan Penyebab Skizofrenia pada Anak

Anak penderita skizofrenia juga bisa berprestasi dan hidup dengan normal.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dina Vionetta
Disunting oleh Dina Vionetta

Harus diakui, pemahaman orang tua di Indonesia mengenai skizofrenia pada anak masih sangat minim ya, Moms.

Akibatnya penderita sering langsung dicap “gila” tanpa diberikan kesempatan untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Supaya tidak lagi salah kaprah, ada baiknya Moms membaca lebih lanjut untuk tahu lebih banyak tentang skizofrenia pada anak.

Skizofrenia Pada Anak

memahami gejala dan penyebab schizophrenia pada anak 1

Moms, skizofrenia sebenarnya adalah gangguan kesehatan mental yang membuat penderitanya kesulitan membedakan antara kenyataan dan khayalan.

Biasanya skizofrenia disertai dengan masalah perkembangan kognitif, emosional, dan perilaku yang mengganggu kemampuan anak untuk berfungsi secara normal.

Dalam dunia psikiatri, skizofrenia pada anak berusia di bawah 13 tahun dikenal dengan nama very early-onset schizophrenia.

Walau kasusnya hanya terjadi pada 1 dari 40.000 anak, kondisi skizofrenia pada anak perlu ditangani secara serius.

Baca Juga: 5 Perilaku Orangtua yang Mengganggu Psikologi Anak

Gejala Skizofrenia Pada Anak

memahami gejala dan penyebab schizophrenia pada anak 2

Menurut American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, gejala skizophrenia pada anak yang paling umum adalah:

  • Halusinasi. Mendengar suara atau melihat objek yang sebenarnya tidak ada.
  • Delusi. Sulit membedakan khayalan dan kenyataan.
  • Pemikiran tidak teratur. Saat diajak berbicara sering tidak nyambung dan keluar dari topik.
  • Sering memperlihatkan ekspresi wajah dan intonasi suara datar. Biasanya juga dibarengi dengan sikap acuh tak acuh.
  • Jarang berbicara dan mengungkapkan pikiran, seringkali hanya berbicara saat ditanya dan hanya memberikan jawaban pendek.
  • Paranoia. Selalu merasa terancam dan berada dalam bahaya.
  • Menunjukkan perilaku aneh, tidak pantas, dan tidak teratur yang tidak wajar bagi anak seusianya.

Supaya perilaku anak yang masih senang berimajinasi dan bermain peran tidak sampai salah diartikan sebagai gejala skizofrenia, diagnosa hanya boleh dilakukan oleh psikiater atau psikolog ya, Moms.

Baca Juga: Pertengkaran Orang Tua dan Dampaknya Terhadap Psikologi Anak

Penyebab Skizofrenia pada Anak

memahami gejala dan penyebab schizophrenia pada anak 3

Foto: shemom.com

Dari berbagai hasil penelitian yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang dapat mendorong berkembangnya kondisi skizofrenia pada anak, seperti:

  • Genetik dan keturunan.
  • Beda usia dengan ayah lebih dari 30 tahun.
  • Perubahan anatomi dan keseimbangan kimia pada otak.
  • Trauma masa kecil, seperti pola asuh yang buruk, cedera kepala, atau siksaan fisik dan mental.
  • Komplikasi saat ibu hamil, akibat terkena virus influenza, rubella, infeksi saluran pernapas, kurang gizi, atau konsumsi analgesik.
  • Penyakit autoimun.

Skizofrenia pada anak memang tidak dapat dihilangkan secara total, tapi dipasung dan ditelantarkan sama sekali bukan cara yang manusiawi untuk menghadapinya ya, Moms.

Baca Juga: 4 Cara Sembuh Dari Trauma Persalinan

Jangan takut jika kondisi ini menghampiri sang buah hati, ya, Moms.

Sebab, para ahli dari Children's Hospital of Philadelphia berkata bahwa, dengan diberikan terapi psikososial dan rehabilitasi sejak sedini mungkin, anak penderita skizofrenia sebenarnya akan memiliki kesempatan lebih besar untuk berprestasi, produktif, dan menjalankan hidup dengan normal.

Nah, apa Moms tahu, apalagi salah kaprah tentang gangguan kesehatan mental yang perlu diluruskan selain skizofrenia pada anak?

(WA)

Artikel Terkait