KEHAMILAN
19 Juli 2019

Mengenal Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS), Salah Satu Risiko Komplikasi pada Kehamilan Kembar

Transfusi darah antara satu anak kembar ke anak kembar lainnya jadi tidak seimbang
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Mengandung adalah suatu karunia yang pasti akan disyukuri oleh setiap pasangan, apalagi jika hamil anak kembar. Hal ini tentu akan menjadi pengalaman yang luar biasa bagi para ibu, karena membawa dua buah janin di dalam kandungannya.

Sama seperti kehamilan lainnya, kehamilan anak kembar juga memiliki risiko kehamilan yang harus kita waspadai. Moms harus waspada terhadap salah satu komplikasi yang seringkali dijumpai pada kehamilan anak kembar, yaitu sindrom twin to twin transfusion atau TTTS.

Apa saja yang perlu Moms ketahui tentang komplikasi TTTS ini? Simak penjelasan di bawah ini.

Baca Juga: 14 Gejala Hamil Anak Kembar

Apa itu Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS)?

pregnant-with-twins.jpg

Foto: Raisingchildren.net.au

Dilansir dari Johns Hopkins Medicine, sindrom twin to twin transfusion (TTTS) adalah kondisi kehamilan yang jarang terjadi dan mempengaruhi kembar identik atau kelipatannya.

TTTS merupakan satu kondisi di mana anak kembar berbagi satu plasenta (setelah kelahiran) dan jaringan pembuluh darah yang memasok oksigen dan nutrisi penting untuk perkembangan dalam rahim. Kehamilan ini disebut juga dengan monokorionik.

Terkadang koneksi pembuluh darah di dalam plasenta tidak terbagi secara merata dan terjadi ketidakseimbangan dalam pertukaran darah antara si kembar. Kembar pertama (yang mendonorkan) memberikan lebih banyak darah daripada yang diterimanya sebagai imbalan dan akhirnya menanggung risiko kekurangan gizi dan kegagalan organ.

Sedangkan si kembar yang menerima darah, menerima terlalu banyak darah dan rentan terhadap kerja jantung yang berlebihan dan komplikasi jantung lainnya.

Baca Juga: Bagaimana Posisi Menyusui Bayi Kembar yang Benar?

Mengatasi Sindrom Twin to Twin Transfusion (TTTS)

357217331-H-1.jpg

Foto: Parenting.firstcry.com

Dr Alexandra Stanislavsky, konsultan radiologi di Monash Health and Monash BreastScreen mengatakan bahwa pemeriksaan USG secara rutin umumnya dilakukan untuk memantau kondisi janin kembar dengan TTTS.

Pemantauan sonografi serial adalah praktik umum. Pada kehamilan kembar monokorionik tanpa komplikasi, skrining TTTS harus dimulai dari usia kehamilan 16 minggu dengan penilaian pertumbuhan janin, DVP, dan indeks pulsatilitas arteri umbilikalis (UA-PI) dilakukan setiap dua minggu.

"Ultrasonografi morfologi terperinci bersifat rutin pada 20 minggu. Tambahan kecepatan sistolik-puncak arteri serebral tengah janin (MCA-PSV) direkomendasikan mulai 22 minggu," jelasnya seperti dikutip dari Radiopaedia.org.

Jika tidak diobati, TTTS umumnya membawa prognosis yang buruk, dengan hingga 90 persen kematian perinatal.

Dalam kasus sindrom twin to twin transfusion (TTTS), operasi invasif minimal dapat menawarkan peluang terbaik untuk memiliki dua bayi yang sehat.

Operasi yang dikenal sebagai ablasi laser endoskopi ini, dilakukan dalam rahim, untuk mengoreksi pembuluh darah yang ada di plasenta sehingga membuat pasokan darah ke bayi kembar lebih seimbang.

“Sindrom TTTS ini bisa berhasil diatasi dengan melakukan ablasi laser endoskopi,” kata Dr. Ahmet Baschat, direktur Johns Hopkins Center for Fetal Therapy.

Baca Juga: Ini Kebutuhan Nutrisi Ibu Hamil Bayi Kembar

Agar Moms terhindar dari sindrom TTTS ini, jangan lupa melakukan pemeriksaan kehamilan rutin ya Mom!

Artikel Terkait