PROGRAM HAMIL
27 November 2019

Mengenal Hipogonadisme yang Dapat Mengganggu Kesuburan Pria

Yuk, cari tahu seperti apa gejala hipogonadisme.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Dina Vionetta

Hipogonadisme pada pria adalah kondisi ketika kelenjar seks (gonad, terdapat di testis) tidak memproduksi testosteron yang cukup.

Testis mempunyai dua fungsi utama: memproduksi testosteron dan sperma.

Dikutip dari situs web Oxford Medicine, testosteron adalah hormon yang berperan penting dalam proses reproduksi, yaitu memastikan perpindahan sperma ke sel telur.

Namun, testosteron juga mempunya fungsi pendukung lain bagi organ-organ tubuh di luar reproduksi, termasuk menumbuhkan bulu tubuh, menjaga fungsi seksual pria, serta menjaga massa otot dan massa tulang.

Menurut Puneet Masson, M.D., dosen bidang urologi dan direktur Program Kesuburan Pria di Penn Fertility Care, hipogonadisme berpotensi mengganggu kesuburan pria karena bisa mengganggu produksi sperma.

“Hipogonadisme dapat menyebabkan masalah pada hubungan seksual karena kondisi ini akan menurunkan libido pria dan mempengaruhi ereksi,” ujar dokter Masson.

Kadar sperma yang rendah akibat hipogonadisme itu pun akan membuat program hamil lebih sulit.

Baca Juga: Benarkah Mengonsumsi Suplemen Testosteron Bisa Meningkatkan Kesuburan Pria?

Jenis Hipogonadisme

Mengenal Hipogonadisme yang Dapat Mengganggu Kesuburan Pria 01.jpg

Foto: medicinenet.com

Pria dapat memiliki hipogonadisme sebagai kondisi bawaan sejak lahir atau muncul pada waktu tertentu dalam hidupnya akibat infeksi atau cedera. Terdapat dua jenis hipogonadisme:

Primer

Hipogonadisme primer ditandai dengan testis yang bermasalah.

Pada kondisi ini, testis dapat menerima sinyal dari otak untuk menghasilkan testosteron, tetapi karena suatu hal, testis tidak mampu melakukannya.

Dikutip dari situs web Cleveland Clinic, kasus hipogonadisme primer lebih banyak terjadi dibandingkan yang sekunder.

Sekunder

Hipogonadisme sekunder berarti ada masalah di hipotalamus atau kelenjar pituitari, yaitu dua bagian otak yang memproduksi hormon.

Pada kondisi ini, otak tidak mampu mengirim sinyal ke testis untuk menghasilkan testosteron.

Akibatnya, kadar testosteron rendah dan pada air mani tidak terdapat sperma.

Hipogonadisme sekunder umumnya bawaan dari lahir dan sering kali baru terdeteksi pada masa remaja saat pria tersebut telat melalui pubertas atau tidak melalui periode pubertas secara normal (fisik tidak berkembang, otot tidak terbangun, bulu tidak tumbuh atau tumbuh hanya sedikit, gangguan pertumbuhan penis atau testis).

Pada pria dewasa, gejala hipogonadisme meliputi disfungsi ereksi, gairah seksual rendah, masalah kesuburan, osteoporosis, dada membesar seperti payudara, dan berkurangnya massa otot.

Baca Juga: Kenali Penyakit Klamidia yang Bisa Merusak Kesuburan Pria

Pengobatan Hipogonadisme

Mengenal Hipogonadisme yang Dapat Mengganggu Kesuburan Pria 02.jpg

Foto: universityhealthnews.com

Kabar baiknya, kasus hipogonadisme sekunder pada pria di usia reproduksi dapat diatasi dengan terapi penggantian testosteron (testosterone replacement therapy) untuk membantu mengatasi masalah kesuburan pria.

Rekomendasi ini antara lain dikemukakan dalam Journal of Advanced Pharmaceutical Technology & Research.

Bila produksi testosteron kembali normal, maka testis dapat menghasilkan sperma secara normal. Harapannya, kondisi ini akan memperbaiki kesuburan pria.

Peluang Kesembuhan Hipogonadisme

Mengenal Hipogonadisme yang Dapat Mengganggu Kesuburan Pria 03.jpg

Foto: drsafehands.com

Namun, peluang keberhasilan pria tersebut untuk bisa hamil dengan pasangannya juga bergantung pada faktor lain, di antaranya kesuburan perempuan, usia kedua pasangan, serta gaya hidup keduanya.

Namun, pada kasus hipogonadisme primer, peluang penyembuhannya cukup sulit.

Pria dengan kondisi ini biasanya disarankan menjalani prosedur teknik reproduksi berbantu seperti in vitro fertilization (IVF) atau inseminasi buatan.

Jika Dads memperlihatkan salah satu gejala hipogonadisme seperti disebut di atas, segera ajak dia untuk memeriksakan diri ke dokter.

Semakin dini terdeteksi, semakin cepat Dads dapat mencegah efek jangka panjang hipogonadisme dan mengobati gejala saat ini.

Baca Juga: Membesarkan Otot dengan Steroid Anabolik, Pengaruhi Kesuburan Pria?

(AN/DIN)

Artikel Terkait