BALITA DAN ANAK
3 September 2020

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Tuberkulosis pada Anak yang Harus Dikenali

TBC merupakan penyakit infeksi menular yang berbahaya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Amelia Puteri

Batuk yang tak kunjung sembuh, badan lemas, penurunan berat badan drastis, hal ini sangat perlu kita waspdadai tak hanya pada diri kita, tapi juga Si Kecil. Kondisi tersebut bisa menunjukan pada gejala TBC (tuberculosis).

Penyakit ini biasanya bukan ditularkan oleh teman-temannya, tapi dari orang dewasa yang mengidap penyakit ini. Lalu, bisa juga terjadi tuberkulosis pada anak.

Data dari World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa di 2018, sekitar 10 juta orang di dunia menderita TBC. 5,7 juta adalah pria, 3,2 juta wanita, dan 1,1 juta anak-anak.

Indonesia masuk ke dalam salah satu negara yang memiliki risiko TB tertinggi. Negara yang paling tinggi risikonya adalah India, disusul oleh China, Indonesia, Filipina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh, dan Afrika Selatan.

Anak terinfeksi dengan menghirup bakteri Mycobacterium Tuberculosis di udara yang disebarkan oleh orang dewasa pada saat batuk atau bersin.

Bakteri ini diam dan hidup di paru-paru, bahkan dalam kondisi kronis bisa menjalar ke bagian yang lain, seperti ginjal, tulang belakang, hingga ke otak.

Menurut jurnal Tuberculosis in Children, tuberkulosis pada anak merupakan penyebab utama penyakit, baik paru maupun luar paru.

Ketahui lebih lanjut tentang serba-serbi tuberkulosis pada anak berikut ini, Moms.

Baca Juga: Segera Ketahui Gejala dan Penanganan Batuk Rejan Pada Bayi

Penyebab Tuberkulosis pada Anak

penyebab tuberkulosis pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Tuberkulosis pada anak disebabkan oleh bakteri. Paling sering disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis). Banyak anak yang terinfeksi M. tuberculosis tidak pernah mengembangkan TB aktif dan tetap dalam stadium TB laten.

Bakteri TBC ini menyebar melalui udara ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, saat berbicara, bernyanyi, atau tertawa.

Tuberkulosis juga biasanya menyebar ketika orang dewasa yang terinfeksi batuk bakteri ke udara. Kuman ini dihirup oleh anak tersebut, yang kemudian terinfeksi.

Seorang anak biasanya tidak terinfeksi kecuali dia telah berulang kali melakukan kontak dengan bakteri.

Anak-anak yang berusia kurang dari sepuluh tahun dengan TB paru jarang menulari orang lain, karena mereka cenderung memiliki sangat sedikit bakteri dalam sekresi lendirnya dan juga mengalami batuk yang relatif tidak efektif.

Untungnya, kebanyakan yang terkena tuberkulosis pada anak tidak jatuh sakit. Ketika bakteri mencapai paru-paru, sistem kekebalan tubuh menyerang mereka dan mencegah penyebaran lebih lanjut.

Anak-anak ini telah mengembangkan infeksi tanpa gejala yang hanya ditunjukkan oleh tes kulit yang positif. Namun demikian, anak yang bebas gejala tetap harus dirawat untuk mencegah terjadinya penyakit aktif.

Perlu diingat, tuberkulosis pada anak tidak mungkin menyebar melalui barang-barang pribadi, seperti pakaian, tempat tidur, cangkir, peralatan makan, toilet, atau barang lain yang pernah disentuh oleh penderita TB.

Aliran udara yang baik adalah cara terpenting untuk mencegah penyebaran TB.

Baca Juga: Apa Bedanya Penyakit TBC pada Anak dan Dewasa?

Tahapan Tuberkulosis pada Anak

gejala dan pengobatan tbc pada anak.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Tuberkulosis pada anak memiliki dua tahapan yang perlu Moms dan Dads ketahui agar lebih waspada mengenai penyakit ini.

1. Tahap Paparan (Infeksi)

Biasanya pada beberapa kasus tuberkulosis pada anak, terutama pada anak yang sudah lebih besar, infeksi ini umumnya hanya pada tahap paparan.

Pada hasil pemeriksaan tuberkulin akan menunjukkan bahwa ia pernah terpapar, tapi tidak ada keluhan maupun gejala apapun karena daya tahan tubuhnya yang kuat, sehingga pertumbuhan bakteri ini bisa dihambat dengan cepat.

Hal ini juga ditegaskan oleh Global Tubercolosis Institute, bahwa pada tahap paparan anak hanya terinfeksi bakteri TBC pasif di tubuh mereka, maka kuman tidak membuat ia sakit atau berlanjut ke tahap yang serius. Anak pun tidak bisa menularkan bakteri ini ke orang lain.

