TRIMESTER 3
3 Oktober 2019

Mempertimbangkan Operasi Caesar untuk Kelahiran Anak? Ini Waktu Tepat dan Risikonya!

Melahirkan Caesar kini lebih diinginkan dibanding cara normal. Apa benar?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Ryo
Disunting oleh Ryo

Awalnya, operasi Caesar mungkin baru direkomendasikan sebagai prosedur yang direncanakan, atau dilakukan dalam keadaan darurat, jika melahirkan normal dianggap memiliki risiko yang sangat besar. Biasanya, operasi ini dilakukan setelah minggu ke-38 pada masa kehamilan.

Tapi, sekarang kondisinya berbeda. Belum tentu melahirkan normal berisiko, sudah banyak yang memilih untuk melakukan operasi Caesar. Dengan berbagai alasan. Konon, karena prosesnya cepat dan tidak menimbulkan rasa sakit saat persalinan.

Baca Juga: Daftar Barang yang Wajib Ada di Tas untuk Persiapan Melahirkan

Kapan Operasi Caesar Sebenarnya Diperlukan?

csection-scar-mom-toddler-2160x1200.jpg

Foto: thebump.com

Banyak ibu hamil memilih untuk menjalani operasi Caesar. Padahal ia memiliki opsi untuk melahirkan secara normal.

Alasannya, takut merasakan sakit ketika melahirkan secara normal. Atau, ada yang dengan sengaja mendesain kelahiran bayi di tanggal-tanggal tertentu (contoh: 11/12/13 atau 10/10/10). Atau, ada juga yang tidak ingin menunggu lama layaknya menunggu proses pembukaan jalan lahir yang bisa memakan waktu.

Moms, melahirkan melalui bedah Caesar berarti mengeluarkan bayi melalui sayatan dari perut ibu. Bukan dari vagina.

Dikatakan oleh Holly Ernst, PA-C, seorang asisten obgyn dari Santa Maria, California, Amerika Serikat, sebelum pembedahan, dokter akan melakukan anestesi (pembiusan) epidural, sehingga membuat daerah perut menjadi mati rasa saat melakukan proses penyayatan di bagian bawah area perut.

Jadi, Moms akan sadar selama proses operasi Caesar. Namun akan mengalami mati rasa mulai dari area perut ke bawah. Meski kadang pada keadaan tertentu akan dilakukan pembiusan umum.

Meski dilakukan dalam keadaan sadar, ada tirai pembatas yang membuat Moms tidak bisa melihat dokter ketika menyayat perut Anda. Dokter mungkin akan memberikan obat penenang untuk membantu kita agar lebih rileks.

Tak sampai hitungan jam, Moms bisa mendengar suara tangisan bayi yang keluar dari rahim. Begitulah kiranya proses melahirkan melalui operasi Caesar.

Kendati operasi Caesar adalah prosedur yang umum, harus disadari operasi ini adalah operasi besar. Dan setiap operasi besar, ada risikonya.

Para dokter yang tergabung di American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) sendiri tidak merekomendasikannya, kecuali jika diperlukan karena ada indikasi medis.

Jadi Moms, alangkah baiknya kalau mencoba dahulu untuk melahirkan secara normal. Bukan hanya lebih aman, melahirkan secara normal juga berdampak lebih baik pada kesuburan wanita di masa yang akan datang.

Baca Juga: Catat, Ini 3 Posisi Seks yang Tepat setelah Melahirkan

Lantas, Kapan Waktu yang Tepat untuk Melahirkan Secara Caesar?

Lori Smith, BSN, MSN, CRNP, seorang asisten obgyn dari Amerika Serikat, berkata bahwa Moms baru boleh mempertimbangkan jalur operasi Caesar, jika kondisi Moms atau bayi tidak memungkinkan dari segi medis, seperti:

  • Ukuran bayi terlalu besar, sementara panggul Moms kecil.
  • Bayi menderita kelainan, misalnya spina bifida.
  • Posisi kepala janin tidak berada di bawah atau sungsang.
  • Sang ibu memiliki penyakit jantung atau kondisi medis lain seperti preeklampsia berat yang berisiko memburuk akibat tekanan saat melahirkan.
  • Penurunan suplai darah ke plasenta sebelum kelahiran. Hal ini dapat menyebabkan bayi lahir dengan tubuh kecil.
  • Plasenta previa.
  • Luka terbuka yang disebabkan infeksi herpes genital yang aktif.
  • Sang ibu terinfeksi virus HIV.
  • Terdapat lebih dari satu janin dan kondisi kehamilan yang kompleks, misalnya posisi janin yang kurang ideal atau kembar siam.

Risiko Melahirkan Caesar

shutterstock_336068465.0.jpg

Foto: vox.com

Berikut adalah beberapa risiko yang bisa terjadi saat menjalani operasi Caesar, di antaranya:

  • Rasa sakit setelah operasi. Ini merupakan faktor negatif utama karena rasa sakit bisa berlangsung setidaknya untuk beberapa minggu setelah operasi. Anda mungkin mengalami rasa sakit pada luka sayatan dan adanya ketidaknyamanan di perut Anda.
  • Infeksi, terutama infeksi pada luka bekas operasi, infeksi saluran kemih, dan infeksi pada dinding rahim.
  • Pembekuan darah di kaki atau paru-paru.
  • Kehilangan banyak darah.
  • Efek setelah pembiusan yaitu mual, muntah, dan sakit kepala.
  • Timbulnya luka bekas sayatan dan jaringan parut. Hal ini tidak bisa Anda hindari usai menjalani operasi. Sayatan akan menimbulkan luka pada perut. Biasanya setelah beberapa tahun, luka tersebut akan tersamarkan. Luka bekas operasi Caesar bisa terlihat jika diperhatikan dengan saksama, tapi pada umumnya hampir menyerupai warna kulit di sekitarnya.
  • Cedera pada organ lain. Hal ini dapat terjadi selama operasi.
  • Kematian. Namun hal ini sangat jarang terjadi. Kemungkinannya hanya sekitar 2 dari 100.000 ibu yang meninggal akibat operasi caesar.
  • Risiko jangka panjangnya adalah leher rahim terhalang dengan tumbuhnya plasenta di dalam rahim, kondisi ini biasa disebut plasenta previa. Selain itu bisa juga mengalami gangguan plasenta seperti plasenta akreta yang dapat menyebabkan pendarahan hebat setelah melahirkan.

Baca Juga: Apakah Bisa Menyusui Setelah Melahirkan Caesar?

Nah, itulah pertimbangan sebelum Moms melakukan operasi Caesar. Apakah Moms siap secara lahir dan batin?

(RYO/DIN)

Artikel Terkait