BAYI
5 Agustus 2020

Mengenal Necrotizing Fasciitis, Bakteri Pemakanan Daging yang Berbahaya!

Jangan sepelekan luka, bisa jadi bayi diserang necrotizing fasciitis Moms!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Apakah Moms pernah mendengar tentang bakteri yang bernama Necrotizing Fasciitis? Selain bakteri E. Colli yang lebih dulu dikenal karena berkaitan dengan organ pencernaan bayi, bakteri ini juga memiliki bahaya tersembunyi saat Si Kecil memiliki luka luar yang biasanya disepelekan.

Necrotizing Fasciitis adalah bakteri ‘pemakan daging’ yang jarang ditemukan tetapi berbahaya. Bakteri ini dapat menyebabkan kerusakan permanen atau bahkan kematian.

Ini adalah penyakit yang pada dasarnya membunuh fasia, jaringan hidup di bawah kulit yang mengelilingi otot, saraf, dan pembuluh darah. Bakteri ini biasanya berkembang pada luka goresan dan tumbuh dengan cepat di dalamnya.

Setiap tahun, antara 600 dan 700 kasus akibat bakteri ini didiagnosis di AS. Sekitar 25-30 persen dari kasus tersebut mengakibatkan kematian. Namun, ini jarang terjadi pada anak-anak, seperti dilansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Bakteri tersebut dapat memasuki tubuh setelah operasi atau cedera. Selain itu, necrotizing Fasciitis dapat memasuki tubuh bayi melalui gigitan serangga, luka goresan, dan lecet.

Baca Juga: Menindik Bayi Perempuan, Masalah Kesehatan dan Pencegahan Infeksinya

Kasus Necrotizing Fasciitis pada Bayi

necrotizing fasciitis

Foto: Orami Photo Stock

Dikutip dari Journal of Pediatric Surgery, necrotizing fasciitis adalah infeksi jaringan lunak progresif yang fatal, dan biasanya terjadi pada orang dewasa, dan jarang terjadi pada bayi.

Walaupun orang dewasa yang mengalami necrotizing fasciitis biasanya menderita diabetes, kurang gizi, atau immunocompromised, bayi yang menderita penyakit ini biasanya sehat dan tanpa faktor predisposisi yang jelas.

Namun, ada laporan kasus bayi dengan kekebalan yang lemah akibat manifestasi dan pengobatan panhypopituitarism, di mana fasciitis nekrotikans pascaoperasi berkembang setelah herniorrhaphy inguinal bilateral.

Diagnosis dini dan inisiasi perawatan bedah adalah cara yang paling esensial untuk meningkatkan prognosis untuk kasus necrotizing fasciitis pada bayi. Perawatan bedah yang cepat diperlukan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas pada kasus necrotizing fasciitis.

Karena kelangkaan penyakit itu sering salah didiagnosis oleh dokter. Jadi, Moms sebaiknya tetap waspada jika Si Kecil menunjukkan gelaja2 necrotizing fasciitis.

Gejala Necrotizing Fasciitis pada Bayi

Ini yang Harus Moms Tahu Tentang Necrotizing Fasciitis Berbahaya -1.jpg

Foto: Babywombworld.co.za

Kristin Dean, MD, direktur medis asosiasi di Doctor On Demand mengatakan bahwa ada beberapa gejala spesifik yang ditunjukkan tubuh saat bakteri Necrotizing Fasciitis mulai masuk pada bayi.

Kristin menjelaskan, selain flu setelah terjadinya luka, orang tua harus waspada terhadap gejala lain seperti kemerahan atau pembengkakan pada luka yang menyebar dengan sangat cepat, rasa sakit yang parah dan demam.

“Ada juga suara yang muncul atau berderak di bawah kulit, mati rasa di area kemerahan dan pembengkakan, borok, atau penampakkan hitam pada kulit," tambahnya.

Jika gejala-gejala tersebut muncul, segera pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dengan cepat.

"Memulai pengobatan lebih awal adalah penting. Biasanya, perawatan melibatkan antibiotik IV, dan beberapa operasi untuk mengangkat jaringan mati. Dalam kasus yang paling serius dan lanjut, Fasciitis Nekrotikans dapat menyebabkan sepsis, syok, kegagalan organ atau bahkan kematian,” kata dia.

Baca Juga: Mengenal Otitis Media, Infeksi Telinga Tengah pada Bayi

Necrotizing Fasciitis pada Bayi Sulit Didiagnosis

necrotizing fasciitis

Foto: Orami Photo Stock

Ada banyak infeksi yang terlihat mirip dengan necrotizing fasciitis pada tahap awal, yang dapat membuat diagnosis menjadi sulit. Selain melihat cedera atau infeksi, dokter dapat mendiagnosis necrotizing fasciitis dengan:

  • Mengambil sampel jaringan (biopsi)
  • Melihat darah untuk tanda-tanda infeksi dan kerusakan otot
  • Pencitraan (CT scan, MRI, USG) dari area yang rusak

Namun, penting untuk memulai perawatan sesegera mungkin. Oleh karena itu, dokter mungkin tidak menunggu hasil tes jika mereka berpikir seorang pasien mungkin mengalami necrotizing fasciitis.