Baca Juga: 5 Cara Mengatasi Radang Tenggorokan pada Ibu Menyusui

2. Tahap Penyakit TB Aktif

Bakteri akan berkembang dan terus menyebar apabila daya tahan tubuh Si Kecil lemah dan akan berlanjut pada tahap TB aktif yang tentunya akan menular bahkan jika dibiarkan akan berbahaya dan mengancam jiwa anak.

Gejala Tuberkulosis pada Anak

gejala dan pengobatan tbc pada anak 2.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Ada beberapa hal yang menjadi tanda-tanda atau gejala tuberkulosis pada anak. Berikut ini daftarnya.

1. Penurunan Berat Badan Secara Drastis

Moms perlu waspada saat anak mengalami berat badan turun setiap bulan selama lebih dari dua bulan berturut-turut, apalagi jika berat badan anak turun secara drastis. Ini bisa menandakan Si Kecil mengalami tuberkulosis pada anak.

Moms juga harus khawatir jika berat badan anak tidak naik setelah adanya perbaikan gizi ataupun anak menjadi tidak nafsu makan hingga hilang nafsu makan (anoreksia).

2. Demam

Demam sebenarnya tidak berbahaya, karena kondisi ini adalah reaksi pertahanan tubuh melawan virus dan bakteri. Tapi, Moms perlu khawatir saat demam pada anak tak kunjung sembuh atau bahkan berulang tanpa sebab yang jelas.

Ini karena bisa menjadi gejala tuberkulosis pada anak.

Tapi biasanya demam yang diderita anak tidak tinggi, tapi berlangsung lama dan disertai keringat dingin.

Baca Juga: Makanan yang Bisa Meredakan Asam Lambung pada Anak

3. Lemas

Anak tidak bersemangat untuk melakukan kegiatan, tampak terlihat lesu dan tidak aktif saat diajak bermain.

Jika kondisi ini disertai dua gejala sebelumnya, maka Moms sangat perlu khawatir dan berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, karena bisa jadi ini tanda tuberkulosis pada anak.

4. Berkeringat di Malam Hari

Pada umumnya tak sedikit bayi yang berkeringat di malam hari, tapi jika ditandai dengan gejala-gejala tadi, maka ini bisa jadi menunjukkan Si Kecil terkena tuberkulosis.

Dr Bern-Thomas Nyangwa, seorang Implementer TB MSF menegaskan, bahwa kita tidak bisa hanya melakukan pengamatan klinis saja, tapi harus ada tindakan karena ini berkaitan dengan kehidupan seorang anak, jadi kondisi ini bukan sesuatu yang bisa kita anggap dengan ‘enteng’.

Maka, jika Si Kecil memiliki gejala seperti di atas, alangkah lebih baiknya Moms berkonsultasi dengan dokter. Sehingga kita bisa melakukan pengobatan untuk mencegah kondisi tuberkulosis pada anak yang lebih serius.

Diagnosis Tuberkulosis pada Anak

diagnosis tuberkulosis pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Anak-anak yang berisiko tertular tuberkulosis pada anak harus menerima tes kulit tuberkulin (terkadang disebut PPD (turunan protein yang dimurnikan dari tuberkulin).

Anak Moms mungkin memerlukan tes kulit jika ada anggota keluarga atau kontak dengan orang yang mengidap penyakit TBC.

Tes ini dilakukan di tempat dokter anak dengan menyuntikkan sepotong kuman TBC yang dimurnikan dan tidak aktif ke dalam kulit bagian lengan bawah. Jika sudah terjadi infeksi, kulit anak akan membengkak dan memerah di area suntikan tersebut.

Dokter anak akan memeriksa kulit empat puluh delapan hingga tujuh puluh dua jam setelah proses penyuntikan, dan mengukur diameter reaksi.

Tes kulit ini akan mengungkapkan infeksi bakteri di masa lalu, bahkan jika anak tersebut tidak memiliki gejala dan bahkan jika tubuhnya berhasil melawan penyakit tersebut.

Pengujian kulit tahunan harus dilakukan pada anak-anak yang menderita HIV, dan berada di fasilitas penahanan.

Baca Juga: Salah Kaprah, Ini 5 Mitos Tentang HIV yang Masih Sering Dipercaya

Seorang anak yang terpapar pada orang berisiko tinggi harus dites setiap 2 hingga 3 tahun sekali. Seorang anak dapat menjalani tes kulit TB dari usia 4 hingga 6 dan 11 hingga 16 jika dia:

  • Memiliki orang tua dari negara berisiko tinggi tuberkulosis.
  • Telah bepergian ke daerah berisiko tinggi.
  • Tinggal di daerah padat penduduk.

Pengobatan Tuberkulosis pada Anak

gejala dan pengobatan tbc pada anak 3.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Apabila anak sudah divonis positif tuberkulosis pada anak, maka jangan menunda pengobatan.

