KELUARGA
9 April 2020

Pandemi Covid-19, Ini yang Keluarga Kami Lewati di Negeri Jiran Malaysia

Tinggal di Malaysia, jauh dari saudara, dan terkurung atau tidak diperbolehkan keluar rumah karena sebuah wabah pandemi, merupakan sesuatu yang baru dan cukup mengejutkan
placeholder

Foto: Dokumentasi Pribadi

placeholder
Artikel ditulis oleh Ria Indhryani
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Ria Indhry, ibu dari Arkatama F. Rahmani (2,5 tahun), tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia

Sebagai perantau di negeri jiran Malaysia yang sudah tinggal selama lebih dari satu tahun, sebelumnya saya tentu tidak pernah membayangkan akan ada pada kondisi cukup menegangkan seperti saat ini.

Terkurung di dalam rumah berupa unit apartemen, karena harus mematuhi peraturan pemerintah setempat tentang kawalan pergerakan Malaysia/Malaysia Movement Control Order (MCO) 2020 yang disebabkan wabah pandemi Covid-19.

Baca Juga: Cerita COVID-19 dari Inggris, Ini Pangeran Charles di Masa Karantina

Awal Mula Covid-19 di Malaysia

Apa Itu Covid19

Foto: Kementerian Kesehatan Malaysia

Jika Indonesia baru digemparkan dengan isu Covid-19 sejak satu bulan terakhir, kami di Malaysia sudah mulai mendapat imbauan tentang wabah ini sejak 20 Januari 2020 oleh Kementerian Kesehatan Malaysia (KKM).

Pada saat itu, rasanya belum selesai ketegangan saya sebagai ibu dari seorang anak usia 2,5 tahun karena wabah atau jangkitan influenza di Malaysia yang terjadi sejak akhir tahun 2019.

Bisa dibayangkan, vaksin influenza mendadak menjadi barang yang sangat langka. Dan ketika vaksin diperoleh, rasanya kami bisa merasa sedikit lebih lega untuk keluar rumah dan mengajak anak bermain di taman.

Namun pada 25 Januari 2020, KKM mengumumkan Malaysia mulai mencatat 3 kasus positif Covid-19 dan sekitar 30 kasus yang diberi istilah patient under investigation (PUI).

Sejak saat itu, Covid-19 menjadi isu yang sangat diperhatikan oleh KKM. Penambahan pasien positif dan PUI Covid-19 terus terdata. Meskipun, jumlahnya tidak terlalu signifikan dan belum ada kematian yang tercatat.

Pada 4 Februari 2020, pasien sembuh pertama mulai dipublikasikan. Kabar baik ini cukup menenangkan karena terus diiringi upaya KKM yang dengan giat mengkampanyekan cuci tangan, penggunaan masker, hand-sanitizer, serta ajakan untuk menunda perjalanan ke luar negeri.

Yakin Bukan Hal Serius, Tetap Tenang dan Berkegiatan

berkegiatan-dengan-pemantauan-ketat.jpeg

Foto: Dokumentasi Pribadi

Sepanjang Februari, kami di Malaysia masih melakukan kegiatan seperti biasanya. Sekolah dan perkantoran tetap beroperasi. Saya sendiri sangat optimis semua akan tetap baik-baik saja, karena melihat bagaimana pemerintah terus berusaha mengontrol dan menyampaikan informasi yang akurat setiap harinya tentang pandemi ini.

Akan tetapi sebagai langkah antisipasi, saya dan keluarga mulai membatasi diri keluar rumah saat akhir pekan dan juga berusaha menghindari tempat ramai kecuali memang sangat berkepentingan.

Beberapa kegiatan yang berhubungan dengan anak-anak, ada yang ditunda oleh penyelenggara dan ada yang masih tetap dilakukan. Tentu saja semuanya dengan tata cara yang lebih ketat seperti tidak ada sejarah ke negara terjangkit Covid-19, tidak demam, dan tidak batuk.

Cuti dan berlibur, tentu saja kembali bukan menjadi prioritas utama bagi keluarga saya, meski sebelumnya memang sempat merencanakannya.

Sebagai gantinya, berbagai mainan serta alat aktivitas yang diharapkan bisa mengisi kegiatan anak di rumah, mulai saya cari dan beli secara online. Dari berbagai buku, alat musik, dan berbagai mainan yang diharapkan bisa mengasah motorik anak.

Baca Juga: Wawancara Eksklusif Detri Warmanto, Aktor yang Positif COVID-19

Malaysia Menyusul Negara Lain, Lockdown

Lockdown Dimulai

Foto: Dokumentasi Pribadi
Benar saja, awal Maret 2020 akhirnya KKM mencatat jumlah pasien positif Covid-19 yang mulai naik secara teratur bahkan menunjukan eksponensial yang cukup mengejutkan.

Dalam kurun waktu 2 minggu, jumlah pasien positif Covid-19 yang sebelumnya hanya 25 orang, menjadi 428 orang dengan 0 kasus kematian. Covid-19 tidak hanya menjadi isu pandemi yang hangat dan menakutkan di negara-negara lain, tetapi juga Malaysia.

Perdana Menteri (PM) Malaysia memutuskan bahwa Malaysia kini berstatus darurat Covid-19 dan MCO diberlakukan. Kegiatan di sekolah, perkantoran, kedai/warung, tempat hiburan, dan tempat ibadah terpaksa diberhentikan. Pembatasan imigrasi pun tak luput dari perhatian.

