DI ATAS 5 TAHUN
6 Februari 2019

Mencegah Stunting, Harus Dimulai dari Posyandu

Kader Posyandu perlu dilatih untuk bisa melakukan diagnosis awal stunting
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Andra Nur
Disunting oleh Andra Nur

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan, angka stunting pada usia balita di Indonesia mengalami penurunan, dari 37,2 persen (Riskesdas 2013) menjadi 30,8 persen (2018).
Namun, sebanyak 18 provinsi masih memiliki angka stunting sebesar 30-40 persen. Bahkan sebanyak 11,5 persen tergolong sangat pendek. Bila dikalikan dengan jumlah balita di Indonesia, maka jumlahnya tidak bisa dibilang sedikit.

Bukan Soal Perawakan Pendek, Tapi Juga Tingkat Kecerdasan

Foto: Notonthehighstreet.com

Stunting bukan sekadar persoalan perawakan pendek. dr. Damayanti menjelaskan, stunting selalu dimulai dari penurunan berat badan (BB) atau weight faltering akibat asupan nutrisi yang kurang. Yang lebih khawatirkan adalah korelasi stunting dengan risiko retardasi mental.
“Saat BB mulai turun, anak tidak langsung jadi pendek. Terjadi penurunan fungsi kognitif dulu, baru stunting,” papar Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A(K), Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik FKUI/RSCM, dalam acara MilkVersation Hari Gizi Nasional - Investasi Pangan Hewani, Stunting, dan Upaya Selamatkan Generasi Mendatang, Rabu (23/1).


Anak dengan BB kurang dari 10 kilogram, sebanyak 50-60 persen energinya dipakai untuk perkembangan otak. Bila asupan nutrisinya kurang, maka otak yang akan dikorbankan terlebih dulu. Anak yang ‘baru’ mengalami weight faltering saja bisa mengalami penurunan IQ hingga 3 poin. Bisa dibayangkan betapa banyak penurunan IQ yang mungkin muncul bila anak sampai stunting.
Selain fungsi kognitif terganggu, pembakaran lemak pun terganggu. Sehingga ketika anak diberi makan banyak, mudah terjadi obesitas. “Bila ditelusuri, orang yang sekarang mengalami penyakit degeneratif mungkin dulunya stunting,” ujar dr. Damayanti.
Otak dan sinaps-sinapsnya berkembang pesat selama 1000 hari pertama kehidupan atau hingga anak berusia 2 tahun. “Sampai usia dua tahun, anak tidak boleh kekurangan nutrisi sama sekali, karena dampaknya irreversible,” tegas dr. Damayanti.

Cegah Stunting dengan Mengoptimalkan Peran Posyandu

Foto : media-onsugarcom

Menurut dr Damayanti, stunting bisa dicegah jika diketahui sejak dini sebelum anak berusia 2 tahun. Cara yang paling mudah adalah dengan memberdayakan Posyandu. Sebagai struktur terkecil dan terdepan, Posyandu bisa menjangkau masyarakat secara langsung. Para melalui para kader dan petugas gizi/bidan desa, Posyandu diharapkan bisa melakukan diagnosis awal terhadap stunting.
“Di Posyandu, kader dilatih untuk melakukan pengukuran berat dan tinggi badan dengan benar. Seperti mengukur berat badan tanpa baju dan tinggi badan dengan posisi yang benar,” kata dr Damayanti.
Dari situ dapat diketahui besar kenaikan berat badan setiap anak. Dari berat badan itu, kader sudah harus bisa melakukan diagnosis awal apakah anak-anak tersebut masuk ke dalam kategori gizi baik atau justru malnutrisi. Ini bisa diketahui dengan melihat grafik dan tabel WHO 2006.
Jika setelah diukur diketahui bahwa berat berdasarkan usia (WAZ) lebih besar dari +1 atau lebih kecil dari -2 dengan panjang berdasarkan usia (LAZ) lebih kecil dari -2, anak sudah harus langsung dirujuk ke Puskesmas untuk pengukuran panjang badan (PB).


