NEWBORN
23 September 2020

Mengenal Hiperbilirubinemia pada Bayi, Penyebab Penyakit Kuning pada Bayi

Cari tahu penyebab hiperbilirubin pada bayi kuning
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Intan Aprilia

Pernahkah Moms mendengar tentang bilirubin? Bilirubin adalah pigmen kuning yang ada di darah dan tinja semua orang. Tes darah bilirubin menentukan kadar bilirubin dalam tubuh.

Bilirubin dibuat secara alami saat tubuh memecah sel darah merah tua dan rusak. Saat masih dalam kandungan, sang ibu menyaring bilirubin melalui plasenta. Setelah lahir, bayi harus mengaturnya sendiri.

Terkadang hati tidak dapat memproses bilirubin di dalam tubuh. Ini bisa disebabkan oleh kelebihan bilirubin, penyumbatan, atau pembengkakan hati.

Baca Juga: Mengenal Penyakit Scabies, Keadaan Kulit Akibat Tungau yang Bisa Terjadi Pada Bayi

Ketika tubuh Moms memiliki terlalu banyak bilirubin, kulit dan bagian putih mata kita akan mulai menguning. Kondisi ini disebut penyakit kuning.

Pada orang dewasa dan anak-anak, gejala yang berhubungan dengan bilirubin tinggi dapat berupa penyakit kuning, kulit atau mata yang menguning, kelelahan, kulit gatal, urin berwarna gelap, dan nafsu makan rendah.

Kelainan pada bilirubin ini juga bisa terjadi pada bayi lho Moms. Apakah yang dimaksud dengan bilirubin pada bayi? Yuk kita lihat penjelasannya di bawah ini lebih lanjut Moms.

Mengenal Bilirubin pada Bayi

Penyakit kuning pada bayi

Foto: Orami Photo Stock

Moms mungkin pernah mendengar hiperbilirubinemia. Ini adalah istilah dari kuning pada bayi baru lahir. Kuning dalam istilah dunia kedokteran disebut dengan jaundice atau ikterus.

Ini terlihat pada sekitar setengah dari bayi yang baru lahir, biasanya selama 5 hari pertama kehidupan. Sebagian besar penyakit ini memiliki gejala yang ringan dan biasanya hilang dalam seminggu atau lebih.

Istilah jaundice (berasal dari bahasa Perancis jaune, yang berarti kuning) menunjukkan pewarnaan kuning pada kulit, sclera, atau membran mukosa sebagai akibat penumpukan bilirubin yang berlebihan pada jaringan.

Penyakit kuning ini sering ditemukan pada sekitar 60 persen bayi baru lahir yang sehat dengan usia gestasi atau kehamilan lebih dari 35 minggu.

Lebih memprihatinkan lagi karena penyakit ini dapat menyebabkan sejenis kerusakan otak yang disebut kernikterus jika tidak ditangani.

Sel darah merah pada neonatus (bayi usia kurang dari 1 bulan) berumur sekitar 70-90 hari, lebih pendek dari pada sel darah merah orang dewasa, yaitu 120 hari. Secara normal pemecahan sel darah merah akan menghasilkan heme dan globin.

“Heme akan dioksidasi oleh enzim heme oksigenase menjadi bentuk biliverdin (pigmen hijau). Biliverdin bersifat larut dalam air. Biliverdin akan mengalami proses degradasi menjadi bentuk bilirubin,” jelas dr. Robert Soetandio, Dokter Spesialis Anak, RS Pondok Indah – Bintaro Jaya.

Satu gram hemoglobin dapat memproduksi 34 miligram bilirubin. Produk akhir dari metabolisme ini adalah bilirubin indirect yang tidak larut dalam air dan akan diikat oleh albumin dalam sirkulasi darah yang akan mengangkutnya ke hati.

Bilirubin indirect diambil dan diproses di hati menjadi bilirubin direct. Bilirubin direct akan diekskresikan ke dalam sistem empedu oleh transporter spesifik. Setelah diekskresikan oleh hati akan disimpan di kantong empedu berupa empedu.

Proses minum seseorang akan merangsang pengeluaran empedu ke dalam duodenum.

Bilirubin direct tidak diserap oleh epitel usus tetapi akan dipecah menjadi sterkobilin dan urobilinogen yang akan dikeluarkan melalui tinja dan urin.

Baca Juga: Penyakit Kuning Bisa Terjadi pada Orang Dewasa, Ini Penjelasannya!

Menurut dr. Robert, sebagian kecil bilirubin direct akan didekonjugasi oleh enzim glukoronidase yang ada pada epitel usus menjadi bilirubin indirect.

Bilirubin indirect akan diserap kembali oleh darah dan diangkut kembali ke hati, terikat oleh albumin ke hati, yang dikenal dengan sirkulasi enterohepatik.

