PARENTING
15 September 2019

Mencoba Positive Thinking Menghadapi Placenta Previa Marginal

Saya meremehkan kehamilan pertama dengan tetap beraktivitas hingga ke Bandung untuk mengurus acara
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Yunita Valentina (29 th), Ibu dari Ranendra Shaka (6 bln), Member WAG Orami Working Moms dan Orami Newborn.

Saya kira, kehamilan saya baik-baik saja. Sampai suatu ketika, di usia kehamilan 32 minggu, saya mengalami pendarahan.

Malam itu ketika baru pulang dari kantor, dengan badan yang sudah capek dan lemas, saya beniat segera mandi dan tidur.

Di kamar mandi, betapa kagetnya saya ketika melihat darah yang cukup banyak menempel pada pakaian dalam saya. Spontan saya langsung berteriak memanggil suami.

Deg-degan, saya takut keguguran. Apalagi ini adalah kehamilan pertama dan saya tidak merasakan ada yang aneh selama ini. Hasil USG setiap bulan juga bagus.

Thanks to technology, sekarang dokter bisa dihubungi melalui aplikasi chat. Saya chat dokter kandungan yang selama ini menangani saya.

Beliau bilang kemungkinan saya mengalami pembukaan dan diminta bedrest, besok datang ke rumah sakit untuk diperiksa.

Saya kaget. Padahal usia kehamilan masih 32 minggu. Masih jauh dari perkiraan lahir. Namun, saya mengikuti saran dari dokter.

Baca Juga: OMG! Ternyata Saya Mengalami Blighted Ovum alias Kehamilan Kosong

Saya Merasa Telah Meremehkan Kehamilan Pertama

Placenta Previa Marginal (4).jpeg

Besoknya, saya dan suami pergi ke rumah sakit untuk bertemu dokter. Saya diperiksa secara transvaginal untuk melihat apakah benar terjadi pembukaan. Ternyata, belum sampai pembukaan tapi dinding rahim saya robek beberapa milimeter.

Bayi di dalam rahim posisinya sudah terlalu di bawah. Tentu saja saya kaget dan takut mendengarnya. Dokter bilang penyebabnya bisa karena terlalu lelah atau terlalu banyak bergerak.

Saya akui, seminggu sebelum pendarahan, saya memang pergi ke Bandung untuk urusan kerja. Ada event yang harus diurus di sana.

Selama ini, saya merasa masih punya tenaga dan bisa berdedikasi terhadap pekerjaan meski sedang hamil besar.

Padahal, banyak yang menasehati saya untuk berhati-hati kalau sedang hamil, apalagi ini anak pertama. Jangan terlalu capek, jangan stres.

Tapi selama saya masih merasa baik-baik saja, saya akan terus berkegiatan seperti sebelum saya hamil. Ternyata, saya terlalu meremehkan kehamilan pertama ini.

Setelah transvaginal, dilakukan USG. Keadaan bayi sehat dan baik-baik saja, tapi berat badannya masih kurang untuk bisa dilahirkan.

Perasaan menyesal, sedih, ingin menangis bercampur jadi satu saat melihat wajah Si Kecil melalui layar.

Baca Juga: Butuh Perjuangan untuk Berdamai dengan Preeklampsia

Mengalami Placenta Previa Marginal

Placenta Previa Marginal (5).jpeg

Kejutan lain pun datang, ternyata bukan hanya rahim yang robek, tapi juga saya mengalami Placenta Previa Marginal.

Placenta Previa Marginal adalah kondisi di mana plasenta tepat berada di perbatasan leher rahim, padahal normalnya plasenta berada di bagian atas dan jauh dari leher rahim.

Hal ini juga yang menyebabkan pendarahan, dan jika tidak bed rest dengan total, ada kemungkinan bayi lahir prematur.

Saat itu juga, saya disuruh untuk rawat inap, istirahat total sampai pendarahannya berhenti.

Dokter menyarankan untuk langsung mengambil cuti melahirkan dari sekarang, saya tidak diperbolehkan untuk bekerja sampai hari kelahiran tiba.

