KEHAMILAN
6 Agustus 2020

5 Obat Program Hamil Berikut Dampaknya, Moms Perlu Tahu

Sebelum menjalani program hamil, ketahui dulu obat-obatan apa saja yang biasa dikonsumsi
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Serenata Kedang
Disunting oleh Dina Vionetta

Moms dan Dads belum kunjung dikaruniai anak setelah mencoba beberapa kali?

Atau Moms dan Dads berusia tidak lagi muda, namun masih ingin memiliki anak?

Cobalah berkonsultasi dengan dokter yang dapat membantu Moms dan Dads merancang program hamil yang tepat dan memberikan solusi yang aman untuk mengatasi akar masalah ketidaksuburan.

Dalam laporan survei penelitian The State of Infertility Report 2017, diketahui 1 dari 8 pasangan mengalami ketidaksuburan, dan setelah wanita berusia 35 tahun, 1 dari 3 pasangan mengalami ketidaksuburan.

Dari responden wanita yang mengalami ketidaksuburan, sebanyak 44% mencari pengobatan untuk hamil. Sebanyak 65% dari mereka yang mencari pengobatan berhasil melahirkan anak.

Bagi Moms dan Dads yang sedang mencoba program hamil dari dokter akibat masalah ketidaksuburan, mungkin akan diberikan rekomendasi mengonsumsi obat-obatan tertentu.

Apa saja obat yang biasanya digunakan dalam membantu program hamil?

Obat Program Hamil

Bagi Moms yang telah didiagnosis masalah ketidaksuburan karena masalah pada ovulasi, kemungkinan dokter akan memberikan resep obat-obatan yang bekerja membantu stimulasi ovulasi pada organ reproduksi.

Secara umum, cara kerja obat kesuburan ini mirip dengan hormon alami pada tubuh yang merangsang ovulasi.

Obat-obatan ini juga digunakan untuk menstimulasi produksi kualitas sel telur atau menambah jumlah sel telur yang lebih baik untuk mendukung program hamil.

1. Clomiphene Citrate

obat program hamil 1.jpg

Foto: Pexels.com

Obat program hamil ini biasanya dikonsumsi dengan cara ditelan. Cara kerjanya merangsang kelenjar pituitari memproduksi FSH (Follicle-stimulating hormone) dan LH (Luteinizing hormone) yang berfungsi menstimulasi ovulasi untuk memproduksi sel telur.

Namun, ada beberapa efek samping yang perlu diperhatikan jika Moms mengonsumsi obat program hamil Clomiphene:

  • Hot flashes, yaitu merasa panas pada tubuh bagian atas, khususnya area dada, leher, dan wajah, akibatnya Moms akan berkeringat dan wajah memerah. Biasanya hot flashes akan diikuti rasa dingin setelahnya.
  • Kembung dan perut terasa tidak nyaman
  • Kenaikan berat badan
  • Mood berubah-ubah
  • Mual dan pusing
  • Payudara melunak
  • Menstruasi yang tidak normal
  • Sakit kepala
  • Vagina kering atau muncul lendir serviks yang kental

Baca Juga: Apa Sajakah Persiapan untuk Program Hamil?

2. Gonadotropins

obat program hamil 2.jpeg

Foto: Unsplash.com

Obat program hamil yang masuk ke dalam tubuh Moms melalui suntikan ini, tidak bekerja dengan merangsang kelenjar pituitari, namun langsung bekerja pada ovarium, merangsangnya untuk memproduksi sejumlah sel telur. Gonadotropin membuat sel telur matang dan memicu sel telur untuk dilepaskan saat waktu ovulasi tiba.

Efek samping yang mungkin Moms rasakan saat menggunakan Gonadotropins yaitu:

  • Sakit kepala
  • Mual atau sakit perut
  • Infeksi pada saluran pernapasan bagian atas
  • Kembung atau abdomen melunak
  • Mood mudah berubah-ubah
  • Jerawat
  • Berat badan naik
  • Menstruasi tidak normal atau keluar bercak darah
  • Sakit dan kemerahan pada area bekas suntikan
  • Pusing

3. Metformin

obat program hamil 3.jpg

Foto: Pexels.com

Obat program hamil ini digunakan ketika penyebab ketidaksuburan diduga atau diketahui karena adanya resistensi insulin dalam tubuh, biasanya terjadi pada wanita yang didiagnosa PCOS (Polycystic ovary syndrome).

Cara kerja Metformin adalah dengan meningkatkan resistensi insulin, sehingga ketika digunakan bersama Clomiphene atau Letrozole meningkatkan peluang ovulasi dan peluang kehamilan yang lebih baik.

