PARENTING
10 Juli 2019

Moms Ingin Punya Me-Time? Apakah Terlalu Egois? Tidak Sama Sekali

Butuh proses cukup panjang sampai saya sadar kalau untuk menciptakan keluarga (terlebih mood para balita) yang happy, harus dimulai dari Mom yang bahagia dan bebas tekanan mental. Siapa yang setuju sama saya?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Prita Apresianti

Oleh Irfina Indriyani, Ibu dari Aruna Safwana Sachi, 5 tahun, dan Athariz Rafisqy Akioshi, 17 bulan.

Dulu, saya selalu berpikir, setelah punya anak nanti, hidup saya tak lagi punya saya seorang diri. Which is true! Apapun yang saya lakukan, terlebih saya seorang full time mom, yang sudah melepaskan karier di kantor semenjak kelahiran anak pertama, selalu melibatkan anak dalam setiap kegiatan. Dalam kamus saya, jangan pernah meninggalkan atau menitipkan anak untuk sekadar menikmati waktu “bahagia” sendiri. Itu sangatlah egois. Bagaimana seorang ibu bisa lari dari tanggung jawab?

Mulai Bergeser

FinaKids.jpg

Yup, itu semua adalah pikiran lama saya ketika baru punyai satu anak. Oh ya Moms, sekarang anak saya sudah dua. Yang pertama usianya 5 tahun dan adiknya 1 tahun. Sedikit flashback, butuh waktu tiga tahun di awal pernikahan sampai saya berhasil punya anak pertama. Seperti Moms duga, bisa jadi hal itulah yang bikin saya ingin selalu bersama anak kapan pun dan kemana pun.

Sejak kelahiran anak pertama, saya berbagi semuanya dengannya. Apapun saya kerjakan bersama Sachi. Saat itu saya merasa tubuh dan jiwa saya bukan lagi milik saya seorang. Sampai Sachi berumur 3,5 tahun, saya tidak pernah sekalipun pergi tanpanya. Benar! Kapan pun, di manapun, ada Mami, ada juga Sachi di dekat saya. Dan di luar dugaan, saya pun hamil lagi. Bahagia sekali saat Kio, bayi laki-laki mungil lahir yang menggemaskan lahir. Tapi, di luar kegembiraan buat keluarga kecil kami, siapa menduga kalau kehadirannya makin membawa perubahan drastis dalam hidup saya!

Proses yang Tak Mudah

IMG-20190525-WA0010.jpg

Jujur, sejak membesarkan anak pertama, gejolak emosi saya sangat tinggi. Mengalami baby blues berlanjut sampai post-partum depression sampai anak berumur hampir 3 tahun, bikin saya selalu dihantui rasa ketakutan yang tinggi. Bahkan tak berhenti, hingga menjelang kelahiran anak Kio

Long short story, saya pun tersadar, kalau saya tak lagi punya hak lagi atas diri saya sendiri. Bagaimana mungkin! Saya yang dulu seorang editor di majalah lifestyle ternama, sempat pula berkarier di dunia retail yang dinamis, sekarang setelah menyandang predikat ibu, jadi tak lagi punya hasrat untuk menciptakan “warna” dalam hidup. Bahkan, saya yang sempat mengambil tawaran ajdi penulis lepas sekadar untuk jadi pencerahan dan refreshing, tak sukses.

Rasa bosan, lelah, frustasi kerap berkecambuk. Saya jadi mudah marah. Dan saya sadar betul, tidak ada satu pun orang yang bisa disalahkan, melainkan saya sendiri. Tiba-riba saya sadar, selama ini saya tidak memberikan waktu rehat untuk diri sendiri, sekadar untuk me-recharge mental.

Terlambat Menyadari? Tak apa!

Ya, semua baru saya sadari ketika memiliki anak kedua. Entah mendapatkan wangsit atau pencerahan dari mana, perlahan saya berani meninggalkan anak dengan suami atau kakek neneknya untuk sekadar menikmati me-time. Memang terlambat, baru menyadari setelah hampir 4 tahun jadi Ibu, yang tak pernah sekalipun lepas dari anak.

Mau tahu me time saya seperti apa? Jauh dari kesan mewah yang sering Moms lihat di social media, di mana para Mom influencer liburan bareng sahabatnya atau menikmati honeymoon ke sekian yang super romantis sama suami. Buat saya, tidak usah muluk-muluk. Sekadar pergi sendirian selama maksimal 30 menit ke supermarket saja sudah memberikan sensasi yang luar biasa. Ketika kembali kerumah, saya bisa tak henti tersenyum. Beres! Baterai saya sudah full. Bahkan saya mulai kangen anak-anak. Saya jadi bersemangat kembali ke rumah untuk memeluk keduanya. Saya pun jadi punya kesabaran ekstra buat menghadapi emosi keduanya (yang saya rasa sebenarnya masih dalam batas wajar).

Realistis adalah kuncinya

IMG-20180507-WA0008.jpg

Saya tak pernah henti bersyukur bisa melihat hal ini untuk memancing kebahagiaan. Boleh saja dulu saya beranggapan meninggalkan anak untuk kebahagiaan diri sendiri adalah hal egois. Sekarang tidak lagi. Saya pun ketagihan! Meskipun kenyataannya saya tetap tidak punya banyak kesempatan, tapi saya selalu mencari siasat. Saya harus selalu menyempatkan diri untuk melakukannya.

Untungnya, saya punya suami yang juga bisa diajak kerjasama dalam hal ini. Entah di sela-sela anak pertama pergi sekolah, saya “kabur” sebentar untuk ke supermarket (ya, yang ini paling jitu dan mudah dilakukan) atau saat weekend menitipkan anak-anak ke kakek neneknya untuk menonton bioskop atau makan malam berdua suami. Semua Moms pasti merasakan kalau sulit betul bisa nonton bioskop dengan tenang, menyelesaikan tumpukkan pekerjaan di rumah tanpa mendengar jeritan, dan menghabiskan secangkir macchiato lezat di kedai kopu tanpa ada rengekan anak ingin naik Zoomov di mall! Haha, toos!

Pokoknya misi saya sukses. Saya bisa jadi ibu yang lebih fleksibel dan santai mengurus 2 anak, hanya dengan bantuan ART pulang pergi. Bonus yang maha penting : komunikasi dengan suami jadi lebih lancar. Bahkan ia melihat saya sebagai pribadi baru, yang lebih menyenangkan. Kami bisa lebih (saya tak bilang banyak, ya) punya waktu buat berbagi. Terakhir, saya makin menikmati pekerjaan saya sebagai penulis lepas, sebagai jendela kehidupan sosial saya. Tak lupa, saya pun menikmati reward besar ketika hasil tulisan saya di-published di media. Rasanya bangga, berhasil juggling dan punya pencapaian lain, selain jadi seorang Ibu yang selalu punya sensasi dan kebahagiaan luar biasa!

Nah Moms, sudahkan kamu menikmati me-time-mu hari ini (atau minggu ini, atau baiklah bulan ini? Haha)?

Artikel Terkait