KESEHATAN
26 Agustus 2019

Mengenal Hukuman Kebiri Kimia untuk Pelaku Predator Seks

Dengan hukuman kebiri kimia, diharapkan dorongan seksual pelaku kejahatan seksual akan berkurang
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Intan Aprilia

Maraknya kasus kejahatan seksual, baik terhadap anak-anak maupun remaja, seperti tidak pernah ada habisnya.

Dilansir dari Kompas, kasus pemerkosaan yang baru-baru ini terjadi, dilakukan oleh Muh Aris, pria berusia 20 tahun, asal asal Mojokerto, Jawa Timur. Pria ini dijatuhi hukuman kebiri kimia setelah terbukti melakukan pemerkosaan terhadap 9 anak.

Menanggapi kasus ini dan kasus kejahatan seksual lainnya, akhirnya Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Baca Juga: 4 Cara Melindungi Anak Dari Bahaya Predator Seksual

Perppu ini mengatur hukuman kebiri kimia bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Sanksi yang diberikan berupa kebiri secara kimia (kimiawi) serta pemasangan alat deteksi elektronik untuk mendeteksi pergerakan pelaku setelah keluar dari penjara. Perppu ini pun disahkan menjadi UU Nomor 17 Tahun 2016.

Hukuman kebiri kimia yang akan dilakukan ini merupakan eksekusi pertama yang akan dilakukan di Indonesia.

Karena itu, untuk melaksanakannya pun ternyata masih mengalami kendala. Mengutip dari Kompas, hal ini diakui langsung oleh Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Richard Marpaung.

Mungkin banyak juga dari kita yang belum mengerahui tentang kebiri kimia. Untuk mengetahui detailnya, simak penjelasannya di bawah ini ya Moms.

Apa Itu Kebiri Kimia?

hukuman kebiri kimia, kebiri kimia

Hukuman kebiri ini memang baru di Indonesia. Umumnya ada dua teknik kebiri yang bisa dilakukan. Pertama adalah kebiri fisik, dan kedua, kebiri kimiawi.

Kebiri fisik dilakukan dengan cara melakukan amputasi atau pemotongan pada organ seks eksternal pemerkosa.

Hal ini tentunya akan membuat si pelaku berkurang hormon testosteronnya, sehingga dorongan seksualnya pun berkurang.

Sementara itu, kebiri kimia, sesuai namanya dilakukan dengan cara menyuntikkan zat kimia anti-androgen ke tubuh seseorang, jadi bukan pada alat kelamin ya.

Hal ini bertujuan untuk, mengurangi produksi hormon testosteron, untuk menekan gairah seksual. Hasil yang akan didapatkan pun sama dengan kebiri fisik.

Dengan dilakukannya kebiri kimia, pelaku kejahatan seksual diharapkan kehilangan dorongan seksual sehingga tidak ingin dan tidak mampu lagi untuk melakukannya.

Meski begitu, dorongan seksual sebenarnya tidak hanya dipengaruhi oleh hormon testosteron saja.

Ada banyak faktor pendorong bagi seseorang untuk mendapatkan dorongan seksual, seperti faktor psikologis, kondisi kesehatan, hingga pengalaman seksual juga bisa berpengaruh.

Maka dari itu, melakukan kebiri kimia bukan berarti si pelaku tidak akan memiliki keinginan seksual lagi. Hal ini tidak bisa menjamin dorongan seksual seseorang akan hilang.

Baca Juga: Waspada! Ini 6 Penyakit Menular Seksual yang Harus Diketahui dan Dihindari!

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Tidak Setuju

hukuman kebiri kimia, kebiri kimia

Kerena melakukan jenis hukuman baru yang pertama kalinya dilakukan di Indonesia, hal ini pun mendapat tentangan dari berbagai pihak, salah satunya datang dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

IDI menyatakan bahwa timnya menolak untuk menjadi eksekutor hukuman kebiri kimia ini. Menurut para dokter, perppu mengenai kebiri kimia ini bertentangan dengan etika kedokteran.

Para dokter mendukung sepenuhnya terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku kekerasan seksual pada anak.

Namun menolak menjadi eksekutornya, karena IDI berpendapat hal ini akan menimbulkan ketidakadilan bagi pelaku.

Baca Juga: Grooming, Taktik Pelaku Kekerasan Seksual Anak dalam Mendekati Calon Korban

Dari Kompas diketahui IDI akan mendukung hal ini jika tujuannya adalah rehabilitasi. Mereka percaya tentu hasilnya akan lebih efektif. Selain itu, juga siap sedia menjadi eksekutor.

Menanggapi hal ini, pemerintah menyatakan bahwa penerapan hukuman kebiri hanya akan dilakukan pada pelaku yang sudah dewasa saja. Sedangkan pelaku yang masih anak-anak akan dibebaskan dari hukuman ini.

Selain itu, pemerintah juga mengatakan bahwa pemberian hukuman kebiri dilakukan bersamaan dengan proses rehabilitasi.

Bagaimana tanggapan Moms mengenai hukuman kebiri kimia ini?

Artikel Terkait