KESEHATAN
27 Juni 2019

Ketahui 5 Mitos Kekuatan Mental yang Kerap Jadi Salah Kaprah

Orang dengan penyakit mental bukan berarti juga lemah mental
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Untuk memiliki kekuatan fisik yang baik, Moms perlu berlatih dengan pergi ke gym, atau rutin berolahraga. Tentunya dilakukan secara bertahap, dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Hal ini serupa dengan membentuk kekuatan mental, tanpa kekuatan mental yang cukup, Moms tidak mungkin mencapai tujuan apapun dalam hidup yang sedang dijalani.

Sayangnya, banyak orang masih tidak terbiasa dengan konsep ini. Ada banyak kesalahpahaman tentang apa sebenarnya kekuatan mental dan mengapa itu penting.

Berikut lima mitos terbesar tentang kekuatan mental oleh Amy Morin, pekerja sosial klinis berlisensi dan ahli tentang kekuatan mental, dikutip dari Psychology Today:

1. Menjadikan Kekuatan Mental Sebuah Tren Psikologis

videoblocks-portrait-of-thinking-man-brainstorming-sitting-in-office_h-qez1rx_thumbnail-full05.png

Kekuatan mental bukan sekadar tren fenomenal dan populer yang suatu saat bisa meredup. Ada banyak gagasan yang menyebutkan bahwa seseorang dapat belajar mengatur pikiran, mengelola emosi, dan berperilaku produktif.

Membangun 'otot' mental sama seperti membangun otot fisik. Jika ingin lebih kuat secara fisik, Moms perlu melakukan kebiasaan sehat, dan berhenti dari kebiasaan yang tidak sehat

Begitu juga dengan membangun kekuatan mental, butuh melakukan kebiasaan sehat seperti berlatih bersyukur, sambil meninggalkan perilaku tidak sehat, seperti menyerah setelah gagal pertama kali.

Baca Juga: 5 Persiapan Mental Menghadapi Proses Kelahiran Caesar

2. Manusia Terbagi Dua: Mereka yang Kuat Mental atau Lemah Mental

Tidak ada dua kategori antara mereka yang kuat mental, dan lemah mental. Setiap orang punya kekuatan mental sampai batas tertentu, dan kita semua memiliki kemampuan untuk menjadi lebih kuat.

Ibarat kekuatan fisik, seseorang mungkin memiliki bagian tubuh atas yang lebih kuat daripada tubuh bagian bawah, atau lengan kanan lebih kuat dibandingkan dengan lengan kiri.

Sama dengan kekuatan mental, beberapa orang cenderung unggul dalam beberapa bidang kekuatan mental, namun mereka berjuang dengan aspek kekuatan mental yang lain.

Moms harus terus berolahraga agar tetap kuat secara fisik, begitu juga dengan kekuatan mental yang membutuhkan latihan yang berkelanjutan.

3. Orang dengan Penyakit Mental Tak Mampu Melatih Kekuatan Mental

kuat mental-1.jpg

Setiap orang memiliki kemampuan untuk membangun kekuatan mental, terlepas dari apakah mereka mengalami depresi, kecemasan, ADHD, atau masalah kesehatan mental lainnya.

Memang menjadi fakta bahwa orang yang punya masalah kesehatan mental akan butuh usaha ekstra untuk membangun kekuatan mental.

Seseorang dengan depresi, misalnya, mungkin mengalami lebih banyak pikiran negatif daripada yang lain, tetapi itu tidak berarti orang yang mengalami depresi tidak dapat tumbuh jadi lebih kuat.

Orang dengan penyakit mental tidak lemah secara mental. Faktanya, banyak dari mereka sangat kuat. Seperti orang lain, mereka memiliki kemampuan untuk menciptakan perubahan positif dalam hidup mereka.

Baca Juga: 5 Trik Membaca Pikiran Bayi

4. Kekuatan Mental Berarti Selalu Berpikir Positif

Membangun kekuatan mental bukan berarti seseorang harus mulai mengharapkan hal-hal besar terjadi, atau hanya memikirkan pikiran yang positif dan bahagia.

Kenyataannya, memiliki pikiran yang terlalu positif bisa sama merugikannya dengan memiliki pikiran yang terlalu negatif.

Membangun kekuatan mental adalah tentang melatih diri untuk berpikir secara rasional dan realistis. Meskipun Moms mungkin cenderung memercayai pikiran sendiri, namun pikiran kita tidak selalu benar.

Misalnya ketika sedang merasa buruk, pikiran kita cenderung menjadi sangat negatif. Begitu juga saat bahagia, kita lebih cenderung melebih-lebihkan diri sendiri dan kemampuan yang dimiliki.

Mengembangkan kekuatan mental berarti meningkatkan kemampuan untuk mengevaluasi pikiran kita dan mengembangkan pemikiran yang lebih realistis.

5. Orang yang Kuat Mental Berperilaku Seperti Robot

kuat mental-2.jpg

Menjadi kuat secara mental bukan berarti seseorang tidak boleh menangis di pemakaman, misalnya. Daripada menekan emosi, membangun kekuatan mental justru dengan meningkatkan kesadaran terhadap situasi yang terjadi.

Kita membuat keputusan terbaik dalam hidup ketika bisa mengendalikan emosi, ketimbang membiarkan emosi yang mengendalikan diri kita.

Orang yang kuat secara mental mampu mengenali tanda-tanda ketika perasaan mereka mengarah pada perilaku yang tidak sehat, dan mereka bisa mengambil langkah untuk mengatur emosi itu.

Artikel Terkait