Selain pekerja pada industri di bidang berkepentingan atau bersinggungan langsung dengan masalah sosial, semua diharapkan dapat bekerja di rumah (WFH). Semua orang juga dihimbau untuk membeli kebutuhan pokok dalam jumlah yang cukup atau tidak berlebih.

Meskipun pada kenyataannya, hampir semua stok kebutuhan pokok pada beberapa supermarket habis diborong.

Kini, kami memasuki minggu ketiga MCO dan fase kedua, di mana selama fase pertama masih belum menunjukan adanya tren penurunan jangkitan Covid-19. Hingga 1 April 2020, pasien Covid-19 di Malaysia sudah tembus hingga lebih dari 2.900 orang, 645 orang pasien sembuh, dan 45 orang pasien meninggal.

Sejauh ini, WFH masih diberlakukan. Jalanan menjadi lebih sepi. Pada fase kedua MCO ini, pemerintah memperkatat peraturan yang ada, salah satunya pembatasan jam keluar rumah bagi semua yang masih harus berkegiatan di luar.

Drama Baru ketika Suami WFH

ria-dan-keluarga.jpeg

Foto: Dokumentasi Pribadi

Bagi keluarga saya, suami yang mendadak harus WFH sebenarnya bukan hal yang aneh. Pekerjaan suami yang kebetulan adalah seorang programmer di perusahaan start up, memang biasa memberlakukan WFH pada kondisi-kondisi tertentu seperti saat saya melahirkan di Indonesia atau kondisi darurat lainnya.

Namun jika WFH dilakukan setiap hari selama lebih dari seminggu seperti saat ini, kondisi yang biasa tentu menjadi luar biasa.

Anak yang selalu ingin bermain dengan ayahnya sehingga terus menggedor pintu ruang kerja, anak yang tidur siang hanya sebentar karena mendengar suara lalu lalang atau suara video call ayahnya yang meeting, serta anak dan ayahnya yang setiap hari menanti snack sore, adalah pemandangan rumah saya saat ini.

Stres, tentu saja. Terlebih kami di sini hidup tanpa bantuan asisten rumah tangga. Bisa dibayangkan dong betapa jauh lebih banyaknya pekerjaan yang saya lakukan ketika suami WFH.

Namun, nyatanya dua minggu telah berhasil kami lewati meski dengan banyak drama. Selalu ada sisi positif dari apa yang terjadi.

Saya menjadi lebih sering dan mudah belajar membuat aneka makanan dan kue, terus belajar lebih sabar menghadapi rumah yang selalu terlihat berantakan, dan bersyukur karena dengan suami menghabiskan waktu 24 jamnya di rumah, komunikasi kami tentang keluarga tentu menjadi lebih baik.

Boleh Keluar Untuk Membeli Kebutuhan Pokok

WhatsApp Image 2020-04-06 at 9.37.09 AM.jpeg

Foto: Dokumentasi Pribadi

Kebutuhan pokok masih tercukupi baik dari kedai kecil di sekitaran apartemen, pedagang online, maupun dari supermarket terdekat. Saya sendiri membeli perbekalan sayur dan makanan lain hanya satu kali dalam seminggu.

Dianjurkan hanya satu orang dari setiap keluarga yang boleh pergi menuju supermarket untuk belanja. Beberapa supermarket memberlakukan peraturan yang ketat. Seperti misalnya, harus menggunakan masker yang dibawa sendiri dari rumah.

Supermarket lain memberlakukan peraturan berbeda seperti pembatasan orang di dalam supermarket yaitu hanya 10 orang, sementara sisanya harus mengantri di luar dengan jarak antar antrian 2 meter.

Sebelumnya, kita sebagai customer juga harus melakukan pemeriksaan suhu tubuh dan dibekali sarung tangan oleh pihak manajemen supermarket. Sementara kebutuhan seperti ikan, ayam, dan daging, saya membeli secara online dari salah satu jasa pembekal ikan yang memang hanya menyediakan jasa pesan antar.

Baca Juga: Andrea Dian dan Detri Warmanto Terkena COVID-19, Cepat Sembuh!

Mengerahkan Semua Mainan yang Dimiliki Agar Tidak Bosan

arkatama-bermain-dengan-buku.jpeg

Foto: Dokumentasi Pribadi

Bagaimana dengan anak-anak yang harus tetap di rumah dalam waktu berminggu-minggu? Bagi saya yang tinggal di sebuah unit apartemen, tentu saja hal ini sangat membosankan bagi anak-anak.

Namun, terkurung di unit apartemen sebenarnya bukan hal yang terlalu mengejutkan. Akan tetapi, isu Covid-19 ini sejak awal memang membuat kondisi apartemen menjadi lebih disiplin.

Kami semua tidak boleh bermain ke taman, menggunakan fasilitas kolam renang, dan juga bermain bersama tetangga. Sesekali anak-anak di lantai apartemen saya hanya saling menyapa dari kejauhan atau dari pintu unit apartemen masing-masing.

Bermain bersama di rumah adalah satu-satunya pilihan. Berbagai mainan serta alat-alat belajar yang sudah dipersiapkan sebelumnya, mulai dikeluarkan satu persatu dan dimainkan secara bergantian.

Misalnya, painting, drawing, bermain rainbow rice dengan small vehicle, belajar menulis alphabet and number, racing monster truck, menyanyi, menari, memainkan alat musik, dan berbagai ide bermain lainnya.

Berada di rumah seperti ini juga membuat kami lebih sering melakukan panggilan video dengan keluarga lainnya di Indonesia dan di beberapa negara lainnya yang juga sedang mengalami lockdown.

Artikel Terkait