KESEHATAN
13 Agustus 2019

Mengenal Sindrom Guillain Barre yang Bisa Terjadi pada Balita

Bukan penyakit, namun kelainan autoimun
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Dina Vionetta

Sindrom Guillain Barre adalah kelainan autoimun yang jarang ditemui kasusnya, namun cukup serius. Penyakit ini menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel saraf yang sehat dalam sistem saraf perifer kita (peripheral nervous system).

Penyakit ini menyebabkan penderitanya menjadi lemah, mati rasa, merasa kesemutan, dan akhirnya dapat menyebabkan kelumpuhan.

“Karena kelainan autoimun ini mengenai susunan saraf, akibatnya adalah kelumpuhan akut,” jelas Dr. dr. Dwi Putro Widodo, dokter spesialis anak konsultan saraf. “Biasanya dimulai dari kaki disertai rasa sakit atau kesemutan. Jadi penderita akan mengalami kelumpuhan dan tidak bisa jalan,” tambahnya.

Baca Juga: Sindrom Pica, Gangguan Makan Aneh Yang Sering Terjadi Pada Balita

Penyebab kondisi ini tidak diketahui, tetapi biasanya dipicu oleh penyakit menular, seperti gastroenteritis (iritasi lambung atau usus) atau infeksi paru-paru.

Menurut Dr. dr. Dwi Putro Widodo, biasanya 2 atau 4 minggu sebelumnya, si penderita memiliki riwayat infeksi pada pencernaan atau tenggorokan.

Sindrom Guillain Barre jarang terjadi, dan hanya menyerang 1 dari 100.000 orang Amerika, menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke.

Ada beberapa jenis Guillain Barre, tetapi bentuk yang paling umum adalah poliradikuloneuropati demielinasi inflamasi akut (CIDP), yang menyebabkan kerusakan mielin (lapisan fosfolipid yang membungkus akson secara konsentrik).

Apa Penyebab Sindrom Guillain Barre?

sindrom guiilain barre

Foto: honorhealth.com

Penyebab pastinya masih tidak diketahui. Menurut sumber terpercaya Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar dua pertiga orang mulai merasakan sindrom Guillain Barre setelah terkena sakit diare atau infeksi saluran pernapasan.

Ini menunjukkan bahwa respons imun yang tidak tepat terhadap penyakit sebelumnya memicu terjadinya gangguan.

Infeksi campylobacter jejuni bisa jadi salah satu penyebab Guillain Barre. Campylobacter adalah salah satu bakteri penyebab diare yang paling umum di Amerika Serikat, juga merupakan faktor risiko paling umum kelainan ini.

Baca Juga: Benarkah Sindrom Anak Tengah Membuat Si Kecil Sering Berulah?

Campylobacter sering ditemukan dalam makanan yang kurang matang, terutama unggas.

Meskipun kelainan autoimun ini umumnya terjadi pada orang dewasa atau orang yang lebih tua, namun tidak menutup kemungkinan juga terjadi pada balita atau anak-anak.

“Tanda-tanda pada balita, misalnya tadinya anak bisa berdiri, jadi tiba-tiba tidak mau berdiri. Kelainan autoimun ini terjadi secara tiba-tiba, jadi tidak disertai dengan panas,” ucap Dr. dr. Dwi Putro Widodo.

Gejala Guillain Barre

sindrom guiilain barre

Foto: mysouthernhealth.com

Ketika menderita sindrom Guillain Barre, hal ini berarti sistem kekebalan tubuh kita menyerang sistem saraf tepi pada tubuh. Saraf di sistem saraf perifer kita menghubungkan otak ke seluruh tubuh dan mengirimkan sinyal ke otot-otot. Otot-otot tidak akan dapat menanggapi sinyal yang mereka terima dari otak kita jika saraf ini rusak.

Gejala pertama biasanya akan merasakan sensasi kesemutan di jari kaki, telapak kaki, dan kaki. Lalu rasa kesemutan ini menyebar ke atas hingga lengan dan jari tangan.

Gejalanya dapat berkembang dengan sangat cepat. Pada beberapa orang, penyakit ini bisa menjadi serius hanya dalam beberapa jam.

Gejala lain dari Guillain Barre adalah:

Baca Juga: Meski Imut, Dagu Kecil Pada Bayi Bisa Jadi Ciri Sindrom Pierre Robin

  • kelemahan otot di kaki yang bergerak ke tubuh bagian atas, lalu menjadi semakin parah seiring waktu
  • kesulitan berjalan
  • kesulitan menggerakkan mata atau wajah, berbicara, mengunyah, atau menelan
  • sakit punggung bawah yang parah
  • kehilangan kontrol kandung kemih
  • detak jantung yang cepat
  • sulit bernafas
  • dan yang terakhir adalah kelumpuhan

“Jika dibiarkan, bisa mengenai pernapasan dan otak. Jadi harus ditangani dengan segera,” ungkap Dr. dr. Dwi Putro Widodo.

Ia mengatakan jika sindrom ini sudah sampai ke lengan dan suara kita, menandakan saraf terdekat dengan otak dan pernapasan sudah mulai terganggu. Jika dibiarkan, akan mengakibatkan napas berhenti secara mendadak.

Artikel Terkait