KESEHATAN
10 Maret 2020

Pasien Corona di Indonesia Bertambah Menjadi 19 Orang, Berikut Keterangan Kasus Baru COVID-19

Dua di antaranya merupakan warga negara asing.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Dina Vionetta

Setelah kemarin baru saja mengumumkan bertambahnya pasien corona di Indonesia sebanyak empat orang, kini pasien bertambah lagi sebanyak 13 jiwa, dengan total 19 kasus pasien COVID-19 di Indonesia per hari Senin (9/3/2020).

Hal ini diketahui dari rilisan pers pada situs Kementerian Kesehatan, dengan pernyataan dari juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Sekretaris Ditjen P2P Kemenkes, dr. Achmad Yurianto.

"Hari ini jumlah kasus yang terkonfirmasi positif sebanyak 19. Ini adalah penjumlahan dari yang sudah dirilis diawal dari pasien nomor 1 dan nomor 6. Hari ini saya menyampaikan nomor 7 sampai 19," terang dr. Yurianto dalam konferensi pers di Istana Negara, pada Senin (9/3) sore kemarin.

Ketahui lebih lanjut tentang penjelasan mengenai bertambahnya 13 pasien corona di Indonesia berikut ini.

Bertambahnya Pasien Corona di Indonesia

pasien corona di Indonesia-4.jpg

Foto: thebureauinvestigates.com

Bertambahnya 13 kasus baru ini menjadikan total pasien virus corona di Indonesia menjadi 19 jiwa, dengan pasien termuda berusia 16 tahun dan pasien tertua berusia 59 tahun.

Selain itu, dr. Yurianto juga menjelaskan bahwa tujuh dari tiga belas kasus baru merupakan imported case, yang berarti ketujuh orang tersebut punya riwayat perjalanan ke negara-negara yang telah terjangkit COVID-19.

Setelah kembali ke Indonesia, beberapa hari kemudian para pasien ini menunjukkan gejala yang mengarah ke penyakit virus COVID-19.

"Sudah (ditelusuri) dari 3 negara. Yang pasti dari negara yang terinfeksi," tuturnya.

Selain dari imported case, enam kasus positif lainnya merupakan hasil tracing dan tracking dari Kasus 1 hingga 6, termasuk dari kluster Jakarta. Selain itu, dari 13 kasus ini, ada juga dua WNA yang terkonfirmasi positif.

Baca Juga: Ada 4 Kasus Baru Pasien Corona di Indonesia, Berikut Penjelasannya

1. Kasus 7 dan Kasus 8, Suami-Istri

Untuk keterangan Kasus 7 dan 8 merupakan suami-istri, usai bepergian dari luar negeri. Kasus ini termasuk imported case.

"Yang pertama kita identifikasi sebagai Kasus 7, perempuan (59) kondisinya sakit ringan-sedang dan stabil. Kasus ini adalah imported case, yang bersangkutan baru kembali dari luar negeri dan beberapa saat menunjukkan gejala COVID-19, kemudian dilakukan pemeriksaan baik dengan PCR (Polymerase Chain Reaction) maupun Genom Sequencing, hasilnya positif," jelas dr. Yurianto mengutip KataData.

"Selanjutnya Kasus 8, laki-laki (56) pasien ini tertular Kasus 7 karena memang suami-istri," lanjut dr. Yurianto.

Selain itu, ia juga menambahkan bahwa kondisi Kasus 8 saat ini sedang ke arah berat. Karena sebelum kontak dengan Kasus 7 sudah sakit lebih dahulu, tetapi bukan karena virus COVID-19.

2. Kasus 9, Usai Bepergian dari Luar Negeri

Sementara itu, pasien corona di Indonesia yang merupakan Kasus 9 adalah seorang perempuan berusia 59 tahun, dengan kondisi sakit ringan hingga sedang.

"Sebagaimana Kasus 7 dan 8, Kasus 9 terjangkit COVID-19 setelah pergi dari luar negeri. Pasien ini imported case, bukan bagian dari klaster manapun," kata dr. Yurianto.

3. Kasus 10 dan Kasus 11, Warga Negara Asing yang Lakukan Kontak dengan Kasus 1

Kasus 10 adalah laki-laki warga negara asing, yang memiliki kondisi sakit ringan hingga sedang. Menurut dr. Yurianto, Kasus 10 merupakan bagian dari penelusuran terhadap Kasus 1.