Saya bingung, karena itu akhir tahun, dan pekerjaan saya sedang banyak-banyaknya di kantor.

Tapi, bayi saya menjadi prioritas yang paling utama. Saya pun mengikuti saran dokter.

Baca Juga: Penghargaan Terbesar untuk Suami yang Memiliki Baby Blues

Menghadapi Beberapa Cobaan Namun Saya Tetap Berusaha Tabah

Placenta Previa Marginal (3).jpeg

Saya langsung masuk kamar dan memberi kabar ke keluarga. Dengan perasaan yang tidak enak, saya juga meminta izin kepada atasan dan teman-teman kerja untuk mengambil cuti melahirkan lebih cepat.

Pekerjaan saya, segera saya alihkan ke teman-teman. Karena, apa boleh buat.

Saya benar-benar istirahat total di rumah sakit, turun dari tempat tidur hanya untuk ke kamar kecil. Saya tidak diizinkan untuk berdiri lama, pokoknya hanya boleh tiduran.

Saya juga tidak diizinkan mengelus-elus perut karena bisa menstimulasi bayi bergerak dan semakin turun ke bawah, apalagi bayi saya termasuk yang aktif.

Hati saya hancur, sedih rasanya dilarang untuk berinteraksi dengan anak sendiri.

Setiap hari detak jantung bayi dicek. Saya juga diberi obat penguat kandungan dan disuntik obat untuk mempercepat pematangan paru-paru bayi saya, untuk berjaga-jaga jika lahir prematur.

Saya benar-benar berharap bayi saya lahir tepat waktu dengan berat badan yang cukup.

Setelah 5 hari, pendarahan saya berhenti dan saya diizinkan pulang ke rumah. Di rumah pun saya benar-benar istirahat dan tetap harus minum obat penguat kandungan.

Meski bosan dan sulit, saya terus berusaha untuk berpikiran positif. Setiap hari, saya menghitung berapa hari lagi sampai pada waktu aman untuk melahirkan Si Kecil.

Saya terus berdoa, agar ia bisa lahir tepat waktu dan sehat. Beruntung saya punya suami dan keluarga yang selalu memberi dukungan, dan mengingatkan saya untuk terus positive thinking dan tidak merasa khawatir.

Suatu hari, saya mendapat kabar tidak terduga. Perusahaan tempat suami saya bekerja gulung tikar dan dia kena lay off.

Padahal saya bisa melahirkan di waktu mendadak dan pastinya butuh dana tidak sedikit. Apalagi bisa dipastikan saya akan melahirkan secara caesar.

Meski begitu, saya yakin bahwa Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk kami berdua. Mungkin juga ini adalah skenario Tuhan, agar suami bisa selalu menemani di rumah.

Baca Juga: Sempat Panik saat Mati Listrik, Ini Pengalaman dan Tips Menjaga ASIP Agar Tetap Sip

Proses Persalinan yang Berjalan Lancar

Placenta Previa Marginal (2).jpeg

Akhirnya hari yang ditunggu tiba. Memasuki kehamilan 37 minggu, bayi saya masih bisa bertahan di kandungan. Saya pergi ke rumah sakit untuk USG dan menentukan jadwal caesar.

Seminggu kemudian, saya bertemu dengan buah hati tercinta pada tanggal 25 Januari 2019, dalam keadaan sehat meski berat badannya tidak mencapai 3 kg.

Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan kebahagiaan saya dan suami saat itu. Perjuangan bayi mungil ini untuk bertahan di dalam kandungan memang sangat luar biasa.

Terima kasih, Nak, kamu telah mengajarkan kami apa itu cinta, perjuangan dan pengorbanan. Kamu adalah kebahagiaan kami dan harta yang paling berharga.

Terima kasih karena telah bertahan selama ini. Izinkan kami menjaga dan merawatmu hingga kelak kamu bisa hidup dengan mandiri. Hingga tiba saatnya kamu melepas genggaman kami.

Artikel Terkait