PARENTING
17 November 2019

Bagi Grace Melia, Julukan Supermom Kadang Terasa Begitu Membebani

Seorang ibu hanya manusia biasa, jadi perlu dukungan juga

Sumber: Instagram.com/grace.melia

Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Grace Melia, Ibu dengan dua orang anak: Aubrey (7 tahun dan berkebutuhan khusus) dan Aiden (4 tahun).

Aubrey lahir dengan Congenital Rubella Syndrome yang membawa berbagai macam gangguan kesehatan. Ada kebocoran jantung, cerebral palsy, ketulian, pengapuran otak, global developmental delay, dan disabilitas intelektual. Yang terakhir saya sebutkan adalah yang terasa paling menantang saat ini.

Disabilitas intelektual, oleh orang zaman dulu, biasanya disebut dengan idiot. Saat ini, diksi tersebut sangat tidak dianjurkan, ya. Jadi pakailah diksi disabilitas intelektual.

Saya yakin bahwa setiap ibu memiliki kisah, tantangan, dan perjuangannya masing-masing. Parenting alone is hard. Parenting a special needs kid, hmm, the challenge’s got doubled, or even tripled. And many times it feels not easy, like at all.

Baca Juga: Dengan Mantap! Saya Menyekolahkan Anak-Anak ke Sekolah Berbasis Agama

Parenting Special Needs Kids

special needs kids

Foto: instagram.com/grace.melia/

Sangat tidak mudah menghadapi anak dengan fisik 7 tahun namun dengan pemahaman, mental, dan fase perkembangan anak usia 2-3 tahun. Istilah terrible two dan threenager yang selama ini kita kenal sebagai fase anak susah diatur dan dinasihati sedang saya alami.

Sekali lagi, dengan fisik dan kekuatan anak usia 7 tahun; yang masih belum bisa berjalan, yang masih harus digendong saat dipindahkan dari area-area rumah yang kurang aman, yang masih belum memiliki kemandirian di hal apapun, dan yang belum bisa berbicara sehingga kami tidak pernah tahu pasti apa yang ia inginkan. That’s my daily cup of tea.

Ada satu kejadian yang menunjukkan pemahaman dan mental Aubrey yang masih tertinggal yang membuat saya speechless sampai sudah tidak bisa menangis lagi.

Saat itu Aubrey di kamar sedang memainkan mainan yang bisa menyala, mainan kesukaannya. Saya sedang menyiapkan makan sore, nanny sedang mencuci botol susu. Ketika kami masuk kamar untuk mengangkat Aubrey ke stroller untuk jalan-jalan sore sambil makan, coba tebak apa yang kami lihat.

Aubrey sedang merogoh-rogoh diapernya (yang ternyata penuh pup), kemudian ia masukkan tangan ke mulut dengan ekspresi wajah yang datar.

Baca Juga: Tips Menyapih Anak Kembar dengan Penuh Cinta

Saya dan nanny mematung. Sama-sama terlalu kaget dan butuh waktu untuk digest what we just saw. Setelah kembali ‘sadar,’ nanny saya lekas membopong Aubrey ke kamar mandi untuk dibersihkan. Sementara saya masih mematung di kamar.

Kejadian itu menunjukkan Aubrey masih setidakpaham itu bahkan untuk hal mendasar: pup itu kotor, yang kotor tidak boleh dimasukkan ke dalam mulut, jika pup berteriaklah atau menangislah supaya orang dewasa di sekitar tahu dan buru-buru membersihkan.

Aubrey memang belum bisa bicara, tapi ia bisa berteriak dan menangis keras saat ia sedang ingin atau butuh sesuatu. But she didn’t. Bahkan ia juga tidak tampak jijik, padahal disgusted adalah satu basic emotion manusia. So, now you’ve got a picture?

Si “Anak Mahal”

special needs kids

Foto: instagram.com/grace.melia/

Ada julukan canda untuk special need kids, anak mahal. Well, punya anak memang mahal, lol. Tapi benar lho ternyata, saya rasakan kebutuhan Aubrey lebih mahal ketimbang kebutuhan Aiden, adiknya yang sehat pada umumnya.

Talk about medications every month dan terapi seminggu 2-3 kali dengan 3 jenis terapi yang berbeda. BPJS memang ada, tapi terkadang sistemnya memang terlalu berlebihan.

Kemudian untuk ongkos rumah-klinik terapi yang ternyata lumayan juga.

Satu hal pembeda pilih tempat terapi dan sekolah. Untuk sekolah, kadang kita lebih bisa memilih yang jaraknya dekat dan murah. Tapi untuk tempat terapi, tidak bisa menentukan hal tersebut.

Baca Juga: Dengan Senang Hati, Saya Berbagi Kisah Hamil dan Melahirkan di Denmark, Negara Paling Bahagia di Dunia

Berapa banyak rumah sakit atau klinik yang menyediakan jasa terapi yang dibutuhkan anak-anak berkebutuhan khusus? Tidak semua rumah sakit atau klinik punya lho fasilitas terapi dan jasa terapis yang mengakomodir kebutuhan anak-anak ini.

