KESEHATAN
27 Maret 2020

Pap Smear setelah Vaksin HPV, Perlukah?

Ketahui juga frekuensi pap smear yang perlu dilakukan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Vaksin serviks atau vaksin HPV, dilakukan agar membantu melindungi diri terhadap kanker dan beberapa penyakit lain yang disebabkan oleh HPV.

Mengutip Indian Journal of Medical & Paediatric Oncology, vaksin HPV merupakan metode pencegahan utama, tetapi tidak menghilangkan kebutuhan untuk skrining nantinya.

Ini karena vaksin HPV tidak melindungi terhadap semua jenis HPV dengan risiko tinggi.

Karena itu, Moms juga perlu untuk melakukan pengecekan pap smear untuk memeriksa kanker serviks. Lalu, seberapa sering melakukan pemeriksaan pap smear setelah vaksin HPV? Ketahui informasi lebih lanjut berikut ini.

Baca Juga: Manfaat Tes Pap Smear yang Perlu Moms Tahu

Pap Smear Setelah Vaksin HPV Tetap Harus Dilakukan

pap smear setelah vaksin HPV-2.jpg

Foto: aspirefertility.com

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Pondok Indah - Puri Indah, dr. Grace Valentine, Sp. OG, menjelaskan bahwa skrining pap smear termasuk dalam salah satu pencegahan kanker serviks.

"Pap smear adalah salah satu cara pencegahan sekunder kanker serviks dengan tujuan melakukan deteksi dini adanya sel pra-kanker serviks," terangnya.

Lebih lanjut, bahkan wanita yang telah melakukan vaksinasi Human Papiloma Virus (HPV) atau vaksin kanker serviks, frekuensi pap smear tetap sama dan harus dilakukan.

"Vaksin HPV yang tersedia saat ini hanya dapat mencegah infeksi 2 jenis HPV dengan high risk terbanyak yaitu HPV tipe 16 dan tipe 18. Sementara masih terdapat banyak jenis virus HPV high risk dan faktor penyebab kanker serviks lainnya," jelas dr. Grace.

Baca Juga: Mengapa Vaksin HPV Penting Dilakukan Sebelum Menikah?

Frekuensi Pap Smear Usai Vaksin HPV

pap smear setelah vaksin HPV-1.jpg

Foto: insider.com

Frekuensi pap smear dilakukan tergantung pada jenis lab pap smear yang dimiliki. Secara umum, ada 3 jenis pemeriksaan pap smear yang tersedia, yaitu:

  • Pap smear konvensional. Dianjurkan dilakukan pengulangan setiap 1 tahun sekali bila hasilnya normal.
  • Thin prep (Liquid Based Citology/LBC). Dianjurkan dilakukan pengulangan setiap 2 tahun sekali bila hasilnya normal.
  • Thin prep dikombinasikan dengan tes HPV DNA. Pada jenis thin prep yang dikombinasikan dengan tes HPV DNA, dianjurkan dilakukan pengulangan setiap 3-5 tahun sekali bila hasilnya normal.

Baca Juga: 6 Cara Menjaga Kesehatan Vagina

Mengutip Medline Plus, tes pap smear bisa memberikan sedikit rasa ketidaknyamanan, mirip kram menstruasi. Tetapi, bisa juga tidak merasakan sakit sama sekali. Selain itu, bisa terjadi pendarahan sedikit setelah tes.

Sebaiknya, skrining pap smear untuk kanker serviks sudah harus dilakukan pada usia 21 tahun.

Nah, meskipun vaksin HPV merupakan metode pencegajan utama untuk kanker serviks, pap smear juga perlu dilakukan sebagai cara pencegahan sekunder. Jadi, Moms tetap perlu melakukan pap smear secara berkala setelah vaksin HPV ya.

Artikel Terkait