BALITA DAN ANAK
28 Juli 2020

Pemicu Meltdown pada Balita dan Cara Menghadapinya

Meltdown bisa karena autisme, ADHD, kecemasan, dan lain-lain
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fitria Rahmadianti
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Meltdown tampak mirip dengan tantrum, tapi sebenarnya berbeda. Cara meresponsnyapun tak sama. Mengenali pemicu meltdown pada anak bisa membantu Moms menghindarinya.

Meltdown adalah reaksi yang terjadi di seluruh tubuh akibat merasa kewalahan. Meltdown lebih ekstrem dari tantrum dan Si Kecil tidak bisa mengontrolnya. Perilaku ini bisa berhenti hanya jika Si Kecil sudah kelelahan dan/atau Moms dan Dads bisa menenangkannya.

Menurut situs web Understood, mengendalikan meltdown lebih rumit dibanding menjinakkan tantrum. Bukan perilaku Si Kecil yang perlu diperbaiki, melainkan kebutuhan fisik yang menyebabkan meltdown.

Mengetahui pemicu meltdown pada anak bisa membantu mencegah ledakan emosi Si Kecil. Kalaupun Moms tidak bisa menghentikan meltdown, ada cara merespons untuk membantu Si Kecil memperoleh kendali atas emosinya kembali.

Penyebab dan Pemicu Meltdown pada Anak

meltdown

Foto: Orami Stock Photos

1. Fisik

Menurut psikolog klinis Mona Delahooke, Ph.D., contoh pemicu fisik adalah kurang tidur, kadar gula darah yang naik turun, penyakit, nyeri fisik, atau konstipasi.

2. Gangguan Hiperaktivitas dan Defisit Atensi (ADHD)

Menurut studi Dr. Amy Roy dari Fordham University, lebih dari 75% anak yang mengalami ledakan kemarahan yang parah cocok dengan kriteria ADHD. Namun, belum tentu mereka terdiagnosis ADHD.

Kurangnya fokus, ketidakmampuan menyelesaikan tugas dan menoleransi kebosanan, serta gejala lain bisa berkontribusi terhadap terjadinya amukan.

Baca Juga: Gangguan Perilaku dan Emosi pada Anak, Haruskah ke Dokter?

3. Kecemasan

Si Kecil yang mengalami gangguan kecemasan, ketidakmampuan belajar yang belum terdiagnosis, serta pernah mengalami trauma atau pengabaian akan bereaksi berlebihan terhadap situasi yang tidak nyaman atau menyakitkan. Mereka akan mengalami meltdown saat stres.

Coba perhatikan bahasa tubuh dan ekspresi wajah Si Kecil, terutama di area sekitar mata. Ketika ekspresi dan posturnya menunjukkan respons stres, turunkan ekspektasi Moms. Berikan Si Kecil kehangatan dan pengertian.

4. Gangguan Belajar

Ketika Si Kecil bertingkah berulang kali di sekolah atau saat mengerjakan PR, mungkin ia memiliki gangguan belajar yang belum terdiagnosis. Atau ia memiliki pikiran aktif yang gampang mendeteksi ancaman terhadap dirinya.

Misalnya, soal matematika yang sulit membuat Si Kecil dengan cepat menyimpulkan bahwa ia tidak cukup pintar untuk lulus ujian. Ia kemudian mengalami reaksi otomatis yang memicu meltdown, bahkan sebelum ia menyadari pikirannya.

Si Kecil jadi frustrasi dan mudah marah. Alih-alih meminta bantuan, ia malah menyobek kertas tugas atau mengganggu siswa lain untuk menciptakan pengalihan dari masalah sebenarnya.

Kunci membantu anak yang seperti ini adalah dengan membicarakan apa yang Si Kecil rasakan untuk menenangkan reaksi tubuhnya terhadap stres.

5. Depresi dan Mudah Marah

Gangguan baru yang disebut disruptive mood dysregulation disorder (DMDD) menggambarkan bahwa anak-anak yang sering tantrum dan parah juga mengalami depresi dan sifat mudah marah. Menurut psikolog klinis Dr. Vasco Lopes, anak yang sangat mudah marah seperti air di suhu 900 derajat Celsius alias cepat mendidih.

“Orang tuanya seperti berjalan di atas kulit telur karena mereka harus merespons hal-hal sepele yang tidak sesuai keinginan anak,” kata Dr. Lopes.

Baca Juga: 3 Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial Emosional Anak

6. Autisme

Anak-anak autis cenderung kaku dan bergantung pada rutinitas yang konsisten demi kenyamanan emosi mereka. Perubahan yang tidak diharapkan diperparah dengan kurangnya keterampilan bahasa dan komunikasi untuk mengekspresikan apa yang mereka inginkan atau butuhkan membuat mereka rentan mengalami meltdown.

7. Masalah Pemrosesan Sensori

Cek apakah meltdown cenderung terjadi di waktu yang sama dengan pengalaman sensori tertentu. Jika Si Kecil selalu tantrum saat potong rambut atau dikeramas, indra perabanya mungkin overreaktif. Sementara itu kalau Si Kecil menolak makanan tertentu karena aromanya, sistem penciumannya yang mungkin bereaksi berlebihan.

Masalah pemrosesan sensori sering terlihat pada anak autis dan ADHD. Karena mereka kewalahan dengan stimulasi yang diterima, mereka jadi gampang mengamuk. Jika reaksi sensori ekstrem Si Kecil membuat Moms khawatir, terapis okupasi anak mungkin bisa membantu.

Baca Juga: Efek Mengejutkan Trauma Emosional pada Anak

Keterampilan yang Kurang, Pemicu Meltdown pada Balita

meltdown pada balita

Foto: Orami Stock Photos

Apapun pemicu meltdown pada balita, sebagian besar ahli kesehatan mental percaya bahwa anak-anak yang sering mengalami ledakan emosi kurang memiliki keterampilan tertentu yang dapat membantu mereka lebih baik dalam mengatasi situasi yang menimbulkan frustrasi, kecemasan, atau rasa marah. Keterampilan tersebut adalah…

  • Kontrol impuls
  • Pemecahan masalah
  • Penundaan gratifikasi
  • Negosiasi
  • Mengomunikasikan keinginan dan kebutuhan pada orang dewasa
  • Mengetahui apa yang tepat atau diharapkan di situasi tertentu
  • Menenangkan diri

Baca Juga: 5 Tips Mengendalikan Emosi pada Anak

Jika Si Kecil sering mengalami meltdown, cari tahu pemicu meltdown pada balita sehingga masalah bisa diatasi dan situasi bisa kembali terkendali.

Artikel Terkait