ORAMI MAGAZINE
30 Agustus 2019

Moms, Ketahui Ciri dan Penyebab Balita Berbohong

Bolehkah Moms menghukum anak jika tidak jujur?
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Si Kakak menumpahkan susu ke karpet. Tapi saat Moms tanya, ia malah menyalahkan Si Adik. Sejak kapan Si Sulung yang masih balita ini bisa berbohong?

Rupanya, balita belajar berbohong sejak sekitar umur dua tahun, Moms. Kira-kira 30% anak di umur tersebut mulai menyangkal kesalahan yang ia perbuat. Setelah berumur tiga tahun, 50% anak berbohong lebih sering. Mereka mulai belajar mengatakan white lies, yakni berbohong demi kebaikan.

Jumlah anak yang berbohong di usia 4 tahun naik hingga 80%. Bahkan, hampir semua anak berusia 5-7 tahun pernah tidak jujur.

Ciri Balita Berbohong

Ciri Balita Berbohong.jpg

Foto: macleans.ca

Menurut psikolog asal Inggris Judi James, ada beberapa tanda yang terlihat jika balita berbohong:

  • Mata melebar
  • Alis naik
  • Perkataan seperti “bukan salahku!”
  • Gestur penyangkalan seperti ekspresi aneh di wajah dan mulut

Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Anak Kecil Mulai Suka Berbohong

Penyebab Balita Berbohong

Penyebab Balita Berbohong.jpg

Foto: premieracademy.com

Ada beberapa penyebab balita mengatakan hal yang berbeda dari kenyataan, yakni:

1. Tidak Bisa Membedakan Kenyataan dan Khayalan

Anak belum memahami konsep berbohong sepenuhnya sampai ia berusia 3-4 tahun. Sisi imajinasinya masih menguasai sehingga ia belum bisa membedakan fakta dan fiksi.

Jadi, wajar jika anak usia prasekolah memiliki teman khayalan dan bahkan bersikeras bahwa temannya nyata.

Baca Juga: Menghadapi Anak yang Suka Berbohong

2. Pelampiasan Harapan

Terkadang, anak berbohong untuk memperlebar kebenaran. Maksudnya, ia mengaplikasikan harapan akan sesuatu yang tidak terjadi di dunia nyata lewat khayalannya.

Misal, balita memiliki teman khayalan yang bisa bermain seharian tanpa harus tidur siang. Ini adalah keinginan anak yang tidak bisa ia lakukan di dunia nyata. Namun, anak percaya dengan berkhayal seperti ini, keinginan tersebut bisa terwujud. Hal ini disebut “magical thinking”.

3. Ingin Terlihat Baik dan Menghindari Konsekuensi

Saat anak tidak mengakui kesalahannya, ia tidak bermaksud menipu Moms. Ia hanya mencoba terlihat tetap baik di mata Moms karena balita memiliki sifat ingin menyenangkan orang lain.

Jadi jika ia melihat Moms tidak senang dengan tingkah lakunya, ia akan berusaha “membatalkan” kesalahannya dengan menyangkal. Balita juga merasa bisa menghindari konsekuensi dari kesalahan yang ia perbuat dengan berdusta.

4. Anak Lupa Akan Perbuatannya

Daya ingat balita masih berkembang. Jadi, jika Si Kecil menuduh kakaknya yang memulai pertengkaran, bisa jadi karena ia lupa bahwa dia yang pertama kali merebut mainan Si Kakak.

Baca Juga: Wah, Balita Tahu Jika Orang Tuanya Berbohong!

Bolehkah Menghukum Balita Karena Berbohong?

Bolehkah Menghukum Balita Karena Berbohong.jpg

Foto: todaysparent.com

Jangan menghukum balita karena berkata tidak jujur. Sebab, mereka tidak tahu kalau apa yang mereka perbuat itu salah.

Misalnya, jika anak menarik ekor kucing dan mengatakan bahwa yang melakukannya adalah teman khayalannya, Moms tidak perlu menuduh (apalagi dengan marah) dan memaksa anak mengaku karena Moms hanya akan mendapatkan kebohongan. Katakan saja “Kucingnya kesakitan, lo…”

Jika Moms ingin anak mengaku berbuat salah, Moms harus meyakinkan mereka bahwa mereka tidak akan terkena masalah jika mengaku. Moms malah akan senang jika Si Kecil jujur.

Mudah-mudahan kebiasaan berbohong ini tidak berlanjut sampai dewasa, ya, Moms.

Artikel Terkait