PARENTING
12 November 2019

Meskipun Sibuk Berat, Tidak Susah Kok jadi Ayah Seru

Setiap ayah, pasti bisa menjadi ayah yang seru dengan caranya sendiri
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Sharing dari Ruben Hattari, Ayah dari Galan Mahasidra Hattari (4 tahun) dan Talullah Sadina Hattari (7 tahun), Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia.

Sudah 7 tahun saya menjadi seorang ayah. Pertama kali menjadi ayah, rasanya bangga banget, karena bagi saya kehadiran anak pertama saya, Lulla adalah sebuah karunia yang luar biasa.

Mengapa? Karena ketika hamil, di bulan ke-7 istri saya, Keke Kania, mengalami masalah dengan kehamilannya. Ia mengalami thick blood. Jadi setiap hari saya harus suntik perut istri untuk mengencerkan darahnya.

Hingga akhirnya Lulla lahir prematur, karena kurang dari 8 bulan. Beratnya juga hanya 2,1 kg. Saat ia lahir, itu merupakan sesuatu yang sangat emosional buat saya.

Kalau ketika anak kedua saya, Galan lahir pertama kali yang terucap “gila kok mukanya mirip gue banget ya?” Udah less shock, namun rasa terharu, bangga, dan apresiasi ke istrinya masih sama.

Baca Juga: Sebagai Pejuang Program IVF, Saya Bangga Karena Bisa Punya Hati yang Penuh Sabar

Ayah yang Asik di Mata Ruben Hattari...

ayah yang seru

Ayah yang asik itu menurut saya adalah sosok seorang ayah yang relevan di hidup anak-anaknya, seperti bagaimana kita menempatkan diri dalam kehidupan anak-anak.

Saya sendiri selalu memberi mereka ruang untuk eksplorasi sesuatu, agar pengetahuannya bisa bertambah tanpa dibatasi.

Selain itu, saya juga akan berusaha untuk selalu hadir dan ada untuk mereka. Caranya dengan melakukan hal-hal yang menarik, contohnya karena saya cinta sekali dengan alam dan nature, saya coba tuangkan hal ini pada anak-anak.

Kemarin, terakhir kami dari Lombok. Lalu saya dan Kania juga pernah sama-sama komitmen untuk beberapa tahun sekali akan melakukan trip yang ‘gila’.

Waktu itu kita ke New Zealand dan tidur di campervan. Jadi bayangan liburan yang benar-benar hanya bersantai-santai saja, hilang digantikan dengan tugas seperti harus nyapu, bersih-bersih campervan, masak, dan sebagainya.

Tapi justru dengan melakukan hal seperti ini yang asik menurut saya.

Baca Juga: 5 Manfaat Orang Tua Bermain Bersama Anak

Saya juga hobi masak untuk keluarga, jadi saya enggak hanya memperkenalkan anak-anak dengan makanan, tapi juga bagaimana cara menghargai makanan.

Tips untuk Mengatur Waktu sebagai Pekerja dan Ayah

ayah yang seru

Sebetulnya saya cukup bersyukur karena bekerja di perusahaan yang fleksibel,. Jadi sebisa mungkin setiap Jumat, saya berusaha untuk bekerja dari rumah.

Dan di saat inilah saya bisa meluangkan waktu untuk dihabiskan bersama anak.

Namun sebenarnya semua orang pasti bisa menyempatkan waktu untuk anak-anak atau pun keluarga, namun semuanya balik lagi ke prioritas kita.

Bukan berarti pekerjaan dan waktu saya untuk anak-anak tidak pernah bentrok ya. Malah sering sekali, saya yakin semua Dads yang bekerja pasti pernah mengalaminya. It is a matter of prioritize.

Caranya untuk saya, saya biasanya akan minta tolong sama istri.

Baca Juga: Tips Menyiapkan Makanan Bayi 6 Bulan Saat Travelling

Ada waktunya saya merasa bersalah juga saat mengorbankan waktu bersama anak-anak untuk bekerja. Kalau iya, cara saya biasanya dengan membelikan mainan.

Saya senang banget kalau lihat anak-anak bahagia. Tapi sebenarnya bisa dilakukan dengan berbagai cara sih, enggak melulu harus dengen belikan mainan.

Kalau bisa pilih, mungkin menghabiskan waktu dengan anak akan terasa lebih berharga. Saya biasa juga memaksa anak saya untuk temani saya masak, hahaha.

Siapa yang Lebih Tegas?

ayah yang seru

Kalau berbicara mengenai yang lebih tegas, istri saya, Kania. Karena Kania lebih sering berhadapan dengan anak-anak, jadinya dia lebih tegas. Kalau pendekatan saya ke anak-anak, lebih ingin mendengarkan mereka.

Ini saya dan istri jadikan sebagai investasi di masa depan juga sih. Jadi di masa depan, anak-anak bisa curhat apapun itu di kehidupan mereka, bukan cuma yang bahagia saja, tapi juga yang sedih.

Misalnya tentang sekolah, hubungan asmara, atau pekerjaan nantinya.

Tapi kalau anak mencari pembelaan saat dimarahi oleh istri misalnya, kuncinya kita dan istri harus solid. Harus diskusi bagaimana cara masing-masing mendidik anak, supaya pemikirannya bisa nyambung.

Saya harus bisa mendukung Kania, dan menjelaskan pada anak-anak mengapa Kania melakukan hal tersebut. Kita selalu percaya, to be a good parents, we have to look to each others first.

Baca Juga: 7 Rahasia Membesarkan Anak yang Bahagia

Bagaimana Aturan Bermain Gadget untuk Anak?

ayah yang seru

Ini hal yang dari dulu sampai sekarang selalu menjadi topik yang menarik di kehidupan rumah tangga saya. Kalau saya orangnya lebih suka teknologi, kalau Kania lebih konvensional.

Perkenalan gadget harus dikenalkan dari umur sekarang ini menurut saya. Namun penyampaiannya harus bisa mengedukasi.

Cara penggunaanya dibatasi, misalnya dengan membelikan anak gadget yang ada timer-nya, jadi ada batasan berapa lama mereka bisa menikmati bermain gadget. Terus kalau menonton YouTube juga, harus yang kids friendly.

Kalau media sosial tidak sama sekali. Karena memang platform satu ini didesain untuk 13 tahun ke atas. Tapi saya sudah jelaskan secara garis besar, apa itu media sosial ke anak-anak.

Intinya, saya yakin semua Dads punya sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Apapun yang berarti dalam hidup kita, harus terus diasah dan ditunjukkan pada anak-anak.

Hal ini penting, jangan sampai kita menjadi orang tua yang mengurus anak saja, namun juga menjadi inspirasi bagi buah hati kita.

Misalnya dengan melakukan hal-hal yang membuat kita nyaman atau hobi kita. Dengan begitu, kita bisa jadi orang tua yang asik dan seru, karena kita punya sesuatu untuk me-recharge energi kita kalau sudah mulai habis.

Tuh Moms, sampaikan pada Dads kalau sesibuk apapun, Dads tetap bisa jadi ayah yang asik kok untuk anak-anak.

Jangan ragu minta Dads untuk sesekali menjadikan keluarga sebagai prioritas ya, apalagi kalau Dads selalu sibuk dengan pekerjaannya.

Artikel Terkait