TRIMESTER 3
13 September 2019

Mengenali dan Mengatasi Preeklampsia Selama Kehamilan

Mengatasi preeklampsia selama kehamilan merupakan perkara serius.
Artikel ditulis oleh Dina Vionetta
Disunting oleh Dina Vionetta

Pre-eklampsia ditandai oleh tekanan darah tinggi dan protein dalam urin, pertanda kesehatan ginjal yang memburuk.

Tidak semua orang mengalami gejala preeklampsia, jadi penting untuk melakukan pemeriksaan prenatal secara teratur.

Pre-eklampsia biasanya berkembang setelah usia kehamilan sekitar 20 minggu, tetapi ada faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan dokter merekomendasikan tindakan pencegahan sedini mungkin sejak 12 minggu.

Biasanya sembuh setelah bayi dilahirkan, tetapi ibu yang sudah mengalaminya harus menyadari peningkatan risiko masalah kardiovaskular di masa depan.

Meskipun jarang, wanita dapat mengalami tekanan darah tinggi dan tingginya protein urin hingga enam minggu setelah melahirkan, suatu kondisi serius yang dikenal sebagai preeklampsia postpartum.

Baca Juga: Mengenal Hipertensi Pulmonal, Tekanan Darah Tinggi yang Terjadi di Paru-Paru

Serba-Serbi Mengatasi Preeklamsia

adult-belly-body-54289 (1).jpg

S. Ananth Karumanchi, MD Profesor Kedokteran, Harvard Medical School sedang berusaha mencari tahu dan mengembangkan terapi obat untuk pre-eklampsia.

Temuan mereka dipublikasikan dalam jurnal Nature Biotechnology.

Dokter masih belum mengerti apa yang menyebabkan pre-eklampsia. Namun, mereka tahu pasti gejala seperti apa yang harus diwaspadai oleh wanita hamil, kata Dr. Liona Poon, M.D., seorang profesor klinis di Universitas Cina Hong Kong yang penelitiannya sebagian berfokus pada pre-eklampsia.

Perkiraannya bervariasi, tetapi pre-eklampsia memengaruhi sekitar 3 persen kehamilan di Amerika Serikat, menurut analisis data senilai 30 tahun yang diterbitkan dalam jurnal BMJ pada 2013.

Kondisi tersebut dialami hingga 15 persen kehamilan.

Jika ibu hamil didiagnosis menderita preeklampsia, Dr. Grobman berkata, “Ibu hamil tidak perlu khawatir. Nantinya, keadaan akan membaik. Saat ini, hal yang paling efektif untuk mengobati preeklampsia adalah persalinan, baik diinduksi maupun operasi caesar. Kapan harus melahirkan, tergantung keadaan ibu dan umur kehamilannya. Kita juga harus memperhitungkan risiko kelahiran prematur," katanya.

Dr. Moore, misalnya, menderita pre-eklampsia parah hingga mengalami penurunan jumlah trombosit. Jika jumlah trombositnya turun di bawah ambang batas tertentu, darahnya tidak akan bisa membeku setelah dia melahirkan putrinya. Jadi dokternya mengawasi dan hampir melakukan operasi caesar darurat pada umur kandungan 32 minggu.

Namun, pada akhirnya trombositnya stabil hingga kehamilan dapat diteruskan.

Baca Juga: Cara Mencegah Preeklamsia Berulang pada Kehamilan Berikutnya

Faktor Risiko Preeklampsia

girl-hands-heart-895511.jpg

Meskipun preeklampsia tidak dapat didiagnosis sampai usia kehamilan sekitar 20 minggu, ada beberapa faktor risiko yang dicari oleh perawat kandungan pada trimester pertama. Berikut ini adalah daftarnya:

  • Pernah mengalami pre-eklampsia sebelumnya
  • Memiliki saudara yang pernah mengalami pre-eklampsia
  • Hamil di usia 40 tahun atau lebih
  • Hamil kembar
  • Kelebihan berat badan.

Grobman mengatakan bahwa, saat ini, semua dokter harus menilai riwayat medis pre-eklampsia, jadi pastikan pengasuh kandungan mengenal kondisi ibu hamil dengan baik.

Poon bekerja untuk meningkatkan kualitas skrining untuk risiko pre-eklampsia.

Dia dan rekan-rekannya telah mengembangkan kalkulator risiko yang memperhitungkan riwayat medis, tekanan darah, hingga kadar protein dalam darah yang terkait dengan pertumbuhan pembuluh darah dan pengukuran resistensi aliran darah berbasis ultrasonografi melalui arteri utama uterus.

Nah, itulah serba-serbi upaya mengatasi preeklamsia. Lebih baik dicegah dengan gaya hidup yang sehat, ya. Gaya hidup yang sehat dapat memperkecil risiko penyakit ini.

Baca Juga: Mengenal Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS), Salah Satu Risiko Komplikasi pada Kehamilan Kembar

(TPW)

Artikel Terkait