Begitu juga pada Kasus 11, perempuan dengan kewarganegaraan asing usia 54 tahun, yang melakukan kontak dengan Kasus 1.

"Pasien nomor 11, WNA perempuan berusia 54 tahun. Kondisi tampak sakit ringan hinga sedang. Ini bagian tracing contact dengan Kasus 1," terang dr. Yurianto.

Baca Juga: Pentingnya Tingkatkan Imunitas Tubuh dari Infeksi Virus Corona Novel (COVID-19), Berikut Tipsnya

4. Kasus 12, Didapat dari Penelusuran Kontak Kasus 1

Sementara itu, Kasus 12 adalah seorang laki-laki berusia 31 tahun, dr. Yurianto mengatakan bahwa Kasus 12 ini mengalami kondisi sakit yang ringan hingga sedang.

Sama seperti Kasus 10 dan 11, Kasus 12 juga merupakan hasil penelusuran kontak dari Kasus 1.

5. Kasus 13, Sebagai Pasien Usia Termuda

Kasus 13 merupakan pasien corona di Indonesia dengan usia yang termuda, yaitu 16 tahun. Dijelaskan, bahwa Kasus 13 didapat dari tracing sub-klaster Kasus 3.

"Selanjutnya, pasien dengan identifikasi 13, perempuan berusia 16 tahun. Ini tracing dari sub-klaster pasien nomor 3," katanya.

6. Kasus 14, Usai Bepergian dari Luar Negeri

Sementara itu, Kasus 14 adalah seorang laki-laki berusia 50 tahun dengan kondisi sakit ringan hingga sedang. Menurut dr. Yurianto, Kasus 14 tertular COVID-19 setelah pergi ke luar negeri.

7. Kasus 15 Hingga Kasus 19, Termasuk Imported Case

Pasien corona di Indonesia untuk Kasus 15 dan Kasus 16 sama-sama merupakan imported case.

"Kasus 15 merupakan perempuan berusia 43 tahun. Kasus 16 adalah perempuan berusia 17 tahun, dan tertular karena melakukan kontak dengan Kasus 15," jelas kata dr. Yurianto.

Sementara untuk Kasus 17, adalah laki-laki berusia 56 tahun yang terjangkit COVID-19.

Untuk Kasus 18, merupakan laki-laki berusia 55 tahun. Dijelaskan oleh dr. Yurianto, bahwa Kasus 17 dan 18 sama-sama tertular COVID-19 setelah berkunjung ke luar negeri.

"Kasus 19, laki-laki usia 40 tahun. Ini juga imported case," kata dr. Yurianto.

Baca Juga: Dari Persatuan Dokter Emergensi Indonesia, Ini Panduan Mencuci Tangan untuk Hindari Virus COVID-19

Presiden Jokowi Meminta Masyarakat Tetap Tenang Namun Waspada

pasien corona di Indonesia-3.jpg

Foto: setkab.go.id

Lebih lanjut, dr. Yurianto menjelaskan bahwa penting untuk melakukan antisipasi terhadap penularannya, sehingga tidak ada lagi sumber penularan di masyarakat.

"Bagi kita sekali lagi saya tekankan, status positif atau bukan itu tidak akan banyak berpengaruh pada rawatan pasiennya, tetapi lebih cenderung pada bagaimana antisipasi penularannya," jelasnya.

Ia melanjutkan, "Karena tentunya kita harus melakukan contact tracing sehingga kita bisa dengan cepat mencari, menemukan, dan mengisolasi, supaya tidak ada sumber penularan lagi di masyarakat yang semakin membuat tidak terkendalinya sebaran dari penyakit ini. Ini yang penting."

Selain itu, dr. Yurianto mengatakan pihaknya mendapatkan arahan dari Presiden Joko Widodo, agar masyarakat tetap tenang tetapi selalu waspada, mengingat penyakit ini memiliki gejala ringan bahkan asimptomatik.

"Barusan kami mendapat arahan lagi dari Presiden bahwa masyarakat diminta untuk tetap tenang, karena kecenderungan penyakit ini sekarang secara klinis tidak seperti yang kita bayangkan di Wuhan," tutupnya.

Artikel Terkait