KESEHATAN
15 Juni 2020

6 Mitos DBD yang Sering Moms Dengar, Masih Percaya?

Salah satu mitos yang paling sering didengar adalah soal jus jambu
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Begita
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Meski telah umum diketahui demam berdarah atau demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh gigitan nyamuk, mitos DBD masih dipercaya masyarakat.

Mitos DBD justru menyebar cepat di era media sosial ini, pesan berantai terkait penyebab, gejala, juga pengobatannya beredar dengan mudahnya. Saatnya membongkar mitos DBD agar tidak salah menangani penyakit yang rentan terjadi di daerah tropis, seperti Indonesia.

Mitos Seputar DBD

Beberapa mitos ternyata cukup banyak dipercaya lho Moms. Mungkin Moms termasuk yang mempercayainya. Agar tidak bingung lagi, yuk simak mitos DBD yang wajib Moms ketahui dan tidak perlu dipercaya lagi ya.

Baca Juga: 5 Makanan Ini Tepat untuk Anak DBD

Mitos #1 DBD Bisa Menular lewat Kontak Fisik

Membongkar Mitos DBD

Foto: Orami Photo Stock

Vektor utama DBD adalah nyamuk Aedes Aegypti. Saat mengisap darah manusia, nyamuk yang terinfeksi melepaskan cairan yang mengandung virus dengue.

Seperti dilansir dari Centre for Health Protection, manusia tidak bisa menularkan DBD kepada manusia lainnya. Seseorang bisa terkena DBD karena digigit nyamuk yang terinfeksi virus dengue.

Mitos #2 Tidak Bisa Terjangkit Dua Kali selama Hidup

Membongkar Mitos DBD

Foto: Orami Photo Stock

Banyak orang mempercayai jika mereka sudah pernah terinfeksi virus dengue, mereka tidak akan terkena DBD lagi. Ini bisa jadi mitos DBD yang paling berbahaya.

Mempercayai mitos ini akan menurunkan tingkat kewaspadaan. Dilansir dari Times of India, sistem kekebalan tubuh seseorang bisa jadi cukup kuat untuk membuatnya sembuh dari demam berdarah, tapi tidak berarti kebal dari virus dengue.

Sumber lain dariOnly My Health menyebut, virus dengue terdiri empat jenis. Jadi jika seseorang sudah pernah terinfeksi virus dengue, bukan berarti tidak bisa terinfeksi lagi.

Mitos #3 Trombosit Rendah Pasti Demam Berdarah

Membongkar Mitos DBD

Foto: Orami Photo Stock

Trombosit yang rendah merupakan salah satu efek serius pada demam berdarah. Tetapi DBD bukan satu-satunya penyakit yang menyebabkan efek ini.

Dikutip dari Times of India, ada berbagai infeksi lain, obat-obatan, penyakit autoimun, serta penyebab lain seperti pembedahan, kehamilan, dan lain sebagainya, yang bisa menyebabkan jumlah trombosit yang rendah.

Mitos DBD ini perlu diatasi pula, Moms. Langkah yang bisa ditempuh ialah dengan melakukan tes lebih lanjut agar diketahui pasti apa yang menyebabkan turunnya jumlah trombosit itu.

Baca Juga: 6 Gejala Penyakit DBD pada Anak, Jangan sampai Terkecoh ya Moms!

Mitos #4 Minum Jus Jambu Akan Meningkatkan Trombosit

Membongkar Mitos DBD

Foto: Orami Photo Stock

Jambu biji tidak berkhasiat menambah trombosit darah. Kandungan vitamin C yang tinggi bermanfaat untuk memperbaiki daya tahan tubuh untuk melawan virus dengue. Sehingga secara perlahan, jumlah trombosit akan meningkat dengan sendirinya.

Dikutip dari laman Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga , secara umum pengobatan pada demam berdarah ialah mencegah penderita tidak mengalami dehidrasi.

Caranya dengan mengonsumsi cairan, khususnya yang mengandung elektrolit dan glukosa, misalnya saja air buah atau minuman manis lainnya.

Hasil riset Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Airlangga Prof. Soegeng Soegijanto dan Harjono Achmad justru menyebut daun jambu biji yang lebih berkhasiat.

Senyawa kimia quercentin yang terkandung di dalamnya merupakan senyawa pokok penambah jumlah trombosit. Kandungan di selembar daun jambu bisa setara dengan kandungan zat yang sama di sekilo jambu biji.

Mitos #5 Jus Daun Pepaya Menyembuhkan DBD

Membongkar Mitos DBD

Foto: Orami Photo Stock

Sebagian masyarakat percaya jus daun pepaya mampu menyembuhkan demam berdarah. Meski mitos DBD ini telah tumbuh sejak lama, tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim daun papaya bisa meningkatkan jumlah trombosit seperti dikutip dari Times of India .

Sampai saat ini tidak ada obat khusus maupun vaksin yang bisa mengobati dan melindungi dari virus dengue. Cara terbaik untuk mengatasi penyakit ini adalah dengan istirahat dan membiarkan tubuh pulih.

Mitos #6 Pakaian Gelap Menarik Nyamuk

Membongkar Mitos DBD

Orami Photo Stock

Mitos ini masih dipercaya dari waktu ke waktu. Dikutip dari Times of India, Joseph M. Conlon, seorang ahli entomologi pensiunan Angkatan Laut AS dan penasihat teknis untuk American Mosquito Control Association mengklarifikasi, nyamuk tidak tertarik pada warna pakaian, jenis makanan tertentu, atau bahkan golongan darah. Nyamuk terutama tertarik pada karbon dioksida dan panas.

Dikutip dari Only My Health, studi menunjukkan, karbon dioksida dan panas tubuh merupakan daya tarik utama bagi nyamuk. Sedangkan keringat dan sekresi kulit lainnya dapat menarik lebih banyak gigitan daripada yang lainnya.

Pria lebih dari wanita, orang dewasa lebih dari anak-anak dan orang yang lebih besar lebih kecil adalah preferensi utama nyamuk. Laki-laki lebih dari perempuan, orang dewasa lebih dari anak-anak, orang yang lebih besar ketimbang yang lebih kecil merupakan preferensi utama nyamuk.

Baca Juga: 4 Cara Mencegah Penyakit DBD yang Bisa Dilakukan di Rumah

Jadi Moms, jangan percaya begitu saja dengan mitos DBD yang beredar ya. Sangat dianjurkan untuk berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan pada pagi dan sore hari.

Sebab waktu-waktu itu merupakan puncak bagi nyamuk Aedes aegypti. Lindungi diri dengan anti nyamuk jika harus beraktivitas pada waktu-waktu tersebut, Moms.

Artikel Terkait