Bayi baru lahir dapat mengalami hiperbilirubinemia pada minggu pertama kehidupannya yang disebabkan oleh:

  • Meningkatnya produksi bilirubin (hemolisis)
  • Kurangnya albumin sebagai alat pengangkut
  • Penurunan uptake/peresapan oleh hati
  • Penurunan konjugasi bilirubin oleh hati
  • Penurunan ekskresi bilirubin
  • Peningkatan sirkulasi enterohepatik

Kadar bilirubin serum total (BST) lebih dari 5 mg/dL disebut dengan hiperbilirubinemia.

Hiperbilirubinemia umumnya normal, hanya 10 persen yang berpotensi menjadi abnormal (ensefalopati bilirubin).

Hiperbilirubinemia mengarah abnormal apabila:

  • Timbul pada saat lahir atau pada hari pertama kehidupan
  • Kenaikan kadar bilirubin berlangsung cepat (lebih dari 5 mg/dL per hari)
  • Bayi lahir prematur
  • Kuning menetap pada usia 2 minggu atau lebih
  • Peningkatan bilirubin direct lebih dari 2 mg/dL atau lebih dari 20 persen dari BST

“Warna kuning pada bayi dimulai dari wajah, dan turun ke daerah dada dan jika kadarnya tinggi bisa sampai kaki. Jika kuningnya meluas sampai ke kaki, kadar bilirubinnya akan semakin tinggi,” terang dr. Robert.

Moms dapat memeriksa anak kuning dengan menekan hidung atau dahi. Jika kulitnya kuning, warna kuning akan tampak saat tekanan jari dilepas.

Hal ini dapat dilakukan pada bagian lain di atas tulang yang menonjol seperti dada, bahu, dan tungkai kaki.

Dilanjutkan dengan pemeriksaan kadar bilirubin darah, atau pemeriksaan lain untuk menyingkirkan penyebab kuning yang lain.

Baca Juga: Manfaat Tes Glukosa Pada Bayi Baru Lahir

Sebelum keluar dari rumah sakit biasanya dokter spesialis anak akan melakukan pemeriksaan fisik dan atau laboratorium untuk memantau kadar kuning si bayi.

Tanda bahaya bayi kuning, sehingga perlu dibawa ke dokter antara lain:

  • Warna kuning sampai lutut atau lebih bawah, tampak kuning lebih gelap
  • Demam
  • Sulit minum
  • Tidurnya lebih lama dibandingkan biasanya dan sulit dibangunkan
  • Anak rewel dan sulit ditenangkan
  • Tubuh tampak melengkung atau leher bayi kaku

Komplikasi kuning jika terlalu tinggi dapat merusak otak yang tidak dapat diperbaiki (acute bilirubin encephalopathy/kernicterus atau chronic bilirubin encephalopathy).

Baca Juga: Gejala Penyakit Kuning pada Anak, Segera ke Dokter!

Pengobatan Bilirubin pada Bayi

Penyakit kuning pada bayi

Foto: Orami Photo Stock

Ada beberapa cara yang bisa Moms lakukan untuk mengobati bilirubin pada Si Kecil. Apa saja caranya? Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan.

1. Bantu Si Kecil untuk Sering Minum

Moms perlu memantau jumlah ASI yang diberikan kepada bayi apakah sudah mencukupi atau belum.

Sebagai informasi, pemberian ASI sejak lahir dan secara teratur untuk anak adalah minimal 8 kali sehari.

Moms harus memberikan anak ASI. Air putih, air gula, dan formula pengganti sebaiknya tidak diberikan.

Tak hanya itu, Moms juga perlu memantau kenaikan berat badan anak serta frekuensi buang air besar dan buang air kecilnya.

Jika kadar bilirubin mencapai 15 mg/dL, perlu melakukan penambahan volume cairan dan stimulasi produksi ASI dengan melakukan pemerasan payudara.

Namun, bila kadar bilirubin mencapai kadar 20 mg/dL, perlu melakukan terapi sinar jika terapi lain tidak berhasil.

2. Melakukan Fototerapi

Fototerapi ini adalah penyinaran yang dilakukan dengan sinar khusus yang memiliki panjang gelombang tertentu.

3. Transfusi Tukar

Moms mungkin bertanya, apa itu transfusi tukar? Ini dilakukan apabila kadar bilirubin terlalu tinggi sehingga menimbulkan komplikasi ke otak anak.

Ketakutan yang berlebihan dalam menghadapi hiperbilirubinemia dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan, seperti meningkatnya kecemasan ibu, menurunnya aktivitas menyusui, terapi yang tidak perlu, dan biaya yang berlebihan.

Baca Juga: Anak Citra Kirana Sempat Dirawat Karena Bilirubin Tinggi, Berikut Informasinya

Namun, menyepelekan kadar bilirubin yang tinggi juga akan membahayakan perkembangan otak si kecil. Oleh karena itu, pengobatan hiperbilirubinemia harus sesuai dan efektif.

Artikel Terkait