Cara Mengobati Necrotizing Fasciitis pada Bayi

Ini yang Harus Moms Tahu Tentang Necrotizing Fasciitis Berbahaya -2.jpg

Foto: Nct.org.uk

Meski sangat jarang terjadi, ada beberapa hal yang dapat Moms lakukan untuk meminimalkan risiko Necrotizing Fasciitis pada bayi. Kristin mengatakan, perawatan luka yang tepat adalah kunci untuk mengurangi kemungkinan mengembangkan Fasiitis Nekrotikans.

"Bersihkan semua luka kecil dan goresan dengan sabun dan air, tutupi luka terbuka dengan perban, hindari berenang ketika memiliki luka terbuka, dan temui dokter untuk perawatan luka dari luka yang lebih serius," jelasnya.

Bayi yang terinfeksi bakteri necrotizing fasciitis akan menjalani beberapa jenis perawatan. Tingkat perawatan tergantung pada stadium penyakit ketika pengobatan dimulai. Perawatan tersebut biasanya termasuk:

  • Terapi antibiotik intravena.
  • Pembedahan untuk mengangkat jaringan yang rusak atau mati untuk menghentikan penyebaran infeksi.
  • Obat untuk meningkatkan tekanan darah.
  • Terapi oksigen hiperbarik dapat direkomendasikan untuk menjaga jaringan yang sehat.
  • Alat bantu pemantauan dan pernapasan jantung.
  • Transfusi darah.
  • Imunoglobulin intravena yang mendukung kemampuan tubuh untuk melawan infeksi.

Baca Juga: Begini Cara Mengobati Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada Bayi

Komplikasi Serius Necrotizing Fasciitis pada Bayi

komplikasi necrotizing fasciitis

Foto: Orami Photo Stock

Necrotizing fasciitis dapat menyebabkan sepsis, syok, dan kegagalan organ. Ini juga dapat mengakibatkan komplikasi seumur hidup karena kehilangan anggota tubuh atau jaringan parut yang parah karena pembedahan mengangkat jaringan yang terinfeksi.

Bahkan dengan pengobatan, hingga 1 dari 3 orang dengan necrotizing fasciitis meninggal karena infeksi. Enam dari setiap 10 orang yang mengalami fasciitis nekrotikans dan sindrom syok toksik streptokokus pada saat yang sama meninggal karena infeksi mereka.

Sindrom syok toksik streptokokus adalah penyakit lain yang sangat serius yang disebabkan oleh strep grup A. Ini menyebabkan tubuh mengalami syok dan melibatkan tekanan darah rendah dan kegagalan banyak organ.

Perawatan Luka yang Baik Membantu Mencegah Infeksi Kulit

perawatan luka necrotizing fasciitis

Foto: Orami Photo Stock

Kunci untuk mencegah infeksi pada luka adalah merawatnya dengan baik. Berikut ini langkah perawatan luka yang dianjurkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

  • Saat ada luka, langsung cuci dengan sabun dan air untuk mencegah infeksi kulit akibat bakteri.
  • Bersihkan semua luka kecil dan luka yang merusak kulit (seperti lecet dan goresan) dengan sabun dan air.
  • Bersihkan dan tutupi pengeringan atau luka terbuka dengan perban bersih dan kering hingga sembuh.
  • Kunjungi dokter untuk tusukan dan luka dalam atau serius lainnya.
  • Cuci tangan sesering mungkin dengan sabun dan air atau gunakan antiseptik berbasis alkohol jika mencuci tidak memungkinkan.
  • Rawat infeksi jamur seperti kaki atlet.

Jika memiliki luka terbuka atau infeksi kulit, hindari menggunakan:

  • Bak air panas umum
  • Kolam renang
  • Perairan alami (misalnya, danau, sungai, lautan)

Baca Juga: Infeksi Persendian Pada Bayi, Kenali Gejalanya!

Perlu diingat, hingga saat ini tidak ada vaksin untuk mencegah infeksi streptokokus grup A, termasuk fasciitis nekrotikans. Jadi, untuk menghindarinya, perawatan luka yang baik jadi kuncinya.

Meski terkesan sepele, jika Moms mellihat Si Kecil terluka segera obati untuk menghindari masuknya bakteri Necrotizing Fasciitis pada bayi.

Artikel Terkait