COVID-19
13 Agustus 2020

Pasien Covid yang Sembuh Mengalami Kebotakan dan Kerontokan Rambut?

Infeksi yang disebabkan oleh virus Corona yakni COVID-19 tak dipungkiri menyebabkan berbagai komplikasi penyakit pada pasien.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Lolita
Disunting oleh Dina Vionetta

Infeksi yang disebabkan oleh virus Corona yakni COVID-19 tak dipungkiri menyebabkan berbagai komplikasi penyakit pada pasien.

Penelitian baru menunjukkan adanya masalah paru-paru, jantung, hingga kerontokan rambut pada pasien yang telah sembuh dari COVID-19.

Baca Juga: 5 Nutrisi Atasi Rambut Rontok

Keterbatasan Laporan Pasien soal Rambut Rontok dan Kebotakan

ex-pasien covid mengalami kebotakan?

Foto: Orami Photo Stocks

Penemuan terbaru ini diketahui setelah beberapa pasien yang tergabung dalam grup Facebook bernama Survivor Corps, kelompok orang-orang yang pernah terinfeksi COVID-19, melaporkan bahwa dirinya mengalami gejala rambut rontok setelah pulih dari COVID-19.

"Adakah yang mengalami rambut rontok yang parah setelah beberapa bulan sembuh dari infeksi COVID-19? Saya menderita COVID-19 pada bulan Maret dan mulai mengalami kerontokan parah pada bulan Juni. Kini rambut saya terlihat aneh. Bukan botak atau semacamnya, hanya saja saya mengalami kerontokan rambut yang parah," ujar salah satu anggota grup Facebook Survivor Corps.

Meskipun Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menginformasikan bahwa adanya efek samping yang ditimbulkan akibat isolasi setelah terinfeksi COVID-19, namun tidak ada data yang menginformasikan terkait kerontokan rambut pada pasien.

Sama halnya dengan CDC, penelitian yang dipublikasikan oleh JAMA berjudul Persistent Symptoms in Patients After Acute COVID-19 meneliti data dari 143 pasien yang pulih dari COVID-19 dan menemukan bahwa 44% pasien memiliki kualitas hidup yang memburuk.

Banyak pasien melaporkan batuk berkepanjangan, kelelahan, nyeri sendi, sulit bernapas, dan nyeri dada. Meski demikian, tidak ada pasien yang melaporkan adanya kerontokan rambut.

Baca Juga: Benarkah Sering Mencabut Uban Bikin Rambut Rontok?

Kerontokan Rambut dan COVID-19

ex-pasien covid mengalami kebotakan?

Foto: Orami Photo Stocks

Menurut Dr. Amesh A. Adalja, seorang pakar penyakit menular di Pusat Keamanan dan Kesehatan Johns Hopkins, fenomena kerontokan rambut yang dialami oleh pasien terjadi karena adanya tekanan fisiologis pada tubuh.

Selain itu, para dokter percaya bahwa pasien yang menderita COVID-19 memiliki kaitan dengan telogen effluvium, yakni kondisi seseorang mengalami kerontokan rambut berlebihan setelah melewati peristiwa hidup yang penuh tekanan. Meski begitu, kondisi ini hanya terjadi sementara.

Sekitar 85 hingga 90% rambut orang sehat berada di fase anagen atau fase pertumbuhan aktif.

Sedangkan sisanya berada dalam fase istirahat atau fase telogen.

Kerontokan rambut adalah hal normal jika seseorang berada di fase anagen selama dua hingga empat tahun kemudian seseorang akan masuk ke fase telogen yakni fase di mana rambut rontok diganti dengan rambut baru.

Sementara itu, orang yang sedang mengalami fase telogen effluvium, lebih banyak rambut yang 'beristirahat' sehingga mengakibatkan banyak rambut rontok, terutama pada bagian atas kulit kepala.

Beberapa faktor yang menyebabkan kondisi ini ialah pembedahan besar, stres yang signifikan, trauma fisik, penurunan berat badan, demam tinggi, penyakit parah, perubahan hormon secara mendadak, hipotioidisme, hipertiroidisme, hingga kekurangan zat besi.

Menurut Dr. Esther Freeman, penanggung jawab Dermatology COVID-19 Registry, mengungkapkan database manifestasi dermatologis COVID-19 yang di dalamnya memuat 1.000 kasus dari 38 negara menunjukkan adanya banyak laporan terkait kerontokan rambut usai sembuh dari COVID-19.

Freeman mencatat, kerontokan rambut bukanlah fenomena yang mengejutkan karena seseorang akan mengalami hal serupa sekitar 3 bulan setelah melewati peristiwa yang penuh tekanan di hidupnya.

Sementara itu, mantan pasien COVID-19 melaporkan mengalami kerontokan rambut parah pada awal bulan Juli sedangkan mereka tercatat mengalami infeksi pada bulan April hingga Mei.

Baca Juga: Benarkah Jus Bawang Bombay Bisa Mengatasi Rambut Rontok?

Apa yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Kerontokan Rambut Usai Sembuh dari COVID-19?

ex-pasien covid mengalami kebotakan?

Foto: Orami Photo Stocks

Meskipun rambut rontok yang disebabkan karena stres bersifat sementara, namun hal ini tentu membuat seseorang kebingungan dan bahkan menjadi semakin stres.

Karenanya, dokter menyarankan untuk mengkonsumsi makanan dengan kandungan nutrisi tepat terutama yang kaya zat besi dan vitamin D.

Suplemen rambut rontok juga diperlukan untuk memulihkan kesehatan rambut dan mengurangi kerontokan.

Melansir dari Harvard Medical Publishing, telogen effluvium tidak menimbulkan rasa sakit ataupun gejala lain seperti kulit bersisik hingga gatal.

Namun, apabila pasien yang mengalami kerontokan rambut merasakan sensasi seperti terbakar di kulit kepala, maka perlu memeriksakan diri ke dokter kulit.

Hingga kini virus corona telah menginfeksi lebih dari 188 negara di seluruh dunia.

Menurut World Meter, total sebanyak 18,73 orang terinfeksi COVID-19 dan korban jiwa lebih dari 700 ribu orang. Dari total jumlah tersebut, sebanyak 11,3 juta orang sembuh dari COVID-19.

Artikel Terkait