Pada awalnya efek samping dari Metformin adalah sakit perut, diare, mual atau muntah.

Seiring berjalannya waktu efek samping ini akan berkurang dan hilang dengan sendirinya.

Sebagai catatan, penggunaan Metformin dalam mendukung program kehamilan masih dalam penelitian lebih lanjut.

Moms yang pernah didiagnosa PCOS dapat berkonsultasi pada dokter untuk mendapatkan obat dan pengobatan yang tepat.

Baca Juga: Bahaya PCOS Bagi Wanita yang Sedang Program Hamil

4. Letrozole

obat program hamil 4.jpg

Foto: Pexels.com

Bekerja mirip dengan Clomiphene, Letrozole juga bekerja dengan menstimulasi ovulasi.

Letrozole termasuk ke dalam golongan obat aromatase inhibitors, yang salah satu kegunaannya adalah pengobatan untuk kanker payudara pada wanita pasca menopause.

Sayangnya, dampak Letrozole pada awal kehamilan masih dalam penelitian dan belum diketahui secara pasti, sehingga jarang digunakan dibandingkan dengan obat lainnya.

Obat ini memiliki kemungkinan efek samping bagi penggunanya, seperti:

  • Lemas
  • Pusing
  • Sakit kepala
  • Kembung atau perut terasa tidak nyaman
  • Hot flashes
  • Sulit tidur
  • Menstruasi pada waktu yang tidak biasanya atau keluar bercak-bercak darah
  • Payudara terasa nyeri

5. Bromocriptine

obat program hamil 5.jpg

Foto: Pexels.com

Ketika masalah ketidaksuburan diketahui atau diduga akibat produksi prolaktin yang berlebihan oleh kelenjar pituitari, Bromocriptine mungkin bisa jadi pilihan.

Obat program hamil yang satu ini bekerja dengan menekan jumlah produksi prolaktin ke level yang normal dalam darah.

Prolaktin adalah hormon yang bertugas mengirimkan sinyal ke tubuh untuk memproduksi susu.

Kadar prolaktin yang tinggi dianggap normal terdapat pada wanita hamil dan menyusui, namun kadar prolaktin yang tinggi dalam darah dapat menghentikan proses ovulasi, sehingga tidak baik untuk Moms yang sedang mencoba untuk hamil.

Bromocriptine masuk ke dalam tubuh dengan dua cara yaitu ditelan dalam bentuk tablet atau dimasukkan melalui vagina dalam bentuk pil.

Seperti obat-obatan pengatur hormon lainnya, Bromocriptine memiliki beberapa efek samping seperti:

  • Mual
  • Konstipasi
  • Sakit kepala
  • Mulut kering
  • Hidung tersumbat
  • Pusing
  • Tekanan darah rendah
  • Kantuk

Beberapa efek samping dan ketidaknyamanan akibat pengobatan dapat dihindari atau diminimalisir dengan meminum obat di malam hari atau menelan obat bersama makanan.

Selalu berkonsultasi dengan dokter dan melaporkan setiap gejala yang dirasakan, sehingga dokter dapat memberikan solusi yang membuat Moms merasa lebih baik.

Dokter seharusnya juga akan memberikan dosis paling rendah untuk Moms ketika pengobatan baru dimulai dan pelan-pelan menaikkan dosis.

Baca Juga: 4 Jenis Makanan yang Harus Dikonsumsi Saat Menjalani Program Hamil

Efek Samping Obat Program Hamil

Seperti obat-obatan pada umumnya, obat program hamil yang digunakan dalam terapi untuk merangsang kesuburan pun memiliki efek samping.

Beberapa gejala efek samping tidak berbahaya dan akan hilang dengan sendirinya atau ketika pengobatan dihentikan.

Namun, beberapa efek samping tertentu yang tidak segera diatasi dapat berbahaya untuk jangka panjang.

Selain efek samping yang telah disebutkan sebelumnya, kemungkinan efek samping lainnya yaitu:

1. Mengandung Bayi Kembar

obat program hamil 6.jpg

Foto: Freepik.com

Meminum obat perangsang kesuburan secara oral pada dasarnya memiliki risiko rendah (di bawah 10%) dan biasanya risiko ini adalah peluang memiliki bayi kembar.

Angka peluang ini dapat naik hingga 30% apabila obat masuk ke dalam tubuh melalui metode injeksi (contohnya Gonadotropins). Pada beberapa kasus, peluang bayi menjadi kembar tiga atau lebih juga dapat terjadi dalam terapi obat yang menggunakan injeksi atau suntikan.

