BALITA DAN ANAK
28 April 2020

Mengapa Jarang Ada Kasus Corona Menyerang Balita?

Ini asumsi dari para ahli
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fitria Rahmadianti
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Menurut data WHO pada 16-24 Februari 2019, kasus COVID-19 pada anak-anak relatif langka dan ringan. Apa, ya, penyebab jarangnya corona menyerang balita dibanding orang dewasa dan lanjut usia?

Perbedaan COVID-19 dengan SARS, MERS, dan Influenza

covid19 corona menyerang balita.jpg

Foto: Vektor Kunst from Pixabay.com

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2).

Meski sama-sama disebabkan oleh virus corona, COVID-19 bukanlah SARS (severe acute respiratory syndrome) atau Middle East respiratory syndrome (MERS). Bukan pula influenza. Virusnya baru dan memiliki karakteristik tersendiri.

Ini perbedaan COVID-19 dengan SARS, MERS, dan influenza:

  • Hewan yang pertama kali menyebarkan virus pada manusia dalam kasus COVID-19 diduga adalah kelelawar, sedangkan SARS akibat musang dan MERS karena unta.
  • Penderita COVID-19 mengalami gejala di usus seperti diare, sedangkan hanya sedikit pasien MERS-CoV dan SARS-CoV yang menderita diare.
  • Penyebaran COVID-19 pada anak-anak terbatas dibandingkan influenza.
  • Gambaran klinis COVID-19 berbeda dengan SARS.

Baca Juga: Pandemi COVID-19 di Australia, Saya Ajak Anak Berdiskusi Demi Kesehatannya

Penyebab Rendahnya Kasus Corona Menyerang Balita

corona menyerang balita.jpg

Foto: Janko Ferlic from Pexels.com

Dari laporan WHO tadi, kasus pada anak-anak di bawah usia 19 tahun “hanya” 2,4% dari total kasus yang dilaporkan. Hampir semua anak yang positif COVID-19 mengalami gejala ringan. “Hanya” 2,5% yang mengalami kondisi parah dan 0,2% yang menderita penyakit kritis.

Pola yang mirip juga terjadi pada banyak penyakit menular lain, mulai dari cacar air dan campak sampai SARS dan MERS.

Belum diketahui pasti penyebab langkanya virus corona menyerang balita. Namun, beberapa ahli mengemukakan asumsinya.

1. Anak-anak Lebih Rendah Risikonya Terkena Infeksi Dibanding Orang Dewasa

“Umumnya untuk virus baru, semua orang terinfeksi,” kata Dr. Bharat Pankhania dari University of Exeter, Inggris. Hal ini disebabkan belum adanya kekebalan terhadap virus tersebut karena tidak ada yang pernah terekspos sebelumnya.

Kasus COVID-19 pada anak-anak paling muda menyerang bayi berusia beberapa hari. Namun, di tahap sangat awal sebuah wabah, anak-anak lebih sedikit yang terjangkit virus. Kalaupun terinfeksi, gejalanya tergolong ringan seperti demam, hidung berair, dan batuk.

“Salah satu alasan kita tidak melihat banyak kasus pada anak-anak adalah mereka sudah terlindungi sejak awal wabah, yakni orang tua menjaga anak-anaknya dari orang sakit,” kata Dr. Nathalie MacDermott dari King’s College London, Inggris.

Baca Juga: Bisakah Terjadi Infeksi Virus Corona pada Balita? Berikut Penjelasannya

2. Tubuh Anak-anak Lebih Kuat Menghadapi Virus

Dr. Andrew Pavia dari University of Utah, Amerika Serikat berpendapat berbeda. Menurut ia, anak-anak sama saja risikonya terekspos penyakit pernapasan. Jadi, kemungkinan anak-anak terkena infeksi tapi lebih mudah sembuh dibanding orang tua dan kakek-neneknya.

Menurut Krys Johnson, seorang ahli epidemiologi dari Temple University College of Public Health, Amerika Serikat, anak yang terjangkit virus corona bukannya tidak menunjukkan gejala sama sekali, melainkan mengalami pneumonia atau adanya cairan terinfeksi di paru-paru akibat virus.

“Namun, karena sistem kekebalan tubuh mereka sangat kuat, virus tersebut tidak melemahkan mereka seperti pada orang dewasa,” kata Krys Johnson, seorang ahli epidemiologi dari Temple University College of Public Health, Amerika Serikat.

3. Sistem Imunitas Bawaan Anak Berbeda dengan Orang Dewasa

Biasanya, anak-anak yang masih sangat kecil mengalami sakit yang lebih parah dibanding anak yang sudah lebih besar atau orang dewasa. Ini terjadi pada kasus flu di mana anak-anak di bawah usia lima tahun (terutama di bawah umur dua tahun) lebih berisiko mengalami komplikasi.

“Orang-orang cenderung lebih parah sakitnya ketika masih sangat muda atau sudah sangat tua karena memiliki ketahanan tubuh yang lebih rendah,” ujar Dr. Pankhania.

Namun, ada perbedaan penting antara sistem imunitas anak-anak dan orang dewasa. Sistem kekebalan tubuh anak-anak belum matang dan cenderung bereaksi berlebihan. Karena itu demam sangat umum terjadi di usia sangat muda.

“Salah satu hipotesisnya adalah respons imun bawaan cenderung lebih aktif pada anak-anak,” jelas Pavia.

Baca Juga: Pasien Corona Terbaru Sebanyak 69 Orang, Dua di Antaranya Balita

Sistem imunitas bawaan (innate) adalah barisan pertahanan terdepan melawan patogen. Sel-sel di dalamnya merespons langsung ke benda asing. Berbeda dengan sistem imunitas adaptif yang belajar mengenali patogen spesifik tapi lebih lambat merespons.

Jika respons imun bawaan lebih kuat pada anak-anak yang terekspos virus corona, mereka bisa lebih siap melawan infeksi dibanding orang dewasa. Jadi, mereka hanya merasakan gejala-gejala ringan.

Mengapa Sistem Imunitas Bawaan Anak-anak Lebih Kuat Dibanding Orang Dewasa?

Menurut Pavia, anak-anak memiliki saluran pernapasan yang lebih sehat karena tidak terekspos asap rokok dan polusi udara separah pada orang dewasa.

Faktor lainnya adalah karena anak-anak tampak lebih sehat secara umum dan lebih jarang mengalami kondisi kesehatan kronis seperti obesitas, diabetes, gangguan autoimun, atau penyakit kardiovaskular. Sebab, pada wabah SARS di tahun 2003 dan MERS di 2012, orang dewasa dengan kondisi kesehatan kronis lebih berisiko meninggal dibanding orang dewasa tanpa kondisi tersebut.

Menurut Johnson, orang dewasa 25 kali lipat lebih berisiko meninggal karena cacar air dibanding anak-anak. Selain itu, meski influenza membuat bayi sengsara, anak-anak yang sudah lebih besar bisa melewatinya dengan lebih mudah dibanding orang dewasa. Angka kematian flu musiman pada orang dewasa 10 kali lebih tinggi dibanding pada anak-anak.

Baca Juga: Cara Mencegah Virus Corona yang Sedang Marak Terjadi

Bagaimanapun, para ahli belum sepenuhnya memahami fenomena jarangnya corona menyerang balita. “Ada sesuatu dengan virus tersebut yang tidak segera menstimulasi sistem imunitas pada anak-anak. Namun apa itu, belum jelas,” aku Dr. MacDermott.

Artikel Terkait