Jika ditemukan anak dengan WAZ antara lebih besar sama dengan -2 dan lebih kecil dari +1, kenaikan berat anak akan sangat menentukan tindakan yang akan diambil. “Kalau tidak naik, langsung rujuk ke Puskesmas. Kalau ada kenaikan, dilihat lagi saat kontrol bulan depan,” jelas dr Damayanti. Artinya, Posyandu bisa menentukan anak mana saja yang harus dirujuk ke Puskesmas untuk segera ditangani dan dilakukan  pemeriksaan lebih lanjut.


“Puskesmas kemudian akan menentukan apakah anak-anak ini perlu penanganan lebih lanjut oleh dokter umum terlatih atau dokter spesialis anak. Tapi utamanya sudah dari Posyandu,” terang dr Damayanti.
Upaya mencegah dan mengatasi stunting membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Tidak hanya tenaga medis dan akademisi, tapi juga berbagai pemangku kepentingan. Orang tua pun harus memantau tumbuh kembang anak, dengan rutin membawa anak ke Posyandu untuk diukur TB, BB, dan lingkar kepalanya.

Baca juga : Pendek Belum Tentu Kurang Gizi atau Stunting, Bisa jadi Karena Hal Ini

Banyak Kendala di Lapangan

Foto : Thinkstock

dr. Damayanti tengah menangani kasus stunting di Pandeglang dengan mengembangkan pencegahan dan penanggulangan stunting berporos Posyandu dan RSUD. Aksi cegah stunting berupa deteksi dini dan tatalaksana bila ada weight faltering.
“Dilakukan skrining stunting di Posyandu, lalu dikirim ke Puskesmas. Bila benar stunting, dirujuk ke RSUD untuk ditangani,” ucap dr. Damayanti.
Kader Posyandu di Pandeglang dilatih untuk bisa mengukur tinggi badan (TB) dan BB anak dengan benar. Sayangnya, meskipun kader sudah dilatih dengan baik, masih ada hal yang menjadi masalah. Posyandu ternyata tidak memiliki alat pengukur TB, sehingga harus dipinjamkan oleh Puskesmas. Ini salah satu kendala yang dijumpai tim dr. Damayanti di lapangan.


Kendala berikutnya, begitu anak ditemukan stunting melalui skrining di Posyandu lalu dirujuk ke Puskesmas, muncullah masalah pembiayaan. “Mereka tidak punya BPJS,” sesal dr. Damayanti. Masalah ini akhirnya diselesaikan dengan dana desa.
Masalahnya tidak berhenti di sana. Di Puskesmas, anak yang dicurigai stunting diperiksa lagi apakah betul ia mengalami stunting. Bila anak dikonfirmasi mengalami stunting, selanjutnya akan dirujuk ke RSUD.

Lagi-lagi, terkendala BPJS. Diupayakan menggunakan SKTM, namun membutuhkan rekening bank tertentu. Sedangkan untuk membuka rekening, keluarga perlu menyediakan Rp 50.000. Bagi masyarakat di daerah tersebut yang tingkat ekonominya rendah, dana sebesar itu tidaklah kecil. “Hal ini memang pada akhirnya berhasil diselesaikan. Tapi kendala-kendala seperti ini harus dibenahi agar penanganan kasus stunting bisa lebih baik lagi,” kata dr Damayanti.

Kepada para ibu yang mendatangi Posyandu, dr. Damayanti selalu menganjurkan pemberian sumber pangan hewani seperti susu atau telur 1 butir per hari untuk mencegah maupun mengatasi stunting. Dengan perbaikan nutrisi, termasuk pemberian susu, kasus stunting di desa tersebut berhasil diturunkan. “Di awal, stunting ditemukan sebesar 17 persen. Setelah tiga bulan, membaik jadi 9 persen,” tutup dr. Damayanti.

Baca juga : Bisakah Mencegah Stunting Pada Bayi dan Anak-anak?

(AND)

Artikel Terkait