PROGRAM HAMIL
20 Januari 2020

Mengapa Fertilitas Wanita Berkurang Seiring Usia?

Kromosom yang tidak stabil memengaruhi fertilitas wanita berkurang seiring usia
Artikel ditulis oleh Gladys
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Fertilitas wanita berkurang seiring usia. Ini merupakan fakta yang tidak dapat dibantah.

The American College of Obstetricians and Gynecologists pun menyebutkan bahwa fertilitas wanita menurun secara bertahap dan signifikan, dimulai pada usia 32 tahun dan akan menurun lebih cepat setelah usia 37 tahun.

Fertilitas Wanita Berkurang Seiring Usia

Berangkat dari fakta ini, para peneliti pun mencoba mencari tahu apa penyebab fertilitas wanita berkurang seiring usia. Berikut penjelasannya.

Penelitian Fertilitas dan Usia

1 Penelitian Fertilitas dan Usia.jpg

Foto: verywellfamily.com

Untuk mengetahui mengapa fertilitas wanita berkurang seiring usia, para peneliti dari Max Planck Institute di Göttingen, Jerman dan Bourn Hall Clinic di Cambridge bekerja dalam sebuah studi.

Dalam studi ini terlihat bahwa protein bernama cohesin berkurang seiring dengan usia wanita, juga meningkatkan kemungkinan kesalahan pembelahan sel dan rentan menyebabkan keguguran pada wanita dengan usia lebih tua.

“Wanita usia 40 tahun memiliki telur-telur yang juga berusia 40 tahun, karena telur sudah terbentuk sejak wanita masih menjadi embrio yang sedang berkembang. Kesemuanya sudah memiliki kromosom.

Studi ini menemukan bahwa kromosom tersebut menurun saat wanita semakin menua,” ungkap peneliti senior dari Max Planck Institute, Dr Melina Schuh, seperti dikutip dari bionews.org.uk.

Baca Juga:

Kromosom Tidak Stabil

2 Kromosom Tidak Stabil.jpg

Foto: fabiosa.com

Studi tentang fertilitas wanita berkurang seiring usia yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology ini memperlihatkan bahwa ketidakstabilan kromosom disebabkan oleh penurunan protein kompleks yang sangat penting bernama cohesin.

Protein ini menstabilkan DNA dengan membungkus area spesifik tertentu bagai karet yang ketat. Ini merupakan bagian penting saat pembelahan sel sebelum telur difertilisasi (disebut meiosis).

Proses ini membagi jumlah kromosom dari 46 menjadi 23 per sel telur. Untuk ini, spindle apparatus menarik satu salinan dari setiap pasangan kromosom ke dua kutub yang berlawanan dalam sel dengan mengikat DNA, atau disebut kinetochores.

Penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah cohesin yang lebih rendah pada sel yang lebih tua mengurangi stabilitas dan integritas kinetochores, efek yang dapat diproduksi kembali pada telur lebih muda saat secara buatan mengurangi jumlah sel cohesin.

Baca Juga:

Harapan Untuk Fertilitas Wanita

3 Harapan Untuk Fertilitas Wanita.jpg

Foto: thealternativedaily.com

Penelitian yang ingin mencari tahu mengapa fertilitas wanita berkurang seiring usia tidak hanya kali ini saja. Sebelumnya, para peneliti dari University of Montreal Hospital Research Centre juga menemukan bahwa telur yang sudah menua pada objek penelitian tikus, memperlihatkan ketidakstabilan tingkat mikrotubulus.

Ketidakstabilan ini pun juga menyebabkan pembagian sel yang abnormal yang memengaruhi telur untuk ikut menua seiring usia. Melalui penelitian-penelitian yang masih terus dikembangkan ini, para peneliti berharap dapat mencari jalan keluar agar fertilitas wanita tetap baik meski usia semakin menua.

“Kami sedang mencoba menemukan kemungkinan pengobatan untuk telur, yang mungkin suatu hari dapat membalikkan masalah ini dan meremajakan telur,” ungkap salah satu tim peneliti sekaligus profesor dari University of Montreal Hospital Research Centre, Greg Fitzharris, seperti dikutip dari healthline.com.

Baca Juga:

Harapan untuk memiliki anak meski fertilitas wanita berkurang seiring usia sebenarnya masih banyak. Dengan menjalani gaya hidup sehat dan mengobati masalah fertilitas yang mungkin diidap, dapat membantu memperbesar peluang kehamilan.

Untuk itu, ada baiknya Moms berkonsultasi dengan Dokter untuk melihat kemungkinan masalah infertilitas yang sedang dihadapi.

Artikel Terkait