KESEHATAN
9 Desember 2019

Mengenal Penyakit Parkinson, dari Gejala sampai Pengobatan

Otot kerap kaku atau tangan sering bergetar bisa jadi gejala Parkinson
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Terkadang setelah beraktivitas berat seperti berolahraga dapat membuat otot terasa kaku. Jika hal tersebut disertai dengan tangan atau lengan yang bergerak tanpa kontrol, bisa jadi tanda-tanda penyakit Parkinson. Parkinson adalah penyakit berupa kelainan saraf yang bersifat progresif.

Tanda-tanda awal penyakit ini biasanya berkaitan dengan pergerakan tubuh. Pergerakan otot yang lentur dan terkoordinasi terjadi karena adanya zat dalam otak yang disebut dopamin. Dopamin ini memproduksi sebuah bagian dari otak yang disebut "substantia nigra".

Nah, penyakit parkinson ini terjadi karena sel-sel dari substantia nigra ini mulai mati. Ketika ini terjadi, tingkat dopamin dalam otak juga menjadi berkurang. Saat kadar dopamin ini merosot ke 60 sampai 80 persen, gejala-gejala penyakit parkinson biasanya mulai muncul.

Baca Juga: 7 Cara Mudah Mengatasi Kram Otot Saat Hamil

Gejala Awal Penyakit Parkinson

parkinson

Foto: medicalnewstoday.com

Dokter Nancy Hammond dari Kansas University, Amerika Serikat (AS) mengungkapkan tanda-tanda awal penyakit parkinson biasanya tidak teridentifikasi. "Tubuh kita mungkin sudah berusaha mengingatkan bahwa ada kelainan dalam pergerakan kita bertahun-tahun sebelum terjadi kesulitan dalam bergerak. Karena itu, penting sekali mengenali gejala awal parkinson," ungkapnya seperti dikutip dari healthline.com.

Beberapa gejala awal parkinson bisa muncul beberapa tahun, sebelum adanya masalah motorik, diantaranya sebagai berikut:

  • Berkurangnya kemampuan mencium bau (anosmia)
  • Mengalami konstipasi
  • Tulisan tangan berubah jadi kecil dan keriting
  • Terjadi perubahan suara
  • Postur tubuh yang mulai membungkuk

Berikutnya, ada empat gejala utama yang berpengaruh pada motorik, yakni :

  • Tremor atau gerakan tidak terkontrol
  • pergerakan tubuh yang melambat
  • Lengan, kaki dan otot trunk terasa kaku
  • Terjadi masalah keseimbangan dan cenderung mudah jatuh

Baca Juga: 4 Cara Mengatasi Nyeri Otot Setelah Olahraga

Sementara untuk gejala-gejala sekunder antara lain :

  • Ekspresi wajah yang kosong
  • Kesulitan berjalan
  • Suara mengecil saat berbicara
  • Keseimbangan tubuh menjadi buruk
  • Kemampuan gerak otomatis menurun, seperti mengedip dan lengan yang mengayun saat berjalan

Untuk gejala-gejala penyakit parkinson yang lebih parah, diantaranya:

  • Beberapa bagian kulit menjadi bersisik
  • Risiko melanoma meningkat
  • Terjadi gangguan tidur, termasuk berbicara saat tidur
  • Depresi
  • Cemas berlebihan
  • Mulai berhalusinasi
  • Mulai kesulitan untuk mengingat dan fokus

Penyebab Gejala Penyakit Parkinson

parkinson

Foto: microbiomepost.com

Lantas apa saja penyebab penyakit parkinson. Sebenarnya tidak ada yang bisa mengidentifikasi dengan akurat penyebab penyakit ini. Bisa ditimbulkan dari keturunan dan juga dampak dari lingkungan. Beberapa ilmuwan bahkan berpikir bahwa virus yang memicu terjadinya penyakit parkinson. Meski begitu, ada dua pemicu yang diyakini mendorong terjadinya parkinson:

  1. Kadar dopamin dan norepinefrin yang rendah.
  2. Adanya protein abnormal atau disebut lewy body dalam dementia.

Baca Juga: Hati-hati, Sepatu High Heels Bisa Tingkatkan Risiko Cedera Otot dan Persendian

Untuk faktor risiko, para peneliti telah mengelompokkan sejumlah orang yang memiliki potensi menderita penyakit parkinson. yakni:

Jenis kelamin : Laki-laki lebih sering menderita penyakit ini dibandingkan perempuan

Ras : Ras kulit putih juga lebih berpotensi terserang penyakit parkinson daripada ras afrika, amerika atau asia

Usia : Penyakit parkinson biasanya muncul di usia antara 50 dan 69 tahun. Namun, ada sekitar 5-10 persen kasus terjadi pada usia sebelum 40 tahun

Riwayat keluarga : Orang yang memiliki anggota keluarga dengan penyakit parkinson, maka lebih mungkin menderita penyakit yang sama.

Zat beracun : Terpapar zat beracun juga bisa meningkatkan risiko terkena parkinson

Cedera kepala : Orang yang pernah menderita cedera kepala juga lebih mungkin menderita parkinson

Untuk pengobatan maupun penanganan penyakit parkinson, biasanya berkaitan dengan kombinasi dari perubahan gaya hidup, pemberian obat-obatan dan terapi. Istirahat yang cukup, rutin berolahraga dan diet seimbang sangat penting bagi penderita parkinson.

Kemudian untuk terapi, terapi berbicara, terapi okupasi dan terapi fisik bisa membantu meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan juga kepedulian para penderita penyakit parkinson terhadap diri sendiri.

Baca Juga: 7 Cara Mudah Mengatasi Kram Otot Saat Hamil

Pada banyak kasus, pemberian obat-obatan akan dilakukan untuk mengendalikan gejala mental dan fisik yang beragam. Berikut beberapa jenis obat yang diberikan bagi para penderita penyakit parkinson :

Levodopa

Levodopa adalah pengobatan yang paling sering dilakukan untuk penyakit parkinson. Obat ini membantu meningkatkan kadar dopamin.

Carbidopa

Carbidopa biasanya juga diberikan dikombinasikan dengan levodopa. Carbidopa ini bertujuan mencegah pecahnya levodopa di dalam aliran darah sehingga levodopa bisa masuk ke dalam otak.

Agonis Dopamin

Agonis dopamin bisa meniru cara kerja dopamin dalam otak. Obat ini memiliki efek yang sama dengan levodopa namun tidak menghasilkan dopamin.

Jika Moms merasa mengalami beberapa gejala awal penyakit parkinson, tidak ada salahnya segera mengunjungi dokter. Biasanya dokter akan menanyakan detail gejala dan riwayat medis untuk menentukan apakah kita perlu segera menemui spesialis atau tidak.

Artikel Terkait