Bicara tentang sekolah, itu juga lebih mahal ketimbang sekolah yang biasanya bisa menerima anak-anak yang sehat pada umumnya. Untuk anak-anak berkebutuhan khusus, sebetulnya ada pilihan Sekolah Luar Biasa (SLB) juga, yang pastinya lebih terjangkau.

Tapi, sepengamatan saya, tidak banyak SLB yang cukup baik. Jadi, cari sekolah khusus menjadi pilihan, dengan konsekuensi merogoh kocek lebih dalam.

Namun yang paling terasa buat saya adalah kebutuhan diaper. Untuk anak yang sehat pada umumnya, biasanya usia 2-3 tahun sudah bisa lepas diaper. Tapi Aubrey, sekarang 7 tahun, masih setiap hari pakai diaper.

Saya sudah selalu pilih diaper yang paling murah, lol. Tidak pakai embel-embel Gold atau Premium, tapi tetap saja budget diaper banyak. Itu saja contohnya ya, saya tidak perlu jabarkan semuanya secara detil.

Challenge Non-Materi

special needs kids

Foto: instagram.com/grace.melia/

Kekhawatiran dan kelelahan yang barusan hanyalah dalam konteks yang dapat diukur dengan materi. Namun, ada juga yang sifatnya abstrak dan non-materi. Ada perasaan khawatir dan cemas yang secara berlanjut datang ketika terbersit pemikiran, “Bagaimana ya kalau saya sudah keburu berpulang di saat Aubrey masih seperti ini? Siapa yang mengurus dan mengatarkan terapi?”.

Baca Juga: Sebagai Pejuang Program IVF, Saya Bangga Karena Bisa Punya Hati yang Penuh Sabar

Ada perasaan gagal, marah, dan tidak terima saat melihat special needs kids lain sudah mencapai banyak kemajuan baru, sementara Aubrey masih belum beranjak dari yang lama.

Ada perasaan lelah, secara mental, ketika dihinggapi pikiran, “Sampai kapan ya begini?”

Semua yang saya rasakan, pikirkan, dan terjadi, sering membuat saya jatuh. Output termudah dan termanusiawi adalah dengan mengeluh atau menangis. Sebetulnya itu sehat daripada terus-menerus dipendam dan repressed.

Kadang, ada kalanya mengeluh cukup pada suami dan sahabat. Kadang, rasanya ingin menuliskan perasaan di blog, karena sebetulnya menulis adalah katarsis yang therapeutic buat saya. And more often than not, ada saja komentar semacam ini:

“Jalani dengan ikhlas, supaya nggak sering mengeluh.”

“Sabar Mba, Aubrey itu tiket surga nya Mba Grace.”

You are supermom, Mba. You can do it. Teruslah menginspirasi kami.”

I Am Not A Supermom, I’m Just A Mom

special needs kids

Foto: instagram.com/grace.melia/

Saya tahu bahwa kata-kata tersebut bersifat menyemangati dan saya sangat berterima kasih untuk hal itu. Tapi, ketika saya sedang sangat capek dan kalut, kata-kata tersebut rasanya justru membebani.

Baca Juga: Minat Beli Rumah Subsidi? Pelajari Kelebihan dan Kekurangannya!

Seolah-olah saya mengeluh karena saya tidak bisa ikhlas, padahal mengeluh adalah hak segala bangsa. Seolah-olah semua kelelahan saya bisa lenyap tak berbekas ketika ingat surga, padahal saat ini saya berpijak masih di dunia.

Seolah-olah saya harus selalu menampakkan senyuman dan kegembiraan, padahal saya ini manusia biasa. Ada kalanya saya hanya seorang ibu yang lemah dan lelah, yang cuma ingin mengeluh atau curhat untuk bisa sedikit lega. Ada kalanya saya sama sekali tidak ingin menginspirasi, karena yang saya butuhkan hanya telinga untuk mendengar dan bahu untuk saya jadikan sandaran.

How To Support?

Mungkin kalian jadi bertanya-tanya, “lantas bagaimana untuk mendukung supaya tidak malah bikin kesal atau terbebani?” Bagi saya pribadi, saya akan lebih plong mendapat support yang seperti ini:

“Hugs, Mba Grace. Nggak apa-apa kok mengeluh. Mba Grace juga manusia. Semoga setelah ini jadi lebih lega dan bisa semangat lagi ya.”

“Kudoakan Aubrey ada progress selanjutnya ya, Mba.”

“Ges, kalau butuh cerita-cerita, I’m here ya.

Dan semacamnya yang bersifat memvalidasi perasaan lelah dan overwhelmed saya. Sungguh, saya sepenuhnya sadar bahwa setelah punya anak, maka anak punya porsi yang besar dalam hidup kita.

Baca Juga: Jurus Ampuh Bertahan Hidup sebagai Ibu Bekerja dengan 2 Batita tanpa ART

Saya sadar bahwa jika punya anak berkebutuhan khusus, maka mau tidak mau ya memang perlu mengeluarkan uang, tenaga, waktu, dan pikiran yang lebih besar lagi. Tapi mari tidak lupa bahwa sang ibu juga perlu mendapat dukungan untuk dirinya sendiri sebagai manusia.

And here’s a quote that I found relatable. The next time someone says, “God only gives special needs kids to special people,” I’m gonna respond with, “How does it feel to know that God doesn’t think you’re special?” Lol.

Artikel Terkait