KESEHATAN
3 Mei 2020

Memahami Hiperplasia Duktus Atipikal, Kondisi yang Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Payudara

Pertumbuhan sel-sel payudara akibat kondisi ini bisa meningkatkan risiko kanker payudara
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Sabrina
Disunting oleh Dina Vionetta

Payudara normal memiliki saluran (tabung kecil) yang terhubungan ke sekelompok kantung disebut lobulus.

Sedangkan dilansir oleh American Cancer Society, hiperplasia adalah istilah yang digunakan ketika ada pertumbuhan sel di dalam saluran dan/atau lobulus, tapi tidak bersifat kanker.

Ada dua pola utama hiperplasia pada payudara, yakni hiperplasia duktus dan hiperplasia lobular.

Guna mengetahui seseorang memiliki hiperplasia duktus atau lobular tergantung pada sel-sel pada hiperplasia terjadi di dalam saluran atau lobulus.

Jika seseorang memiliki hiperplasia duktus atipikal (ADH), artinya seseorang memiliki pola pertumbuhan sel abnormal dan memiliki beberapa fitur karsinoma duktal in situ.

Artinya, ADH belum menjadi pra-kanker, meskipun dikaitkan dengan peningkatan risiko terkena kanker payudara di kemudian hari.

Sementara itu dilansir oleh Mayo Clinic, hiperplasia atipikal adalah kondisi prakanker yang memengaruhi sel-sel di payudara.

Hiperplasia atipikal menggambarkan akumulasi sel-sel abnormal pada payudara.

Hiperplasia atipikal bukanlah kanker, tetapi bisa menjadi cikal bakal perkembangan kanker payudara.

Jika sel-sel hiperplasia atipikal terus membelah dan menjadi lebih abnormal, kondisi ini bisa menyebabkan kanker payudara non-invasif (karsinoma in situ) atau kanker payudara invasif.

Jika Moms telah didiagnosis dengan hiperplasia atipikal, Moms memiliki peningkatan risiko terkena kanker payudara di masa depan.

Pada kondisi ini, dokter sering merekomendasikan skrining kanker payudara intensif dan obat-obatan untuk mengurangi risiko kanker payudara.

Baca Juga: Benarkah Kontrasepsi Hormonal Tingkatkan Risiko Kanker Payudara?

Gejala Hiperplasia Duktus Atipikal

Hiperplasia Duktus Atipikal - gejala - shutterstock.jpg

Foto: shutterstock.com

Sebenarnya dilansir oleh verywellhealth.com, gejala hiperplasia duktus atipikal tidak jelas. Tapi, hiperplasia duktus atipikal dapat menyebabkan nyeri payudara, meskipun ini jarang terjadi.

Karena, hiperplasia duktus atipikal bisa tidak terdeteksi hingga butuh tes medis untuk mendiagnosis kanker payudara potensial dilakukan, penting bagi Anda untuk mengetahui tanda dan gejala kanker payudara dan menemui dokter jika Anda melihat adanya perubahan pada payudara Anda yang mengkhawatirkan Anda.

Baca Juga: Sedih, Masih Kecil Anak Ini Sudah Mengidap Kanker Payudara

Penyebab Hiperplasia Duktus Atipikal

Hiperplasia Duktus Atipikal - penyebab - shutterstock.jpg

Foto: shutterstock.com

Selain gejala, penyebab spesifik hiperplasia duktus atipikal juga tidak jelas.

Kondisi ini terjadi akibat sel normal memproduksi berlebihan dan terus berlanjut, sampai akhirnya pertumbuhan sel menjadi tidak teratur.

Jika kondisi ini tidak ditangani dengan baik, maka akan terus berkembang dan menyebabkan kanker payudara. Kondisi ini juga bisa memengaruhi jaringan di sekitarnya.

Adapun faktor-faktor yang meningkatkan risiko seseorang memiliki hiperplasia duktus atipikal yang serupa dengan jenis kanker payudara, termasuk:

  1. Usia: Risiko kanker payudara akan meningkat seiring bertambahnya usia, sebagian besar kanker payudara didiagnosis setelah usia 50 tahun.
  2. Riwayat kesehatan reproduksi : Faktor ini termasuk menstruasi dini (sebelum usia 12) dan mulai menopause setelah usia 55 tahun. Selain itu, orang yang hamil setelah usia 30, tidak menyusui dan tidak pernah memiliki kehamilan penuh.
  3. Punya jaringan payudara yang padat : Payudara yang padat memiliki lebih banyak jaringan ikat daripada jaringan lemak, yang memungkinkan ruang sel kanker tumbuh.
  4. Riwayat keluarga: Risiko seorang wanita lebih tinggi jika dia memiliki kerabat tingkat pertama (orang tua, saudara kandung, anak) yang menderita kanker payudara, atau anggota keluarga lain (keluarga dari kedua sisi orang tua) yang menderita kanker payudara.
  5. Perawatan radiasi sebelumnya: Seorang wanita yang telah menjalani terapi radiasi sebelumnya di dada atau payudaranya sebelum usia 30 memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara di kemudian hari.

Selain 5 kondisi di atas, kelebihan berat badan, konsumsi obat hormon, alkohol dan paparan karsinogen bisa meningkatkan risiko seorang wanita menderita kanker payudara maupun hiperplasia duktus atipikal.

Baca Juga: 3 Kisah Haru Perjuangan Pasien Kanker Payudara di Dunia

Komplikasi yang Bisa Terjadi

Hiperplasia Duktus Atipikal - komplikasi - shutterstock.jpg

Foto: shutterstock.com

Jika Moms didiagnosis dengan hiperplasia atipikal, maka dilansir oleh mayoclinic.org, Mom memiliki risiko lebih besar menderita kanker payudara di masa depan.

Wanita dengan hiperplasia atipikal memiliki risiko kanker payudara seumur hidup, yakni sekitar empat kali lebih tinggi daripada wanita yang tidak memiliki hiperplasia atipikal.

Tingkat risiko kanker payudara juga sama pada wanita dengan hiperplasia duktal atipikal maupun hiperplasia lobular atipikal.

Baca Juga: Bra Berkawat Penyebab Kanker Payudara, Fakta atau Mitos?

Bahkan penelitian terbaru telah mengungkapkan bahwa risiko kanker payudara akan meningkat pada tahun-tahun setelah diagnosis hiperplasia atipikal:

  1. Setelah 5 tahun diagnosis: Risiko kanker payudara pada wanita hiperplasia atipikal berkembang hingga 7 persen.
  2. Setelah 10 tahun diagnosis: Risiko kanker payudara wanita hiperplasia duktus atipikal berkembang 13 persen.
  3. Setelah 25 tahun diagnosis: Risiko wanita dengan hiperplasia duktus atipikal menderita kanker payudara sekitar 30 persen.

Bahkan diagnosis hiperplasia atipikal pada usia yang lebih muda bisa meningkatkan risiko kanker payudara yang lebih besar.

Misalnya, wanita yang didiagnosis dengan hiperplasia atipikal sebelum usia 45 tahun. Wanita itu akan memiliki risiko lebih besar terkena kanker payudara selama masa hidupnya.

Karena itu, Moms perlu mendiskusikan risiko kanker payudara ketika didiagnosis hiperplasia duktus atipikal pada dokter.

Supaya dokter akan membantu skrining kanker payudara dan obat untuk mengurangi risikonya.

Baca Juga: Ini Biaya yang Bisa Dihemat Jika Kanker Payudara Terdeteksi Sejak Dini

Artikel Terkait