Pengobatan juga tetap akan diberikan pada anak yang berada dalam tahapan paparan (infeksi) meskipun belum menunjukkan gejala-gejala TBC. Adapun pengobatan untuk anak dengan tuberkulosis adalah sebagai berikut.

1. Berikan Obat

Tapi, biasanya anak yang berada pada tahapan atau baru terinfeksi bakteri TBC ini akan diberikan obat antituberkulosis (OAT) isoniazid selama sembilan bulan dan harus dikonsumsi setiap hari.

Pada anak yang telah divonis terdiagnosis TBC aktif, biasanya akan diberikan tiga jenis OAT, yaitu isoniazid, pyrazinamid, dan rifampicin.

Obat-obat ini harus dikonsumsi selama 2 bulan setiap harinya. Lalu akan ada obat lanjutan untuk 4 bulan berikutnya dan yang diberikan hanya dua jenis obat lanjutan, yaitu rifampicin dan isoniazid.

Perlu Moms ketahui, OAT yang diberikan pada anak tidak sama dengan yang diberikan pada orang dewasa.

  • Untuk Infeksi TBC Laten

Pengobatan dianjurkan untuk anak-anak dengan infeksi tuberkulosis pada anak laten untuk mencegah mereka mengembangkan penyakit TB.

Bayi, anak kecil, dan anak immunocompromised dengan infeksi TB laten atau anak yang berhubungan dekat dengan penderita penyakit TB menular, memerlukan pertimbangan khusus karena mereka berisiko tinggi terkena penyakit TB.

Moms sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan ahli TB anak sebelum pengobatan dimulai.

Anak-anak di atas usia 2 tahun dapat diobati untuk infeksi TB laten dengan isoniazid-rifapentin sekali seminggu selama 12 minggu. Pengobatan alternatif untuk infeksi TB laten pada anak-anak termasuk rifampisin harian selama 4 bulan atau isoniazid harian selama 9 bulan.

Regimen sama-sama dapat diterima; namun, dokter harus meresepkan rejimen pendek yang lebih nyaman, jika memungkinkan. Pasien lebih mungkin menyelesaikan rejimen pengobatan yang lebih pendek.

Baca Juga: 5 Sayur Terbaik untuk MPASI Pertama Bayi

  • Penyakit TBC

Penyakit tuberkulosis pada anak diobati dengan minum beberapa obat anti TBC selama 6 sampai 9 bulan.

Penting untuk diperhatikan bahwa jika seorang anak berhenti minum obat sebelum selesai penyakitnya, anak tersebut bisa sakit kembali. Jika obat tidak diminum dengan benar, bakteri yang masih hidup bisa menjadi resisten terhadap obat tersebut.

TB yang resisten terhadap obat lebih sulit dan lebih mahal untuk diobati, dan pengobatan berlangsung lebih lama (hingga 18 sampai 24 bulan).

2. Vaksin

Vaksin BCG, atau bacille Calmette-Guerin, adalah vaksin untuk mencegah penyakit TBC. BCG digunakan di banyak negara untuk mencegah penyakit TB pada anak.

Namun, vaksin BCG umumnya tidak digunakan di Amerika Serikat, karena risiko infeksi bakteri TB yang rendah dan efektivitas vaksin yang bervariasi.

Vaksin BCG sebaiknya hanya dipertimbangkan untuk orang-orang tertentu yang memenuhi kriteria khusus dan berkonsultasi dengan dokter TB.

Mencegah Tuberkulosis pada Anak

pencegahan tuberkulosis pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Cara utama pencegahan tuberkulosis pada anak-anak adalah dengan menggunakan vaksin BCG.

TB juga dapat dicegah pada anak-anak dengan mendiagnosis dan mengobati kasus TB aktif di kalangan orang dewasa. Biasanya orang dewasa, terutama orang dewasa dalam rumah yang sama, yang menyebarkan TB ke anak-anak.

Anak-anak dengan TB biasanya tidak menular, sehingga biasanya tidak akan menularkan TB kepada anak-anak lain atau orang dewasa meskipun kadang-kadang bisa terjadi juga.

Jika Si Kecil diketahui mengidap TB dan sedang menerima pengobatan maka saran individu harus diberikan. Diperoleh dari dokter yang berpengalaman mengenai kapan anak dapat kembali ke sekolah.

Skrining rumah tangga di mana orang dewasa terdiagnosis TB untuk melihat apakah anak terpapar di rumah harus menjadi standar yang diterapkan di mana pun.

Jika pendekatan ini telah diujicobakan, 72 persen anak berisiko dapat menerima perawatan pencegahan, naik dari kurang dari lima persen sebelumnya.

Jangan anggap remeh penyakit tuberkulosis pada anak, ya Moms, jika sudah tampak gejalanya segera konsultasikan dengan dokter untuk mencegah dan mengatasinya.

Artikel Terkait