GAYA HIDUP
29 Juli 2019

Mengenal Diabulimia, Gangguan Makan yang Paling Berbahaya di Dunia

Ternyata tak cuma anorexia saja!
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Carla Octama

Tidak sedikit orang menderita gangguan makan, seperti anorexia nervosa atau bulimia.

Ini dimaksudkan agar selalu mencapai berat badan ideal atau selalu langsing.

Hal tersebut bukan hanya mengganggu metabolisme tubuh, tetapi juga mengganggu mental secara serius.

Dari banyaknya gangguan makan, ada salah satu jenis gangguan makan yang diklaim paling berbahaya, yakni diabulimia.

Apa Itu Diabulimia?

Mengenal Diabulimia Gangguan Pola Makan yang Paling Berbahaya di Dunia - apa itu diabulimia.png

Foto: beyondtype1.org

Diabulimia merupakan penggabungan dua kata, yaitu diabetes dan bulimia.

Diabulimia sebenarnya bukan istilah medis, tetapi orang-orang cenderung menyebutnya demikian. Nama medis untuk diabulimia adalah ED-DMT1 atau Eating Disorder-Diabetes Mellitus Type 1.

Menurut organisasi diabetes di Inggris, Diabetes UK, diabulimia adalah gangguan makan yang hanya memengaruhi penderita diabetes tipe 1.

Hal itu terjadi ketika seseorang mengurangi atau menghentikan konsumsi insulin untuk menurunkan berat badan.

“Diabulimia, seperti kebanyakan gangguan makan, dimulai dengan harga diri rendah. Ada kekhawatiran tentang berat badan, citra tubuh, dan tujuan perfeksionisme,” kata Marilyn Ritholz, PhD, Ahli Psikologi Senior di Joslin Center for Diabetes, Massachusetts, Amerika Serikat, sebagaimana dikutip dari beyondtype1.org.

Baca Juga: Gangguan Makan Penyebab Infertilitas?

Ya, saat kita didiagnosis menderita diabetes tipe 1, berat badan kita umumnya turun. Apabila menyuntikkan insulin ke dalam tubuh, ini berarti bisa menambah berat badan.

Insulin sendiri dibutuhkan penderita diabetes untuk memecah gula dari makanan menjadi energi dan memberi asupan untuk lemak, organ, dan otot.

Seseorang dengan diabulimia akan dengan sengaja mengurangi penyuntikkan insulin, bahkan tak memakainya sama sekali.

Ini berarti kita tidak bisa mendapatkan energi yang dibutuhkan dari makanan dan tubuh mulai memecah lemak sebagai gantinya. Tak cuma itu, kadar gula darah kita bisa menumpuk banyak dan ini dapat berakibat fatal.

"Jika Anda memiliki diabetes dan tidak menggunakan insulin, organ Anda akan menjadi jenuh glukosa," kata Marilyn Ritholz, PhD.

"Anda dapat membuat tubuh Anda menjadi DKA (diabetic ketoacidosis) dan Anda dapat mengalami komplikasi diabetes jangka panjang seperti retinopati, nefropati, dan neuropati. Jika tidak dirawat, itu bisa menyebabkan kematian," tutup Marilyn.

Baca Juga: Hati-Hati Anoreksia Saat Hamil

Konsekuensi Kesehatan

Mengenal Diabulimia Gangguan Pola Makan yang Paling Berbahaya di Dunia - konsekuensi kesehatan.jpg

Foto: .rxwiki.com

Diabulimia memiliki gejala yang hampir mirip saat diagnosis diabetes awal.

"Semua gejala yang ditemukan dalam diagnosis diabetes dini," kata Ann Goebel-Fabbri, PhD, seorang psikolog yang bekerja di Joslin Center for Diabetes selama 16 tahun.

Tanda diabulimia terlihat dari penurunan berat badan yang cepat ketika makan dengan porsi normal, kelelahan fisik, nafsu makan meningkat, perubahan suasana hati, berkurangnya konsentrasi dan DKA yang berulang.

DKA berulang ditandai oleh polidipsia (haus berlebihan), poliuria (sering buang air kecil) dan/atau polifagia (peningkatan kelaparan).

Dari tanda tersebut, diabulimia bisa diketahui dan akan memberikan konsekuensi kesehatan.

Tidak peduli berapa pun usianya, diabulimia dapat memiliki efek yang menghancurkan tubuh.

Seperti yang sudah dijelaskan oleh Marilyn Ritholz, PhD, penderita diabulimia dapat mengalami komplikasi diabetes dan bisa berujung ke kematian.

Jika dijabarkan, konsekuensi kesehatan yang bisa dialami penderita diabulimia terbagi menjadi dua, yakni konsekuensi jangka pendek dan konsekuensi jangka panjang.

Konsekuensi jangka pendek yang terjadi adalah dehidrasi, sering buang air kecil dan glukosuria, haus yang tak terpuaskan, nafsu makan meningkat, kadar glukosa darah tinggi, kelelahan, penurunan konsentrasi, dan ketidakseimbangan elektrolit.

Konsekuensi jangka panjang termasuk serangan jantung, stroke, retinopati, nefropati, neuropati perifer (kelemahan, mati rasa, dan/atau nyeri pada tangan dan kaki), gastroparesis, penyakit pembuluh darah, penyakit gusi, penyakit mikrovaskular yang memengaruhi mata, ginjal, dan jantung dan infertilitas (gangguan kesuburan.

Baca Juga: 3 Gejala Diabetes yang Mudah Dikenali

Penanganan untuk Penderita Diabulimia

Mengenal Diabulimia Gangguan Pola Makan yang Paling Berbahaya di Dunia - penanganan diabulimia.jpg

Foto: counsellorwhocares.co.uk

"Perawatan harus benar-benar dimodifikasi, karena sebenarnya sangat berbahaya untuk beralih dengan cepat dari glukosa yang sangat tinggi ke angka target.

"Ini dapat mengakibatkan sesuatu yang disebut komplikasi yang disebabkan oleh pengobatan. Proses penurunan rentang glukosa perlu bertahap.

"Pemulihan juga tergantung pada penderita. Ada risiko depresi ketika Anda menderita Tipe 1, sehingga pasien perlu menemui psikiater dan menerima obat jika itu diperlukan," ujar Ann Goebel-Fabbri, PhD.

Walau begitu, penderita diabulimia disarankan cari bantuan nutrisi, medis, dan psikologis dari para profesional kesehatan seperti, ahli endokrin, konselor diabetes, ahli gizi, dan psikolog.

(SA)

Artikel Terkait