3-5 TAHUN
12 Desember 2019

Membuat Channel YouTube Balita, Ini 3 Pertimbangannya

Moms yang berniat bikin channel YouTube balita perlu baca info ini!
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Dina Vionetta

Jika ingin membuat channel YouTube balita, ini hal yang mesti Moms dan Dads perhatikan. Sebab, bukan hanya orang dewasa saja yang bisa terkenal dengan menjadi YouTuber.

Kini sudah banyak channel YouTube balita yang memiliki jutaan subscribers dan membuat bintang utamanya, si anak balita, menjadi populer di jagad maya maupun dunia nyata.

YouTuber cilik dari Indonesia contohnya Zara Cute, Hana Callista, Aqilla’s Dairy, dan Lifia Niala. Rata-rata mereka memulai channel YouTube balita sejak berusia 3 tahunan.

Dikutip dari situs web Jawa Pos, para YouTuber cilik itu ternyata memiliki pendapatan mencapai miliaran rupiah per bulan!

Di luar negeri pun banyak YouTuber cilik, yang memulai “karier” mereka sejak berusia di bawah lima tahun, dengan pendapatan hingga puluhan miliar rupiah per bulan, di antaranya Ryan ToysReview (kini Ryan’s World) dari Amerika Serikat, dengan lebih dari 20 juta subscribers dan Boram Tube ToysReview dari Korea Selatan, dengan 14 juta subscribers.

Tak pelak, banyak anak maupun orang tua ingin meniru kesuksesan tersebut.

Bagaimana dengan Moms?

Sebelum membuat channel YouTube balita untuk si Kecil, ada baiknya Moms memahami poin-poin penting berikut.

Baca Juga: Anak Punya Cita-Cita Jadi YouTuber? Ketahui Plus Minusnya

Yang Harus Diperhatikan Sebelum Membuat Channel Youtube Balita

1. Miliki Alasan yang Jelas

Membuat Channel YouTube Balita, Ini 3 Hal yang Harus Dipertimbangkan 01.jpg

“Orang tua perlu memikirkan secara sungguh-sungguh mengenai materi yang akan ditayangkan [di Internet] karena nanti dapat dilihat oleh siapa pun di dunia ini dan tayangan tersebut akan ada selamanya,” ujar Profesor John Oates, Dosen Senior di Kelompok Studi Anak dan Remaja di Universitas Terbuka, dan pendiri British Psychological Society’s Media Ethics Advisory Group.

YouTube sendiri memiliki kebijakan hanya dapat diakses oleh mereka yang berusia di atas 13 tahun. Artinya, situs web tersebut sebenarnya tidak ditujukan untuk anak-anak.

Maka itu, orang tua perlu memiliki motivasi yang jelas sebelum membuat channel YouTube balita. Minimal Moms dan Dads mengetahui tujuan membuat channel YouTube balita dan konten seperti apa yang ingin diunggah.

2. Beri Pengertian kepada Anak

Membuat Channel YouTube Balita, Ini 3 Hal yang Harus Dipertimbangkan 02.jpg

Bila keputusan membuat channel YouTube balita berdasarkan keinginan si Kecil, orang tua perlu memberi pengertian terlebih dulu mengenai makna dan tujuan kegiatan tersebut.

Menurut Paul Davis, seorang pendidik yang memberikan pelatihan tentang masalah keamanan dan privasi media sosial, jangan sampai anak memanfaatkan YouTube atau media sosial lainnya sebagai media untuk mendapatkan pengakuan.

Tekankan kegiatan mengunggah video ke YouTube sebagai bentuk kreativitas yang positif, alih-alih upaya untuk terkenal atau mendapat pujian.

Baca Juga: YouTube Kids Hadir di Indonesia, Apa Saja Fiturnya untuk Si Kecil?

3. Miliki Panduan Keamanan

Membuat Channel YouTube Balita, Ini 3 Hal yang Harus Dipertimbangkan 03.jpg

Anak usia balita belum dapat membuat keputusan sendiri. Oleh karena itu, orang tua perlu berhati-hati dalam “mempopulerkan” si Kecil di dunia maya – dan nantinya di dunia nyata.

Pastikan Moms dan Dads membaca terlebih dulu Referensi Bagi Orang Tua pada Kebijakan dan Keamanan YouTube. Selain itu, miliki juga rambu-rambu untuk melindungi si Kecil dari risiko eksis di Internet, di antaranya:

Ubah Setelan Privasi Menjadi Video Pribadi

Dengan setelan video pribadi, video yang Moms unggah hanya dapat dilihat oleh Moms dan pengguna yang Moms pilih.

Pada setelan ini juga tidak terdapat fitur komentar sehingga menghindarkan si Kecil dari paparan komentar negatif yang kadang bisa berujung pada perundungan.

Baca Juga: 5 Cara Agar Youtube Aman Diakses Anak di Ponsel Maupun Laptop

Lindungi Identitas Anak

Hindari mencantumkan informasi yang terlalu detail tentang si Kecil pada channel YouTube balita, seperti nama lengkap atau sekolahnya.

Langkah yang lebih aman adalah tidak memperlihatkan wajah si Kecil, misalnya dengan cara membuat konten menciptakan prakarya, unboxing atau toys review yang hanya menyorot tangan anak.

(AN/DIN)

Artikel Terkait