GAYA HIDUP
8 September 2019

Mengenal Tiroid dan Bagaimana Cara Menanganinya

Untuk penanganan tiroid, harus berdasarkan jenis dan bentuk tiroid itu sendiri
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Carla Octama

Tiroid merupakan salah satu masalah kesehatan yang seringkali ditemukan lebih banyak pada wanita daripada pria, bahkan seorang ibu hamil pun bisa menderita tiroid. Mengapa lebih banyak terjadi pada wanita?

“Memang belum ada penelitian yang membahas hal ini, namun secara epidermatologi, gangguan tiroid memang sebagian besar ditemukan pada wanita,” jelas dr. Muhammad Ikhsan Mokoagow, dokter spesialis penyakit dalam RS Pondok Indah - Pondok Indah.

Baca Juga: Waspadai Tiroid Saat Hamil!

Banyak orang yang hidup dengan gangguan tiroid, tanpa mengetahui bahwa sebenarnya mereka menderita tiroid.

Hal ini dikarenakan tiroid yang belum terdiagnosis dan gejala-gejala yang ditunjukkan tidak terlalu jelas dan dirasakan.

Lalu bagaimana bisa mendeteksi gangguan tiroid ini?

Diagnosis Gangguan Tiroid

shutterstock_354874211.jpg

Foto: .shutterstock

Mendiagnosis gangguan tiroid pada orang ini memang tidaklah mudah.

Bahkan dalam survei Merck dan Thyroid Federation Intrenational, yang dilakukan pada pasien penderita hipotiroid di 6 negara, ditemukan bahwa sebanyak 70 persen penderita merasa stress sebelum didiagnosis.

Selain itu, pasien-pasien ini juga tidak menyadari bahwa gejala-gejala yang mereka rasakan sebenarnya adalah akibat dari gangguan tiroid.

Makanya, hanya dengan mengandalkan gejala-gejala saja kita tidak bisa diketahui apakah itu gangguan tiroid atau bukan. Mendeteksi gangguan tiroid, dibutuhkan bantuan profesional, yaitu dokter.

Pertama yang akan dokter lakukan adalah mengecek riwayat penyakit kita terlebih dahulu. Apa saja gejala yang kita keluhkan dan apakah mungkin memiliki riwayat keluarga dengan gangguan tiroid.

Baca Juga: Apakah Stunting Merupakan Penyakit Genetik? Ini Kata Ahli!

“Karena salah satu faktor penyebab dari gangguan tiroid ini adalah akibat dari faktor genetik. Baik itu dari orang tua langsung, atau keluarga,” jelas dr. Muhammad Ikhsan.

Setelah melalui pemeriksaan riwayat penyakit, dokter akan mulai melakukan pemeriksaan fisik, mulai dari leher ke seluruh tubuh kita. Jika ditemukan tanda-tanda tiroid, akan dilakukan test USG untuk melihat bentuk gangguan tiroid yang terjadi.

Dilansir dari WebMD, dokter dapat mendiagnosis hipertiroidi dan hipotiroidi dengan menguji kadar hormon tiroid dalam darah kita.

Tes ini untuk mengukur hormon dari tiroid itu sendiri, serta hormon perangsang tiroid (TSH), suatu zat kimia yang dilepaskan oleh kelenjar hipofisis yang memicu tiroid.

Ketika terdiagnosis hipotiroid, maka kira akan memiliki kadar TSH yang lebih tinggi karena tubuh mencoba memberi tahu tiroid untuk membuat lebih banyak hormon. Berlaku sebaliknya pada hipertiroid, yaitu kadar TSH di bawah normal dan kadar hormon tiroid tinggi.

Selain itu, jenis kanker tiroid yang tidak biasa juga dapat didiagnosis melalui tes darah yang mengukur kadar hormon yang disebut kalsitonin yang diperlukan untuk membentuk tulang.

Penanganan Hipotiroid dan Hipertiroid

shutterstock_700783951.jpg

Foto: shutterstock

Dokter Muhammad Ikhsan menyebutkan bahwa sebelumnya kita harus tahu dulu apakah itu tipe tiroid jinak atau ganas.

Jika termasuk tiroid jinak, perlu dilakukan observasi terlebih dulu, apakah mengganggu dan ukurannya semakin besar atau tidak. Karena biasanya tiroid jinak akan tetap dan tidak berubah bentuknya.

Baca Juga: 4 Jenis Makanan yang Baik Dikonsumsi Penderita Hipotiroid

“Jika tidak, sebaiknya jangan dilakukan pembedahan, karena setelah dibedah, akibatnya kita akan menderita kekurangan hormon tiroid, sehingga harus rutin mengonsumsi hormon tiroid sintesis,” jelas dr. Muhammad Ikhsan.

Namun biasanya para wanita tentu lebih mementingkan penampilan. Alhasil untuk memperoleh leher yang cantik, mereka pun tidak segan menghilangkan tiroid jinak ini.

Selain itu, jika tiroid ini bukan tiroid jinak dan bisa semakin membesar, biasa dokter akan menyarankan untuk melakukan perawatan radioaktif iodid, pemberian obat anti-tiroid, hingga operasi.

Pengobatan radioaktif dilakukan dengan menelan tablet atau cairan dengan cukup iodida radioaktif untuk merusak sel-sel kelenjar tiroid, sehingga mereka tidak dapat memproduksi hormon tiroid dan mengembalikannya pada keadaan normal.

Sedangkan jika dengan obat anti tiroid, gejala yang kita alami akan mulai menghilang dalam waktu sekitar 6-8 minggu.

Tetapi biasanya harus tetap minum obat selama sekitar satu tahun, sambil dokter melakukan observasi apakah hormon tiroidnya berkurang atau tidak.

Sedangkan langkah pembedahan biasa dilakukan pada ibu hamil yang tidak bisa mengonsumsi obat anti tiroid, atau saat ukuran tiroid ini sudah besar dan sangat mengganggu.

Artikel Terkait