KESEHATAN
14 Maret 2020

Mengenal Keadaan Parestesia (Kesemutan), Penyebab, Gejala, dan Diagnosanya

Ternyata, hampir semua orang pernah mengalami parestesia atau yang biasa kita kenal dengan sebutan kesemutan.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Sabrina
Disunting oleh Dina Vionetta

Hampir setiap orang pernah mengalami parestesia pada suatu waktu di mana saat kita duduk terlalu lama dengan kaki bersilang atau tertidur dengan menumpu pada tangan.

Dilansir dari National Institute of Neurological Disorders and Stroke, parestesia mengacu pada sensasi terbakar atau tusukan yang biasanya dirasakan di tangan, lengan, kaki, atau kaki, tetapi juga dapat terjadi di bagian lain tubuh.

Sensasi, yang terjadi tanpa peringatan, biasanya tidak menyakitkan dan digambarkan sebagai kesemutan atau mati rasa.

Parestesia atau kesemutan biasanya terbagi menjadi dua bagian, yakni kesemutan sementara atau kesemutan kronis.

Gejala Parestesia

parestesia - gejala - freepik.jpg

Foto: freepik.com

Parestesia dapat memengaruhi bagian tubuh manapun, tetapi biasanya memengaruhi tangan, lengan, dan kaki.

Biasanya, bagian tubuh yang terkena parestesia akan merasa mati rasa, lemah, sensasi terbakar, sensasi menggelitik, dan terasa seperti ditusuk jarum.

Walau begitu, parestesia dapat hilang dalam hitungan waktu, yakni bisa beberapa menit atau berjam-jam.

Jika parestesia kronis, ini menyebabkan rasa sakit yang jauh lebih menusuk dan biasanya terjadi terus menerus.

Baca Juga: 7 Penyebab Sering Kesemutan, Yuk Cari Tahu!

Penyebab Parestesia

parestesia - penyebab - istockphoto.jpg

Foto: istockphoto.com

Larry Burchett, M.D., seorang dokter yang berbasis di California menyebutkan bahwa kesemutan sementara terjadi ketika arteri terkompresi atau adanya tekanan pada saraf.

Namun, parestesia kronis merupakan tanda kerusakan saraf, seperti radikulopati dan neuropati.

Radiculopathy adalah suatu kondisi di mana akar saraf menjadi padat, teriritasi, atau meradang. Ini dapat terjadi ketika kita memiliki disk herniasi yang menekan saraf, penyempitan kanal yang mentransmisikan saraf dari sumsum tulang belakang ke ekstremitas kita, dan massa apapun yang menekan saraf saat keluar dari tulang belakang.

Neuropati terjadi karena kerusakan saraf kronis. Penyebab neuropati yang paling umum adalah hiperglikemia, atau gula darah tinggi.

Kemungkinan penyebab neuropati lainnya termasuk trauma, cedera gerakan berulang, penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis, penyakit ginjal, penyakit hati, tumor di otak atau saraf terdekat, defisiensi vitamin B1, B6, B12, E, atau niasin, kemoterapi, paparan zat beracun, gangguan jaringan ikat.

Sehingga, hal tersebut menyebabkan mati rasa atau kelumpuhan permanen.

Baca Juga: Waspadai 5 Penyakit Ini Saat Moms Sering Kesemutan di Tangan!

Pencegahan Parestesia

parestesia - pencegahan - istockphoto.jpg

Foto: istockphoto.com

Kesemutan tidak selalu dapat dicegah. Namun, yang bisa dilakukan adalah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi tingkat keparahan dari parestesia.

Misalnya, menggunakan splint pergelangan tangan di malam hari yang bisa mengurangi kompresi saraf tangan kita.

Apabila untuk mencegah parestesia kronis, kita bisa melakukan hal ini:

Diagnosa dan Pengobatan Parestesia

parestesia - penanganan - istockphoto.jpg

Foto: istockphoto.com

Perawatan tergantung pada penyebab kesemutan yang dialami. Dimungkinkan untuk mengobati kondisi kita terlebih dulu, misalnya jika kita memiliki cedera gerakan berulang, beberapa penyesuaian gaya hidup atau terapi fisik dapat mengobati kondisi tersebut.

Pun dengan kesemutan yang disebabkan oleh penyakit yang mendasarinya. Mendapatkan perawatan untuk penyakit tersebut berpotensi meredakan gejala parestesia.

Ya, temui dokter jika Moms dan Dads memiliki parestesia persisten tanpa sebab yang jelas untuk berikan riwayat kesehatan. Dokter akan mempertimbangkan kondisi kesehatan yang diketahui untuk membantu mereka membuat diagnosis.

Baca Juga: Ini 8 Penyebab Kepala Kesemutan yang Bisa Jadi Penyakit Berat!

Artikel Terkait