PROGRAM HAMIL
22 April 2019

Mengenal Tokophobia, Ketakutan Berlebih Akan Hamil dan Melahirkan

Fobia ini ternyata bukan harga mati tidak bisa hamil.
Artikel ditulis oleh Carla Octama
Disunting oleh Carla Octama


Setiap orang memiliki ketakutan yang berbeda-beda. Tahukah Moms? Ada kondisi yang dinamakan tokophobia, yaitu ketakutan akan kehamilan dan melahirkan.

Jumlah perempuan yang memiliki fobia hamil dan melahirkan ini memang tidak banyak.

Dikutip dari situs web The Conversation, riset memperkirakan antara 2,5 persen dan 14 persen perempuan mengidap tokophobia. Namun, riset lain percaya angkanya sekitar 22 persen.

Mengenal Jenis Tokophobia

shutterstock 1017184894

Ada dua jenis tokophobia, yaitu primer dan sekunder. Tokophobia primer dialami oleh perempuan yang belum pernah hamil dan melahirkan.

Bagi kelompok perempuan ini, fobia akan kehamilan dan kelahiran umumnya muncul dari pengalaman di masa lalu–bahkan bisa jadi sejak mereka remaja.

Contoh peristiwa yang bisa memicu tokophobia primer: mengalami pelecehan seksual, melihat proses persalinan yang sulit (secara langsung ataupun melalui layar), atau menonton program acara yang memperlihatkan persalinan sebagai hal yang berbahaya atau memalukan.

Sementara, perempuan yang mengidap tokophobia sekunder umumnya memiliki pengalaman traumatis pada persalinan sebelumnya. Hal itu membuatnya takut untuk hamil dan melahirkan lagi.

Tips Mengatasi Tokophobia

shutterstock 454809184

Clare Murphy, Direktur Urusan Eksternal di British Pregnancy Advisory Service mengatakan, “Sangat disayangkan seorang perempuan merasa tidak bisa melanjutkan kehamilan karena ia mengidap tokophobia atau memiliki trauma dari pengalaman melahirkan di masa lalu.”

Berikut sejumlah tips mengatasi tokophobia:

1. Mengatasi trauma masa lalu

Hal ini bisa dilakukan dengan membicarakan peristiwa traumatis tersebut dengan orang terdekat atau terpercaya.

Namun, Murphy menganggap perempuan yang mengidap tokophobia perlu membicarakannya dengan pakar yang bisa membantu mengatasi trauma, seperti psikolog.

Pasalnya, peristiwa pemicu fobia tersebut dapat berbeda antara satu perempuan dengan yang lain.

Penanganan trauma pada perempuan yang mengalami pemerkosaan, misalnya, tentu berbeda dengan penanganan pada perempuan yang pernah melihat proses melahirkan secara langsung saat ia masih remaja.

2. Memberi dukungan

Perempuan yang mengidap tokophobia memerlukan dukungan agar mereka dapat menjalani kehamilan yang nyaman.

Selain dukungan dari orang-orang terdekat, mereka juga dapat bergabung dalam support group untuk bertemu dan berbagi pengalaman dengan orang lain yang memiliki kondisi serupa dengan mereka.

3. Memberi pilihan metode persalinan

Menurut Murphy, hal yang tak kalah penting adalah memberikan kebebasan kepada perempuan pengidap tokophobia dalam memilih metode persalinan yang ia rasa paling nyaman.

Bagi perempuan yang memiliki ketakutan ekstrem akan persalinan normal, mungkin perlu dibantu dengan epidural atau bahkan melahirkan dengan metode lain.

Selain itu, perempuan yang memiliki kecemasan berlebih akan rumah sakit bisa saja mempertimbangkan pilihan melahirkan di rumah.

“Mendukung pilihan yang diambil oleh perempuan terkait perawatan kehamilan serta persalinan mereka dapat membuat mereka merasa terlibat dan lebih berdaya selama hamil maupun saat melahirkan. Kondisi itu dapat membantu mencegah timbulnya trauma atau kecemasan ekstrem,” tutup Murphy.

(AN/CAR)

Artikel Terkait