Secara umum, semakin banyak bayi yang Moms kandung, semakin tinggi risiko kelahiran prematur, berat badan bayi kurang, dan masalah perkembangan anak lainnya di kemudian hari. Namun, menyeimbangkan dosis obat yang dikonsumsi dapat mengurangi risiko jumlah bayi yang lebih dari satu ini.

Untuk mengurangi peluang bayi kembar, memperhatikan siklus ovulasi Moms secara teliti adalah langkah yang penting. Dokter mungkin juga akan memeriksa dengan ultrasound untuk melihat berapa banyak folikel potensial yang berkembang.

Jika dirasa jumlah folikel potensial terlalu banyak, dokter mungkin akan menyarankan menghindari hubungan seksual sementara atau membatalkan siklus ovulasi demi keselamatan serta kesehatan Moms dan bayi ke depannya.

Baca Juga: Mengenal Penyebab dan Cara Mencegah Bayi Kembar Siam

2. Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS)

Efek samping lainnya dari obat program hamil dengan cara disuntik adalah dapat memicu OHSS atau sindrom hiperstimulasi ovarium yang menyebabkan nyeri dan bengkak pada ovarium.

Tanda dan gejalanya yakni rasa nyeri yang ringan di area perut, kembung, mual, muntah, dan diare. Gejala dan rasa ketidaknyamanan ini dapat hilang dengan sendirinya, namun jika Moms hamil, gejala ini dapat berlangsung hingga beberapa minggu.

Walaupun jarang terjadi, efek samping dari OHSS ini dapat berkembang menjadi gejala yang lebih lanjut seperti kenaikan berat badan yang cepat, nyeri hebat, dan pembengkakan pada ovarium, adanya cairan pada abdomen, dan napas yang pendek-pendek.

3. Masalah Penglihatan

obat program hamil 7.jpg

Foto: Freepik.com

Sebagian wanita yang sedang pengobatan menggunakan Clomiphene atau Letrozole mengalami gangguan penglihatan, misalnya melihat kilatan cahaya, melihat banyak floaters secara tiba-tiba, dan penglihatan kabur. Namun, masalah penglihatan ini akan hilang dengan sendirinya ketika konsumsi obat dihentikan.

4. Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik adalah kelainan kehamilan yang terjadi di luar rahim, biasanya bayi menempel pada tuba falopi, serviks, atau di tempat lain dalam area abdomen. Kasus ini dapat terjadi pada 1 dari 100 kehamilan, namun ditemukan peningkatan risiko pada wanita yang dalam pengobatan gonadotropins.

Perlu dicatat kelainan ini tidak hanya terjadi karena konsumsi gonadotropins, faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan kehamilan ektopik beragam, misalnya merokok, IVF (in-vitro fertilization), lahir dengan kelainan tuba falopi, luka atau robekan pada tuba falopi akibat pembedahan pada area pelvis, endometriosis, penggunaan IUD, dan beberapa faktor lainnya.

Baca Juga: Apakah yang Perlu Diketahui Tentang Kehamilan Ektopik

5. Tumor atau Kanker Ovarium

obat program hamil 8.jpg

Foto: Freepik.com

Dalam Fertility drugs, reproductive strategies and ovarian cancer risk, penelitian melibatkan 3887 responden wanita, 9 di antaranya yang mengidap kanker ovarium pernah menggunakan Clomiphene Citrate. Sebanyak lima dari 9 orang ini mengonsumsi Clomiphene 12 siklus bulanan atau lebih.

Lamanya durasi penggunaan obat ini dikaitkan dengan naiknya risiko tumor ovarium, sedangkan pengobatan dengan Clomiphene yang kurang dari setahun tidak dikaitkan dengan meningkatnya risiko.

Wanita yang tidak pernah hamil memiliki risiko lebih tinggi terkena tumor ovarium. Hal ini dapat menjadi salah satu penyebab yang lebih mungkin daripada pengobatan itu sendiri.

Tingginya angka keberhasilan dalam beberapa kali siklus pengobatan di awal, evaluasi ulang pengobatan yang digunakan setiap beberapa bulan, dan konsentrasi pada program hamil yang sukses membuat program hamil dengan cara ini tetap masuk ke dalam pertimbangan yang aman dilakukan untuk pengobatan jangka pendek.

Selama menjalani program hamil dan terapi kesuburan, Moms mungkin merasakan bermacam-macam emosi. Karena itu, mendapatkan dukungan emosional dari pasangan, teman dekat, keluarga, atau komunitas akan sangat dibutuhkan dalam perjalanan program hamil Moms dan Dads.

Selalu berkonsultasi dengan dokter tentang apa yang Moms akan konsumsi agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Jangan lupa ikuti petunjuk dokter dan minum obat program hamilnya secara teratur, ya!

Artikel Terkait