NEWBORN
28 Agustus 2019

Mengenal Mikrosefalus, Kondisi Lingkar Kepala Bayi Lebih Kecil dari Normal

Bayi dengan mikrosefalus bisa disebabkan oleh paparan racun atau sindrom kelainan bawaan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Intan Aprilia

Mikrosefalus pada bayi adalah cacat lahir yang sangat jarang terjadi, dengan rentang kejadian sekitar 2-12 bayi per 10.000 kelahiran di Amerika Serikat.

Kondisi ini terjadi ketika lingkar kepala bayi jauh lebih kecil dari normal menurut standar dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Mikrosefalus adalah kondisi ukuran kepala yang lebih kecil dari normal. Cara mengetahui ukuran kepala dilakukan dengan pengukuran lingkar kepala dan membandingkannya dengan kurva pertumbuhan," jelas dr. Caessar Pronocitro, Sp. A, M.Sc, Dokter Spesialis Anak di RS Pondok Indah-Bintaro Jaya.

Ia melanjutkan, "Mikrosefalus dapat disebabkan oleh dua jenis mekanisme, yaitu penyatuan tulang-tulang penyusun tengkorak yang terlalu dini (kraniosinostosis) atau pertumbuhan otak yang kurang."

Baca Juga: Cerdas Cegah Cacat Janin Sejak Dini Dengan 5 Cara Ini

Penyebab Mikrosefalus Pada Bayi

mikrosefalus-1.jpg

Foto: voanews.com

dr. Caessar menjelaskan, dua jenis mekanisme pada mikrosefalus tersebut dapat terjadi karena beberapa kondisi, di antaranya:

  • Sindrom atau kelainan bawaan, seperti sindrom Down, sindrom Patau, sindrom Edward, dan lain-lain
  • Kekurangan nutrisi ibu selama kehamilan, seperti defisiensi asam folat atau hipotiroidisme
  • Berbagai gangguan yang terjadi setelah kelahiran, misalnya cedera otak, stroke, atau ensefalopati hipoksik-iskemik

Mengutip Stanford Children's Health, mikrosefalus pada bayi bisa disebabkan oleh masalah selama kehamilan. Beberapanya termasuk:

  • Paparan bahan kimia beracun
  • Keracunan metilmerkuri
  • Janin yang tidak mendapatkan cukup vitamin dan nutrisi
  • Infeksi dengan cytomegalovirus, rubella, virus varicella, virus Zika, atau toksoplasma
  • Penggunaan obat resep
  • Penggunaan obat-obatan terlarang
  • Minum alkohol
  • Fenilketonuria yang tidak diobati
  • Stroke

Baca Juga: Ketahui Pertolongan Pertama saat Stroke

Penanganan Mikrosefalus Pada Bayi

mikrosefalus-2.jpg

Foto: newsweek.com

Mengutip dari CDC, kondisi mikrosefalus pada bayi adalah kondisi yang akan dialami seumur hidup. Karena tidak ada obat atau perawatan standar untuk mikrosefalus.

Mikrosefalus itu sendiri dapat berkisar dari ringan hingga berat, sehingga jenis perawatan dapat beragam.

Bayi dengan mikrosefalus ringan cenderung tidak mengalami masalah lain selain ukuran kepala yang kecil.

Karenanya, mereka membutuhkan pemeriksaan rutin untuk memantau kemajuan proses tumbuh kembangnya.

Sementara, untuk mikrosefalus dengan kondisi yang lebih berat, bayi akan membutuhkan perawatan yang berfokus pada pengelolaan masalah kesehatan lainnya.

dr. Caessar mengatakan, "Pengobatan pada bayi dengan kondisi mikrosefalus lebih berfokus pada penanganan kelainan bawaan yang memengaruhi tumbuh kembangnya."

"Misalnya, mencegah komplikasi di berbagai organ, mengoptimalkan nutrisi, atau mengatasi infeksi yang mungkin terjadi," lanjutnya.

Sementara, apabila mikrosefalus disebabkan oleh penyatuan tulang-tulang penyusun tengkorak yang terlalu dini, maka diperlukan tindakan pembedahan.

Namun, apabila penyebabnya adalah kelainan bawaan, maka tidak ada penanganan yang dapat dilakukan untuk menormalkan ukuran kepala bayi dengan mikrosefalus.

Baca Juga: Mitos dan Fakta Seputar Tumbuh Kembang Bayi Kembar

Dampak Mikrosefalus untuk Tumbuh Kembang Bayi

mikrosefalus-3.jpg

Foto: telegraph.co.uk

Efek mikrosefalus pada tumbuh kembang bayi sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh penyebab serta derajat dari kondisi mikrosefalus itu sendiri.

Tetapi, perlu diketahui secara umum bahwa bayi yang menderita mikrosefalus lebih sering mengalami keterlambatan perkembangan ataupun gangguan yang terkait sistem saraf pusat dibandingkan bayi-bayi lainnya, seperti kejang atau hiperaktivitas.

Mengutip CDC, kondisi mikrosefalus pada bayi telah dikaitkan dengan masalah berikut:

  • Kejang
  • Keterlambatan perkembangan, seperti masalah dengan bicara atau tonggak perkembangan lainnya (duduk, berdiri, dan berjalan)
  • Kecacatan intelektual (penurunan kemampuan untuk belajar dan berfungsi dalam kehidupan sehari-hari)
  • Masalah dengan gerakan dan keseimbangan
  • Masalah makan, seperti sulit menelan
  • Gangguan pendengaran
  • Masalah penglihatan

Masalah-masalah ini dapat berkisar dari ringan hingga parah dan seringkali terjadi seumur hidup.

Mikrosefalus yang parah bisa mengancam jiwa. Karena otak pada bayi dengan mikrosefalus lebih kecil dan kurang berkembang, sehingga dapat mengalami lebih banyak masalah daripada bayi dengan mikrosefalus yang tingkatnya lebih ringan.

Sulit untuk memprediksi masalah apa yang akan dialami bayi dengan mikrosefalus ketika mereka telah lahir. Sehingga, penting untuk melakukan pemeriksaan rutin untuk memantau progres tumbuh dan kembang mereka.

Bila Si Kecil mengalami kondisi mikrosefalus, pasti Moms seringkali membutuhkan dukungan dan tukar cerita dengan para ibu lainnya. Oleh sebab itu, Moms bisa bergabung di WhatsApp Group Orami Moms Community, lho.

Di WhatsApp Group Orami Moms Community, Moms bisa berkonsultasi dengan para ahli, seperti psikolog, dokter anak, dan lain sebagainya.

Moms juga akan bertemu dan bisa berbagi pengalaman dengan sesama ibu dengan anak berkebutuhan khusus lainnya, lho. Moms pun tidak akan merasa sendirian dalam menghadapi berbagai masalah seputar anak.

orami wag

Moms bisa langsung add WhatsApp di nomor 0811-8852-250 atau klik link ini untuk informasi lebih lanjut.

Yuk gabung WhatsApp Group Orami Moms Community untuk mendapatkan berbagai keuntungan!

Artikel Terkait