KESEHATAN
15 Oktober 2019

Mengenal Pseudobulbar, Gangguan Mental yang Membuat Joker Tertawa Tak Terkendali

Penderita bisa terkena depresi
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Orami

Apakah Moms atau Dads sudah menonton film Joker? Jika iya, Moms pasti tahu persis bahwa karakter Arthur Fleck alias Joker yang diperankan dengan apik oleh aktor Joaquin Phoenix memiliki gangguan mental yang membuatnya kerap tertawa tidak terkendali. Ternyata, kondisi medis yang dialami musuh bebuyutan Batman ini adalah nyata, lho.

Kondisi medis tersebut dinamakan Pseudobulbar Affect atau disingkat PBA. PBA adalah kondisi neurologis yang ditandai dengan tawa atau tangisan yang tidak terkendali.

"Ini adalah gangguan neurologis yang dapat sangat menganggu kehidupan seseorang. Cukup sering kita melihat orang yang cenderung mengisolasi diri karena mereka tidak dapat mengendalikan emosi ini,"papar psikolog sekaligus media personality asal Amerika Serikat, Dr. Jeff Gardere seperti dikutip dari insideedition.com.

PBA biasanya terjadi pada orang dengan kondisi neurologis tertentu atau yang pernah mengalami cedera. Hal tersebut mempengaruhi cara otak mengendalikan emosi.

Baca Juga: Psikolog Jelaskan Alasan Film "Joker" Bukan Tontonan untuk Anak

Penderita PBA tetap mengalami emosi secara normal. Namun, terkadang cara mengekspresikan emosi tersebut berlebihan atau tidak pantas.

Dampaknya, emosi berlebihan ini justru dapat menjadi memalukan dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

PBA sering tidak terdiagnosis atau bahkan disalahartikan dengan gangguan mood. Setelah didiagnosis, biasanya PBA dapat dikelola dengan bantuan obat-obatan.

Gejala Pseudobulbar Affect

EFJzEGSWkAYiTBQ.jpg

Tanda utama dari PBA adalah ledakan tangis atau tawa yang tidak terkendali atau berlebihan. Luapan tawa atau tangis ini juga kerap tidak berhubungan dengan keadaan emosi penderita yang sebenarnya.

Suasana hati orang dengan PBA akan tampak normal di antara episode luapan tawa atau tangis, yang dapat terjadi kapan saja.

Tingkat respon emosional yang disebabkan oleh PBA sering mencolok, yakni dengan menangis atau tertawa hingga beberapa menit.

Misalnya, salah seorang penderita PBA mungkin tertawa tak terkendali dalam menanggapi komentar yang agak menghibur. Atau mungkin saja, tertawa atau menangis dalam situasi yang orang lain tidak melihatnya sebagai suatu hal yang lucu atau sedih. Respon emosional ini biasanya mewakili perubahan dari bagaimana penderita PBA sebelumnya merespon.

Ekspresi penderita PBA yang lebih sering adalah menangis, daripada tertawa. Karena itu, kondisi medis ini juga kerap disalahartikan sebagai depresi.

Namun, episode PBA durasinya cenderung lebih pendek, dibanding depresi yang bisa menyebabkan perasaan sedih yang terus-menerus.

Juga, orang-orang dengan PBA juga tidak menderita gejala-gejala tertentu dari depresi, seperti gangguan tidur atau kehilangan nafsu makan. Tetapi depresi adalah hal yang biasa di antara mereka yang memiliki pseudobulbar.

Baca Juga: Penyebab Depresi Secara Biologis dan Psikologis, Simak Penjelasannya di Sini!

Kapan Penderita Pseudobulbar Affect Harus ke Dokter?

Pseudobulbar joker.jpg

Jika kita merasa mengidap PBA, bicarakan dengan dokter, di antaranya psikiater dan dokter spesialias saraf.

Sementara bagi yang pernah memiliki rekam medis terkait kondisi neurologis, kemungkinan dokter yang bersangkutan dapat mendiagnosis PBA.

Karena itu, diperkirakan bahwa banyak kasus pseudobulbar tidak dilaporkan dan tidak terdiagnosis karena kurangnya kesadaran tentang kondisi tersebut.

Penyebab Pseudobulbar Affect

joklerfilm2019-2.jpg

PBA biasanya terjadi pada orang dengan kondisi neurologis atau cedera, termasuk:

  • Pukulan
  • Amyotrophic lateral sclerosis (ALS)
  • Multiple sclerosis (MS)
  • Cidera otak traumatis
  • Penyakit Alzheimer
  • Penyakit Parkinson

Sementara penelitian lebih lanjut diperlukan, penyebab PBA diyakini melibatkan cedera pada jalur neurologis yang mengatur ekspresi emosi eksternal.

Baca Juga: 7 Cara Membesarkan Anak dengan Gangguan Kecemasan

Komplikasi Pseudobulbar Affect

images (1).jpg

Gejala PBA yang parah dapat menyebabkan rasa malu, isolasi sosial, kecemasan, dan depresi. Kondisi ini dapat mengganggu kemampuan individu tersebut untuk bekerja dan melakukan tugas sehari-hari, terutama ketika yang bersangkutan sudah menghadapi kondisi neurologis.

(SERA)

Artikel Terkait